Lubukgambir's Blog

Segala hal tentang Pasisie Salatan

Kitab-kitab Hindu


Ada beberapa kitab yang dianggap suci oleh umat Hindu, sebagai berikut:

1. Veda (baca : Weda), merupakan sastra tertua dalam sejarah peradaban manusia, disusun kembali oleh Byasa (Vyasa – hidup di sekitar abad 18 SM hingga abad 15 SM). Veda dibagi menjadi 4 bagian : Rigweda, Yajurweda, Samaweda dan Atharwaweda. Keempat weda tersebut juga disebut sebagai Sruti (Yang Didengar). Weda juga dibagi menjadi 4 lagi yaitu Samhita, Brahmana, Aranyaka dan Upanishad.

2. Vedanga (baca : Wedangga), merupakan alat bantu untuk memahami Weda. Wedangga terbagi 4 pula yaitu :

  1. Siksha (śikṣā): fonetika dan fonologi (sandhi).
  2. Chanda (chandas): irama.
  3. Vyakarana (vyākaraṇa): tata bahasa.
  4. Nirukta (nirukta): etimologi.
  5. Jyotisha (jyotiṣa): astrologi dan astronomi.
  6. Kalpa (kalpa): ilmu mengenai upacara keagamaan.

3.  Ittihasa (Kisah-kisah, Kejadian Nyata), terdiri dari Ramayana ( disusun oleh Resi Walmiki) dan Mahabarata (disusun oleh Resi Vyasa).

4. Smrti, bukan “wahyu”, melainkan sastra utama. Termasuk kedalamnya adalah:

  1. Dharmasastra, atau sastra hukum dan perundang-undangan.
  2. Itihasa, atau sejarah.
  3. Purana, sastra keagamaan.
  4. Sutra.
  5. Agama
  6. Darshana, filsafat Hindu. Yang termasuk didalamnya adalah apa yang disebut Sad Darshana, enam ajaran filsafat Hindu, yaitu:SamkhyaYogaMimamsaVaisisekaNyaya dan Vedanta.

5. Purana (Cerita Kuno), berisi mitologi dan legenda kuno.

6. Bagavad Gita (Nyanyian Tuhan), bagian dari kisah Mahabarata.

7. Sutra (Benang), berisi pepatah.

Sejarah Pariaman


Kota pelabuhan Pariaman beberapa abad lalu telah disinggahi pedagang-pedagang dari Nusantara maupun mancanegara. Saat itu orang Minangkabau di pedalaman Sumatra Barat memproduksi emas, kertas, madu, kemiri, serta hasil bumi lokal untuk dijual di pelabuhan. Awal abad ke-17, Sultan Aceh datang untuk mengusai tempat dan berikutnya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang menguasainya. Masyarakat Pariaman yang hidup menderita dalam penjajahan kemudian melakukan pemberontakan selama hampir satu abad untuk memaksa penjajah meninggalkan tempat yang indah ini.

Sejarah Pariaman sudah dimulai jauh sebelum kedatangan VOC. Catatan Tome Pires (1446-1524), yaitu pelaut Portugis dari Kerajaan Portugis di Asia mencatat adanya lalu lintas perdagangan antara India dan Pariaman, juga antara Tiku dan Barus. Pires juga mencatat perdagangan kuda di antara orang Batak dengan orang Sunda.

Menurut laporan Tomé Pires dalam Suma Oriental yang ditulis antara tahun 1513 and 1515[2], kota Pariaman ini merupakan bagian dari kawasan rantau Minangkabau. Dan kawasan ini telah menjadi salah satu kota pelabuhan penting di pantai barat Sumatera. Pedagang-pedagang India dan Eropa datang dan berdagang emaslada dan berbagai hasil perkebunan dari pedalaman Minangkabau lainnya.

Tahun 1527, dua kapal dagang Prancis membawa, Jean dan Raoul Parmentier mengunjungi Pariaman dan berlabuh di Tiku serta Indrapura. Akan tetapi kedatangan mereka tidak meninggalkan catatan signifikan di wilayah ini. Tanggal 21 November 1600, untuk pertama kalinya, Belanda datang ke Pariaman dan Tiku di bawah pimpinan Paulus Van Cardeen yang berlayar ke arah selatan dari Aceh dan Pasaman. Cornelisde Houtman, salah satu pelaut Belanda juga pernah mengunjungi Pariaman kemudian pindah keselatan yaitu Sunda Kelapa atau Jakarta sekarang.

Tahun 1662, dibuat perjanjian antara VOC dengan pemimpin Minangkabau di Padang. Perjanjian yang kemudian di sebut Perjanjian Painan itu bertujuan untuk monopoli dagang di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Sayang, rakyat Minang mengamuk pada tahun 1666 dan menewaskan perwakilan VOC di Padang bernama Jacob Gruys. Arung Palakka kemudian dikirim ke Minangkabau dalam ekspedisi yang dinamakan Ekspedisi Verspreet. Bersama pasukan Bone, ia berhasil meredam dan mematikan perlawanan rakyat Minangkabau hingga menaklukan seluruh pantai barat Sumatera, termasuk memutus hubungan Minangkabau dengan Aceh. Kekuasaan VOC diperluas hingga Ulakan di Pariaman. Di tempat inilah,Arung Palakka diangkat sebagai Raja Ulakan.

Arung Palakka sangat populer sebab berhasil menaklukan Sumatra dan membumihanguskan perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC. Arung Palakka menyimpan dua sisi diametral, di satu sisi hendak membebaskan Bone, namun di sisi lain justru menaklukan daerah lain di Nusantara

Tahun 1670, kota Pariaman berhasil direbut oleh VOC (Belanda) dari tangan Aceh. Tapi semenjak dibangunnya pelabuhan Teluk Bayur di kota Padang, maka pamor pelabuhan dan kota Pariaman menjadi mundur.

Tahun 1686, catatan W. Marsden menyebut bahwa orang Pryaman atau orang Pariaman telah melakukan kontak dengan Kerajaan Inggris. Saat itu, dipimpin Raffles, orang-orang India dalam kesatuan tentara Sepoy dari British Raj, dibawa ke kota pelabuhan tersebut. Orang-orang Sepoy dari India inilah yang kemudian memperkenalkan tradisi Muharram kepada penduduk setempat dengan nama Tabuik. Meskipun kontak tersebut tidak terlalu intensif tetapi telah meninggalkan jejak yang kemudian berkembang menjadi salah satu warisan budaya bernama Tabuik.

Tahun 1795, angkatan perang Inggeris mendarat dan segera dapat merebut pos-pos Kompeni (V.O.C) di Padang tanpa perlawanan yang berarti. Dengan jatuhnya pos-pos Belanda di Padang, maka pos-pos mereka di daerah pesisir seperti di Salido, Painan, Pariaman dan Tiku juga menyerah pada Inggeris.

 

Sumber rujukan:
1. http://oldlook.indonesia.travel/id/destination/624/pariaman

2. http://www.tempo.co/read/news/2012/11/11/198441003/Menyusuri-Sudut-Kota-Pariaman

3. http://tikamsamurai.wordpress.com/2013/02/07/giring-giring-perak-episode-parang-pariamanbagian-2/#more-911

4. http://id.wikipedia.org/wiki/Arung_Palakka

5. http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pariaman#Sejarah

Terkurung di Perantauan


telah menjelang Bukit Pulai, tuan… lalu menurun ke Teluk Betung, oi… yang bermula kini dendang dimulai bukan untuk membawakan hati gembira) lepas dari Teluk Betung hari sedang pukul tujuh yang bernyanyi oh tuan…bukannya riang, tapi untuk penghibur hati yang rusuh) Rabu hari pasarnya Sungai Tunu ramai oleh anak Koto Gadang semenjak bulan ini muncul darah tak bisa lagi tenang, oh tuan.. turang diturang jala buruk penjala rambang di muara heranlah pandan dan durian asing ruang berlain isi Pilagan anak Punai Tanah Gila mengeram mangkuk jua Perahu diberi cadik Penyongsong riak dan gelombang Kuda melompat batu belah Turun ke lereng pendakian Dibelah betung dibelah Ambil seruas untuk tusuk gigi Kalau kuhitung nasib yang buruk Sebanyak rambut di kepala Heranlah badan dengan bagian Asing orang berlain diri sejak secekam dari tanah besar diangkat buruk jua semenjak badan bisa membalik besar ditimang nasib malang jangan menduakan gerak Allah suratan sudah dengan janjian kita dibawah perintah Allah apa yang terjadi akan didapati kalau Painan pasar Salido ramai oleh anak orang Bayang entah pabila nasib begini akan dipisah dari yang malang Kalau Salido di tanah orang Bayang Painan pasarnya ramai Makanya ku turun dari jenjang Karena melarat di negeri kalau jadi pula pergi ke Bayang singgah sebentar di Api-api merantau jangan disangka senang kadang-kadang merusuh hati kalau jadi pula pergi ke Kambang di Surantih singgah sebentar kalau jadi besok ke rantau orang adik di kampung jelas akan ditinggal, oh adik.. kalau sudah tiba di pasar Kambang ada pula orang yang akan menjemput mengajak ke Padang Marapalam kalau tiba besok adik di rantau orang hidup umpama limau hanyut entah dimana tempat bermalam, oh adik… kalau lepas dari Air Haji hendak menjelang ke Negeri Lunang sudah kulihat ke badan diri siang tersiksa malam tak senang, oh tuan.. kalau lepas dari Siguntur hendak menjelang negeri Lunang orang tercinta ke yang mujur kita terpinta ke yang malang mobil bernama si Erlindo kembali menambang dari Bayang daripada di rantau badan sengsara baik balik kita ke kampung, oh ibu…

video disini :
http://www.youtube.com/watch?v=jeSuySu0vfE

Sejarah Pesisir Selatan era Hindia-Belanda


Zaman Hindia-Belanda

Awal Mei 1662 VOC mendapat konsesi untuk berdagang di pantai barat Sumatra yang disahkan dengan Perjanjian Painan yang diprakarsai oleh Groenewegen yang membuka pintu bagi Belanda untuk mendirikan loji di kota Padang, selain kantor perwakilan mereka di Tiku dan Pariaman. Dengan alasan keamaman kantor perwakilan di kota Padang dipindahkan ke pulau Cingkuk hingga pada tahun 1667 dipindahkan lagi ke kota Padang. Bangunan itu terbakar pada tahun 1669 dan dibangun kembali setahun kemudian. Mereka sering diserang musuh yang berasal dari Tarusan, Bayang dan Indrapura. 19 Agustus 1621 dengan peristiwa penolakan tegas pembesar Pesisir Selatan terhadap kekuatan asing yang berpraktik imperialisme dan mengarah kolonialisme dan pengakuan Pagaruyung terhadap Pesisir. Pada tanggal 7 Juni 1663, Perang Bayang (1663-1711), perlawanan rakyat sarat dengan rasa nasionalis menolak Belanda membuat loji VOC pertama di kawasan Sumatera Barat, yakni di Pulau Cingkuk tahun 1662.

6 Juli 1663, Perjanjian Painan lanjutan dari Sandiwara Batangkapas. Sandiwara menolak kebijakan politik Sultan Iskandar Muda (Aceh) menjaga ketat bahkan hendak menutup kota pantai pelabuhan Samudrapura, Indrapura dalam berdagang lada dan emas. 28 Januari 1667, pertemuan tingkat tinggi antara Raja Minangkabau dan Belanda yang salah satu solusinya adalah pengakuan terhadap eksistensi Pesisir Selatan sebagai bagian integral wilayah sub kultur Minangkabau.

6 Juni 1701, kemarahan rakyat Pesisir Selatan terhadap tipuan Belanda menawarkan jasa memadamkan huru-hara sebagai mantel praktik imperialism mengarah colonialism, dengan membakar loji VOC di Indrapura. Tahun 1780-1784 pecah perang antara Inggris dan Belanda di Eropa. Peperangan ini merambat pula sampai ke daerah-daerah koloni yang mereka kuasai di seberang lautan. Pada tahun 1781 Inggris menyerang kedudukan Belanda di Padang dari pusat kedudukannya di Bengkulu, dan Padang serta benteng Belanda di Pulau Cingkuak di hancurkan.

Dengan demikian pusat perdagangan berpindah ke Bengkulu. Setelah terjadi perjanjian antara kerajaan Belanda dengan kerajaan Inggris maka Inggris terpaksa mengembalikan seluruh daerah yang sudah direbutnya.

Bangsa Prancis yang pernah datang ke Sumatera Barat, dengan armada bernama Le Ville de Bordeaux sebagai bajak laut yang dipimpin oleh Le Me dengan anak buahnya mendarat di Pantai Air Manis Padang. Hal ini terjadi pada tahun 1793. mereka dapat merebut Kota Padang dan mendudukinya selama lima hari. Setelah mereka merampok kota, mereka pergi lagi. Pada 30 November 1795 Inggris merebut Padang lagi, karena terlibat perang lagi dengan Belanda.

Segera setelah menduduki Padang inngris yang datang sebagai “teman” diterima oleh masyarakat Padang. Inggris mebuka perwakilanya di Padang dan Pulau Cingkuak. Akibat adanya perjanjian London pada Tahun 1814, Inggris harus mengembalikan bekas jajahan belanda kembali ke tangan Belanda. Bangsa yang dipimpin oleh James du Puy menerima Sumatera Barat dari tangan Ingris pada tanggal 19 Mei 1819. Setelah penyerahan itu, maka daerah yang diterima tersebut dijadikan sebagai daerah administratif setingkat Residentie dan diberi nama Residentie Padang. James du Puy sebagai residen dan diangkat A.E van den Berg sebagai asisten Residen.

Pembagian wilayah administrasi di zaman Hindia-Belanda

Pada Tahun 1825 de Stuers membagi Residentie van Padang en Onderhoorigheden menjadi tiga Afdelinggen, dimana kawasan pesisir dimulai dari Ujung Masang hingga Inderapura dinamakan Zuidelijke Afeeling ( Afdeling Selatan ). Pada tahun 1826 jumlah Afdelinggen menjadi empat. Dan Zuidelijke Afeeling dimasukan Onderafdeeling der Eilaiden, yaitu unit yang mengurus pulau yang terdapat dikawasan barat Sumatera Barat yang ditempat di Pulau Batu seorang Gezaghebber.

Setelah Plakat Panjang diumumkan pada tahun 1833, Belanda dibawah pimpinan Elout tetap membagi administrasi daerah jajahannya dengan empat Afdelinggen. Kawasan Padang sampai Inderapura selatan diberinama Afdeeling Padang en Onderboorigbeden. Afdeling ini dipimpin oleh seoran Residen.

Berdasarkan besluit dari Gouvernement Kommisaris Cochius tertanggal 29 November 1837 diputuskan bahwa status keresidenSumatera Barat ditingkatkan menjadi Gouvernement sehingga namanya berubah menjadi Gouvernement van Sumatra’s Westkust dengan pimpinan tertinggi adalah Gubernur.

Gouvernement van Sumatra’s Westkust dibagi menjadi dua residen, yaitu Residen van Padang dan Residen Noordelijke (Residen Air Bangih). Pesisir Selatan secara administrasi adalah salah satu dari lima Afdelling dari Residen van Padang dengan nama Afdelling Pulau Cingkuak ( Controleur kelas 3) dengan daerah Bayang, Salido, Painan, Batangkapas, Tello (Taluak), Taratak, Surantiah, Kambang, Palagai, Sungaitoro (Sungai Tunu), Pangisan (Punggasan), Air Haji dan Inderapura.

Pada tanggal 13 April 1841 pemerintah Belanda mengeluarkan Besluit No 1 tentang reorganisasi pemerintahan Sumatra’s Westkust yang isi besluit tersebut tersebut membentuk 9 Afdeelingen . Afdeelingen itu terdiri dari beberapa Districten. Afdeelingen tersebut adalah :

  1. Afdeeling Padang en Ommelanden ; Terdiri dari Distrik-Distrik Pauh, Kota Tengah dan Tarusan.
  2. Afdeeling Padangsche Zuider-districten ; Terdiri dari Distrik-Distrik Bacan (Bayang), Salido, Painan, Batang Kapas, Tello (Taluak), Taratak, Surantiah, Priangpara (Ampiang Parak), Kambang, Plangi (Palangai), Sungai Tunu, Pangisan (Punggasan), Air Haji, dan Indrapura.
  3. Afdeeling Pariaman : terdiri dari Distrik-Distrik Pariaman Dihilir, Pariaman Diulu, Pilubang, Ulakan, IX Koto, Lubuak Aluang, VII Koto, V Koto, X Koto, Tiku, Manggopoh,Katiagan, Bawan dan Kragan,
  4. Afdeeling Tanah Dtar; Terdiri dari Distrik-Distrik Tanah datar, XX Koto, IX Koto, Simawang, Batipuah.
  5. Afdeeling Agam; Terdiri dari Distrik-Distrik Agam, Matua dan IV Koto, Danau, VIII Koto, VII Lurah, Bonjol, Binjai, IV dan VI Koto.
  6. Afdeeling 50 Koto. Terdiri dari Lima Puluh Koto, Halaban, Lintau, Buo, Kota Tujuah, XIII Koto.
  7. Afdeeling Air Bangis, Natal dan Daerah-daerah sekitarnya hingga Perbatasan
  8. Afdeeling Rao: Terdiri dari Distrik-Distrik Rao, Lubuk Sikaping, Ophir dan daerah-daerah yang terletak di sebelah timur Rao, sampai dimana kekuasan pemerintah berlaku.
  9. Afdeeling Mandailing dan Angkola: Terdiri dari Distrik-Distrik Mandahiling Besar, Mandahiling Kecil, Angkola, Ulu dan Pakantan.

Pada Besluit Nomor 1 tertanggal 13 April 1841 juga ditegaskan bahwa pimpinan tertinggi di Sumatera Barat tetap berada di tangan Gubernur ( yang tetap menjadi penguasa tertingi dalam pemerintahan sipil dan militer). Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Gubernur dibantu oleh tiga orang Asisten Residen yang membawahi beberapa Afdeelingen.

Belanda pada awalnya tidak menganggu system Pemerintahan pribumi yang telah ada selama ini , seperti Kelarasan yang dipimpin oleh Tuanku Lareh dan Nagari yang dipimpin oleh Wali Nagari.

Reorganisasi pemerintahan terjadi pertamakali pada 7 Desember 1842 dengan besluit Nomor 1. dimana pembagian Administrasi van Gouvernement Sumatera’s Westkust adalah sebagai Berikut:

  1. Keresidenan Padangsche Benedenlanden
  2. Keresidenan Padangsche Bovelanden
  3. Keresidenan Tapanuli.

Residentie Padangsche Benedenlanden ( ibu Kota Padang ) dengan empat Afdeling

  1. Afdeling Padang en Ommelanden,
  2. Afdelling Air Bangis dan Rao,
  3. Afdeling Pariaman, dan
  4. Afdeeling Padangshe Zuider Districten dengan ibukota Painan yang memiliki 14 distrik ( Bacan (Bayang), Salido, Painan, Batang Kapeh, Tello (Taluak), Taratak, Surantiah, Priangpara (Ampiang Parak), Kambang, Plangei (Palangai), Sungai Tunu, Pangisan (Punggasan), Air Haji dan Inderapura)

Reorganisasi pemerintahan kembali terjadi pada 1 Januari 1865 dimana pembagian Residentie Padangsche Benedenlanden ( ibu Kota Padang ) dengan empat Afdeling :

  1. Afdeling Padang,
  2. Afdelling Air Bangis dan Rao,
  3. Afdeling Pariaman, dan
  4. Zuidelijke Afdeeling van Padang Ibukota Painan terdiri dari tiga distrik yaitu :
    1. Distrik Painan (ibukota Painan),
    2. Distrik Air Haji (ibukota Balai Salasa),
    3. Distrik Indrapura (ibukota Inderapura) dan pada tahun 1897 Zuidelijke Afdeeling van Padang berubah nama menjadi Afdeeling Painan dengan ibukota Painan )

Berdasarkan Lembaran Negara No.418 tahun 1905 tanggal 1 Januari 1905, yang diresmikan pada tanggal 1 Desember 1908 dengan Asisten Residen WD van Drunen Littel , Kabupaten Painan terdiri dari 3 Kecamatan ,yaitu :

  1. Kecamatan Painan
    1. Distrik Painan,
    2. Distrik Batangkapeh,
    3. Distrik Bayang,
    4. Laras Pulutpulut dan Tarusan.
  2. Kecamatan Aihaji
    1. distrik Airhaji,
    2. Nagari Ampingparak,
    3. Nagari Kambang,
    4. Nagari Lakitan,
    5. Nagari Palangai,
    6. Nagari Sungaitunu,
    7. Nagari Pangasan,
    8. Nagari Airhaji)
  3. Kecamatan Indera Pura
    1. Keregenan Inderapura,
    2. Nagari Inderapura,
    3. Daerah Tapan,
    4. Daerah Lunang,
    5. Daerah Silaut.

Reorganisasi besar dilakukan pada bulan November tahun 1914. Waktu itu, Tapanuli menjadi residen tersendiri lepas dari Sumatera Barat. Sedangkan Residensi Padangse Bovelanden dihapus. Residensi Sumatera Barat dibagi atas 8 afdeling :

  1. Padang ibu kota Padang,
  2. Painan ibukota Painan .
  3. Batipuah dan Pariaman ibukota Padang Panjang,
  4. Agam ibukota Fort dekock,
  5. Lubuk Sikapiang ibukota Lubuak Sikapiang,
  6. Limopuluahkota ibukota Payakumbuh,
  7. Tanah Datar ibukota Sawahlunto, dan
  8. Solok Ibukota Solok.

Afdeling Painan dibagi atas 2 (dua) Onderafdeling, 3 (tiga) Distrik dan 6 (enam) Onderdistrik, yaitu :

  1. Onderafdeling Painan dengan distrik :
    1. Distrik Painan dengan Demang Agus Ibrahim Kortowongso, dengan 2 onderdistrik :
    2. onderdistrik Painan langsung dibawah Demang Painan,
    3. onderdistrik Bayang dengan Pulut-pulut Asisten Demang Sutan Tahar Baharuddin Sutan Rajo Alamsyah di Pasarbaru.
      1. Onderafdelng Balai Salasa dengan dua distrik :
        1. Distrik Balai salasa Demang Bagindo Muhammad Jamil, dengan 2 onderdistrik:
        2. onderdistrik Balaisalasa ( dengan Palangai, Sungaitunu, Pungasan dan Airhaji) langsung dibawah Demang Balaiselasa.
        3. onderdistrik Inderapura Asisten Demang Sutan Adamsyah Datuk Rajo Adil
          1. Distrik Batangkapeh demang Nasir Sutan Saripado di Pasarkuok, dengan 2 onderdistrik:
          2. Onderdistrik Batangkapeh (tanpa sirantiah dan Taratak ) langsung dibawah Demang Balaisalasa.
          3. Onderdistrik Kambang (dengan Sirantiah / Surantih, Taratak, Ampiangparak, dan Lakitan). Asisten Demang Marah Nurdin Sutan Marajo

Setelah pemberontakan Silungkang pada tahun 1929 kembali dilakukan reorganisasi dari 8 Afdeling dikurangi menjadi 6 Afdeling , yaitu :

  1. Padang ibu kota Padang,
  2. Kerinci -Painan ibukota Sungai panuah.
  3. Tanah Datar ibukota Padang Panjang,
  4. Agam ibukota For dekock,
  5. Limopuluahkota ibukota Payakumbuh,
  6. Solok. Ibukota Sawahlunto

Afdeling Kerinci – Painan dibagi atas 2 (dua) Onderafdeling,yaitu :

  1. Onderafdeling Kerinci-Inderapura ibukota Sungai Penuh,
  2. Onderafdeling Painan ibukota Painan.

Penataan yang dinyatakan pada besluit Gubernur Jenderal tertanggal 10 September 1935 no.26 dan dimuat juga dalam Staatsblad van Nederland –indie tahun 1935 no 450, Jumlah Afdeling kembali dikurangi. Afdeling Kerinci-Painan di hapus. Daerah yang sebelumnya menjadi bagian Afdeling Kerinci-Painan dimasukan kedalam Afdeling Zuid Benedenlanden dengan ibukotanya Padang, yang terdiri dari 4 Onderafdeling :

  1. Padang ibukota Padang terdiri dari distrik Padang yang dibagi dalam dua onderafdeling, yaitu :
    1. Lubuk Bagaluang dan
    2. Pauah-Koto Tangah,
  2. Kerinci-Inderapura ibukota Sungai Penuh yang terdiri dari distrik Kerinci dan dibagi lagi kedalam onderdistrik
    1. Kerinci Tengah,
    2. Kerinci Ulu dan
    3. Kerinci Hilir, dan
    4. onderdistrik Istemewa Inderapura.
  3. Painan ibukota Painan, terdiri dari distrik Painan dan dibagi kedalam onderdistrik
    1. Bayang-Painan,
    2. Tarusan,
    3. Batangkapeh, dan
    4. Balai Salasa)
  4. Mentawai Eilanden dengan ibukota Siberut

Raja Penghulu, Bendahara Sakti dan Sultan Di Langit


Raja penghulu adalah ketua para penghulu terutama suku Caniago. Raja Penghulu kemudian mendapat gelar Datuk sehingga menjadi Datuk Raja Penghulu. Raja Penghulu merupakan seorang penghulu pucuk, diatas penghulu bawah paruik, penghulu andiko dan penghulu selingkar kaum.

Bendahara Sakti adalah turunan dari Tuan Titah (Tuan Penitahan) di Sungai Tarab. Dan Tuan Titah sendiri adalah juru bicara dimana perintah raja keluar melalui mulutnya atau dibacakan olehnya. Beliau bergelar Datuk Bendahara Putih, sukunya Caniago. Bendahara Sakti kemudian mendapat gelar datuk pula sehingga menjadi Datuk Bendahara Sakti.

Sultan Di Langit merupakan sebuah gelar kehormatan dan penyanjungan bagi seorang sultan. Ia dianggap sebagai sultan di langit karena ia menjadi sultan lantaran kedekatannya dengan pesan-pesan langit atau agama. Sultan Di Langit pun memperoleh gelar Datuk sehingga bergelar Datuk Sultan Di Langit atau disingkat menjadi Datuk Tandilangit.

Ketiga datuk inilah leluhur-lehuhur yang mulia dimata kami.

Sunan Bonang (Dewang Bonang Sutowano?)



Beliau murid dari Tuanku Syekh Maghribi Maulana Malik Ibrahim atau dikenal sebagai Sunan Gresik.

Dewang Bonang Sutowano adalah kakak dari Dewang Pandan Putowano Tuanku Maharaja Nan Sakti (I), Yang Dipertuan Daulat Raja Alam Minangkabau yang berke dudukan di Balai Gudam Pagaruyung.

atas anjuran Tuanku Maharaja Sakti, Tuanku Syaikh Maghribi diminta pula untuk berdakwah mengislam kan raja-raja Majapahit di Jawa.
Untuk itu, Tuanku Syaikh Mahgribi didampingi oleh kakak kandung Tuanku Maharaja Sakti sendiri, yakni Dewang Bonang Sutowano (Sang Hiyang Wenang Sutrawarna). Seorang raja yang lebih suka mengembara dan merantau, kemudian dikenal sebagai seorang raja yang mengislamkan penduduk Bugis sampai ke Sulu, di Sulawesi. Baginda inilah yang populer disebut sebagai Raja Baginda seorang bangsawan Minangkabau yang pada tahun 1390 M berkelana sampai ke Sulu dan Mindanao.

Di Sumatera, Dewang Bonang Sutowano disebut sebagai Rajo Suto ( Raja Sutra, Raja Sang Suhita), yang merupakan murid utama Tuanku Syaikh Maghribi. Beliau selalu ikut mendampingi gurunya dalam perjalanan dakwah, mengikutinya sampai ke Gresik. Ada dugaan kuat, bahwa beliau inilah yang dikenal di Jawa sebagai Sunan Bonang. Sebelum itu, Tuanku Syaikh Maghribi juga punya pengikut di Indrapura, Bayang dan Padusunan Pariaman. Kesultanan Indrapura waktu itu merupakan pelabuhan samudera pertama dan tertua di pesisir barat Sumatera dan dikenal sebagai pelabuhan Samuderapura (di Teluk Air Dayopuro), telah berdatangan juga orang-orang dari Jawa Gresik untuk belajar lebih mendalam tentang agama Islam. Bahkan di sana juga terdapat perkampungan Gresik dan Sumedang yang dipimpin oleh seorang Adipati, dengan gelar Adipati Laut Tawar.
Bahkan atas kebijakan Tuanku Maharaja Sakti, Suwarnapura ibu kota kerajaan Suwarnabhumi Islam, dijadikan beliau sebagai pusat dakwah Islam dan berganti nama dengan Sumpur Kudus, artinya berasal dari Suwarnapura, Swanpur, kemudian menjadi Sumpur Kudus. Masyarakat pesisir barat Sumatera mengenal negeri itu sebagai “Makah Darek”, karena pada zaman tersebut negeri Sumpur Kudus merupakan pusat dakwah Islam di pedalaman Sumatera bagian tengah (darek). Ini dibuktikan pula kemudian negeri Sumpur Kudus ditetapkan sebagai negeri tempat kedudukan Raja Ibadat.
Raja Sutra ini yang dikenal di Jawa, menikah dengan Putri Ratna Kemala (Puti Reno Kumalo), memperoleh putra putri yakni Dewang Pati Rajowano (Pati Rajawane) dan Dewi Sri Megowani yang terkenal dengan nama kebesarannya Putri Kahyangan.
Dewang Pati Rajowano, kelak juga mengikuti Tuangku Syaikh Maghribi ke Gresik, dan kembali lagi ke Sumatera untuk kemudian menghadapi perang dengan Cina Kuwantuang, sampai ke Kerinci. Di Kerinci disebut namanya sebagai Radin (Raden) Serdang dan sebagai seorang pewaris kerajaan dan Mubaligh Islam lebih dikenal dengan nama Sultan Maharajo Hakikat. Dewang Pati Rajowano adalah kakak sepupu yang menjunjungkan mahkota kerajaan kepada Putri Panjang Rambut, Daulat Putri Mangkuto Alam Minangkabau, yang kelak bergelar Bundo Kandung pemegang Daulat Mahkota Rajo Alam Minangkabau. Kepahlawanan Dewang Pati Rajowano, terkenal sampai ke Sulawesi dan diabadikan dalam sebuah puisi berjudul “Dien Tamaela” oleh Chairil Anwar, dengan menyebutnya sebagai “Pati Rajawane”.
Menurut Tambo Radin Serdang yang disimpan oleh M.Rasyad Depati Muaro Langkap Tamiai, dikatakan bahwa :
Sultan Maharaja Hakikat keturunan Minangkabau di Pagaruyung yang dilepas ke Kerinci untuk menyebarkan Islam. Ia sampai dinegeri Tamiai Kerinci, dan ikut membantu perang melawan Cina Kuantung yang datang menyerang dari negeri Sungai Ngiang Bengkulu. Sultan Maharaja Hakikat menetap di Tamiai dengan nama Radin Serdang, kawin dengan anak Bagindo Sibaok, Segindo Tamiai (Raja Tamiai).
Kemudian ia pergi ke Gresik, kawin dengan seorang putri Cina peranakan, beranak seorang perempuan yang kawin dengan Tuanku Barakat (Si Barakat). Tuanku Barakat adalah seorang Syaikh yang datang dari tanah Arab, dan dari perkawinannya dengan putri kandung Sultan Maharaja Hakikat beranak seorang putra dan diberi gelar kehormatan yang sesuai dan sama dengan gelar-gelar kehormatan Islam yang dijunjung Sultan-Sultan dari Kesultanan Kerajaan Indrapura, Penguasa Pesisir Barat Minangkabau yakni Sultan Ahmad gelar Sultan Muhammadsyah. Kemudian Sultan ini menurunkan Raja-Raja bergelar Sultan pula di Brunei Darusalam.[2]
Permaisuri dari Tuanku Maharaja Sakti Dewang Pandan Putowano, Tuan Gadis Puti Reno Bungsu menggantikan kedudukan suaminya sebagai Raja Perempuan dengan menyandang gelar Puti Reno Silindung Bulan, Daulat Tanjung Bungo Raja Parit Koto Dalam. Naik tahta selama 3 tahun

Sejarah Kesultanan Brunei Darussalam


a.Sejarah Awal Brunei (Kerajaan Brunei Tua)

Catatan sejarah menyebutkan bahwa peradaban Brunei diketahui telah ada sejak abad ke VI. Kala itu,daerah Brunei dikenal sebagai salah satu pelabuhan persinggahan para pelaut dari Cina, Arab, dan India.

Para pelaut yang didominasi kaum pedagang tersebut biasanya singgah sejenak di pelabuhan Bruneikemudian melanjutkan pelayaran ke daerah-daerah yang kini kita kenal dengan nama Indonesia.

Beberapa catatan sejarah menyebutkan tentang daerah yang kini dikenal dengan nama Brunei ini dalambeberapa penyebutan (istilah). Dalam catatan sejarah Cina, Brunei dikenal dengan nama Po-li, Po-lo, atau Pu-ni. Dalam catatan sejarah Arab, Brunei disebut dengan nama Zabaj atau Randj. Sedangkanpara pelaut (pedagang) Arab menyebut “Laut Brunei” untuk perairan yang kini kita kenal dengan nama Laut Cina Selatan.

Catatan sejarah Cina pada masa pemerintahan Dinasti Liang (502-566 Masehi) menyebutkan tentangsuatu daerah bernama Po-li (Brunei). Po-li disebutkan sebagai sebuah daerah yang berada di sebelah tenggara Canton, berjarak sekitar 60 hari pelayaran dengan tiupan angin biasa, dan membawahi 136 daerah. Di dalam buku Chiu Tang Shu diriwayatkan bahwa sekitar tahun 630 M, Po-li telah mengirimkan utusan ke Cina.

Nama Po-li mulai tergantikan dengan penyebutan Po-lo pada pertengahan abad ke VII. Penyebutan Polo dimulai ketika Dinasti Tang (618-906 M) menyebutkan bahwa jika melakukan perjalanan laut dari Chih-tu ke arah barat daya maka akan sampai di sebuah daerah bernama Po-lo. Pada masa itu, sekitar tahun 669 M, Raja Po-lo bersama dengan Huan-wang (Siam) telah mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 642, 669, dan 711 M.

Memasuki abad ke X, Dinasti Sung (960-1279 M) yang berkuasa di Cina tidak lagi menggunakan nama Po-lo melainkan Pu-ni. Mengutip dari buku Hsin Tang Shu, “ … after the disappearance of the name Polo, Po-ni is mentioned firt time in Chinese literature visthe Sung Shih.” Menurut Charington, Po-ni atauPu-ni adalah nama yang sama untuk menyebut Po-lo.

Penyebutan Pu-ni terus digunakan sepanjang masa pemerintahan Dinasti Sung di Cina. Penyebutan Poli, Po-lo, hingga Pu-ni dapat dikatakan sebagai masa Kerajaan Brunei Tua.

b. Kerajaan Brunei

Ketika Dinasti Sung digantikan oleh Dinasti Ming yang berkuasa di Cina antara tahun 1368-1643 M,penyebutan Pu-ni mulai bergeser menjadi Brunei. Penyebutan “Brunei” menjadi nama baru dalam catatan Cina yang diindikasikan karena pengaruh dari perpindahan Kerajaan Brunei Tua ke Kota Batu.

Catatan dari Dinasti Ming menyebutkan bahwa pada tahun 1397 M, beberapa utusan telah datang ke Cina. Utusan-utusan tersebut berasal dari Annam, Siam, Jawa, Liu-Kiu, San-bo-tsai, Bruni (Brunei), Pahang, Sumatera, dan negeri lain. Berdasarkan catatan dari Dinasti Ming ini dapat diperkirakan bahwa perpindahan Kerajaan Brunei Tua ke Kota Batu berlangsung sebelum tahun 1397 M.

Selain dalam catatan Cina, sumber dari Kerajaan Majapahit yang tercatat dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 M menyebutkan bahwa Pu-ni atau Brunei merupakan daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Disebutkan dalam Negarakertagama pupuh 14, Kerajaan Majapahit menguasai daerah-daerah mancanegara seperti Sedu (Sarawak), Barune (Brunei), Saludung (Manila),Solot (Sulu), Trengganu, Johor, Tumasik (Singapura), dan lain-lain. Setiap tahun Kerajaan Brunei mengirimkan upeti ke Jawa antara lain dalam bentuk kapur barus dan air pinang muda.

Satu catatan tersendiri adalah sebelum Kerajaan Brunei Tua pindah ke Kota Batu, pada tahun 1362 MAwang Alak Betatar naik tahta. Tahun 1364 M ketika Patih Gadjah Mada mangkat, Kerajaan Brunei Tua merasa memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Majapahit. Akhinya pada tahun 1365 M, Kerajaan Brunei Tua memproklamirkan diri sebagai kerajaan yang merdeka.

c. Kesultanan Brunei

Ketika Kerajaan Brunei Tua telah merdeka, Raja Awang Alak Betatar menjalin hubungan dengan Kesultanan Johor. Hubungan ini ditandai dengan perkawinan antara Raja Awang Alak Betatar dengan seorang puteri dari Kesultanan Johor. Lewat perkawinan ini, Raja Awang Alak Betatar akhirnya memeluk agama Islam sehingga mendapatkan karunia gelar dari Sultan Johor, yaitu Sultan Muhammad Shah. Saat itulah agama Islam mulai ditetapkan sebagai agama negara.

Sultan Muhammad Shah memimpin Kesultanan Brunei hingga tahun 1402 M. Dalam Salasilah Raja-raja Brunei disebutkan bahwa Sultan Muhammad Shah hanya memiliki seorang puteri bernama Puteri Ratna Dewi, namun apabila ditilik dari batu nisan makam Rokayah binti Sultan Abdul Majid Hasan ibnu Muhammad Shah Al-Sultan yang berangka tahun 1422 M dan terletak di Tanah Pekuburan Islam di Jalan Residency, Bandar Seri Begawan, didapatkan sebuah keterangan bahwa Sultan Muhammad Shah memiliki seorang putera bernama Sultan Abdul Majid Hasan atau dalam catatan Cina ditulis Ma-na-jeka-na. Namun nama Sultan Abdul Majid Hasan tidak termasuk ke dalam Salasilah Raja-raja Brunei.

Sultan Abdul Majid Hasan mangkat pada tahun 1408 M ketika melakukan kunjungan ke Nanking, Cina.Beliau dimakamkan di Cina dan pada nisannya tertulis “Makam Raja Puni”.

Catatan yang terdapat dalam Salasilah Raja-raja Brunei menyebutkan bahwa setelah Sultan Muhammad Shah mangkat pada tahun 1402 M, pengganti kedudukan Sultan Brunei adalah saudara Sultan Abdul Majid Hasan yang bernama Pateh Berbai atau Pangeran Bendahara. Pada tahun 1408, Pangeran Bendahara naik tahta dan bergelar Sultan Ahmad.

Pada tahun 1425 M, Sultan Ahmad mangkat. Oleh karena tidak memiliki putera, maka kedudukan Sultan Brunei diserahkan kepada menantunya, Sharif Ali. Sharif Ali adalah seorang penyebar agama Islam yang berasal dari Taif di Arab dan telah menyebarkan agama Islam sejak tahun 1400 M atau ketika Brunei masih diperintah oleh Sultan Abdul Majid Hasan.

Sharif Ali naik tahta dan bergelar Sultan Sharif Ali. Pemerintahan Sultan Sharif Ali dikenal sebagai masa penguatan fondasi Islam di Kesultanan Brunei yang telah diletakkan sejak masa pemerintahan Sultan Muhammad Shah. Sultan Sharif Ali di antaranya menyusun pemerintahan yang berdasarkan agama

Islam, mendirikan masjid, meluruskan arah kiblat, dan membuat aturan yang melarang rakyat Brunei untuk makan daging babi, jika larangan ini dilanggar maka akan dihukum mati.

Kepemimpinan Sultan Sharif Ali atau yang juga dikenal dengan nama Paduka Seri Muda Berkat berlangsung hingga beliau mangkat pada tahun 1432 M. Pengganti Sultan Sharif Ali berturut-turut adalah Pengiran Muda Besar Sulaiman yang naik tahta pada tahun 1432 M dan bergelar Sultan Sulaiman. Dalam Hikayat Hang Tuah, Sultan Sulaiman disebut sebagai Adipati Agung, sedangkan dalam Sejarah Melayu, disebut Sang Aji Brunei.

Sultan Brunei selanjutnya adalah Pengiran Muda Bolkiah yang naik tahta pada tahun 1485 M dan bergelar Sultan Bolkiah. Sultan Bolkiah dikenal juga dengan nama Anakhuda Ragam atau Nahkoda Ragam. Sebutan ini merujuk pada kebiasaan Sultan Bolkiah yang sering bepergian ke luar negeri dengan menggunakan “ajung” (jung atau kapal). Dalam setiap kepergian, beliau selalu diiringi oleh musik Nobat dan Gendang Kebesaran Diraja. Sultan Bolkiah dikenal sebagai sosok yang adil dalam memerintah, sehingga beberapa daerah yang dikunjunginya merasa terlindungi dan tunduk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Brunei.

Pada tanggal 11 Juli 1524, Sultan Bolkiah mangkat dalam perjalanan kembali ke Brunei dari luar negeri.Pengiran Anak Cucu Besar Saiful Rijal naik tahta dan bergelar Sultan Abdul Kahar. Dalam Boxer Codex, Sultan Abdul Kahar disebut Sultan Ari Lula atau Sultan Adilullah, sedangkan Antonio Pigafeta dalam laporannya pada tahun 1521 menyebut Sultan Abdul Kahar dengan nama Raja Siripada.

Pemerintahan Sultan Abdul Kahar berlangsung hingga tahun 1530 M. Selepas Sultan Abdul Kahar meletakkan jabatan, putera sulung baginda yang bernama Pengiran Muda Besar Ismail naik tahta, namun hanya bertahan setahun karena beliau mangkat. Pengganti Pengiran Muda Besar Ismail adalah Pengiran Muda Tengah Othman, namun tidak lama kemudian juga mangkat sehingga digantikan oleh Pengiran Muda Iring Ali Akbar. Hal serupa terjadi pada dua pendahulunya, Pengiran Muda Iring Ali Akbar juga mangkat tidak lama setelah naik tahta.

Saat itu, Sultan Abdul Kahar baru menyadari jika tahta Kesultanan Brunei sesungguhnya milik keturunan dari kakaknya, Pengiran Bendahara Pengiran Muda Besar Tajuddin yang tidak sempat naik tahta meskipun telah disiapkan sebagai pengganti ketika ayah mereka Sultan Bolkiah memerintah. Atas dasar pertimbangan tersebut, Sultan Abdul Kahar menyerahkan tahta Brunei kepada putera Pengiran Bendaraha Pengiran Muda Besar Tajuddin yang bernama Pengiran Anak Chucu Besar Saiful Rijal. Pada tahun 1533 M Pengiran Anak Chucu Besar Saiful Rijal naik tahta dan bergelar Sultan Saiful Rijal. Ketika Sultan Saiful Rijal memerintah terjadi Perang Kastila.

Perang Kastila dimulai ketika Spanyol yang telah berhasil menaklukkan Filipina (Manila) pada tahun 1571M bermaksud menawarkan “perlindungan” kepada Kesultanan Brunei. Tawaran perlindungan bermaknabahwa Kesultanan Brunei mengakui kedaulatan Spanyol yang bermarkas di Manila. Tawaran ini ditolakoleh Sultan Saiful Rijal.

Sikap Spanyol ini didasari oleh dua hal, pertama Kesultanan Brunei telah menyebarkan agama Islamsehingga berpengaruh kuat di Filipina sejak masa kekuasaan Sultan Bolkiah. Kedua, perkembangan Islamdi Filipina tentu saja menghambat upaya Kristenisasi yang menjadi salah satu tujuan Spanyol. Olehkarena itu, Spanyol merasa perlu untuk menaklukkan pusat Islam, yaitu Kesultanan Brunei.

Kontak senjata pertama antara pasukan Kesultanan Brunei melawan Spanyol terjadi pada tanggal 14April 1578. Pasukan Spanyol dipimpin oleh Kapten Jenderal Spanyol di Manila, Dr. Fansisco de Sandeberkekuatan 40 kapal perang. Sedangkan pasukan Brunei berkekuatan 50 kapal perang. Dalam kontakpertama ini, pasukan Kesultanan Brunei menderita kekalahan.

Kemenangan pada kontak senjata pertama menjadikan moral pasukan Spanyol bangkit. Pada tanggal16, 20, dan 24 April 1578, pasukan Spanyol telah memasuki istana, menggeledah, dan merampasberbagai barang berharga.

Pasukan Kesultanan Brunei yang kalah pada kontak pertama kemudian menggalang kekuatan di bawahpimpinan Pengiran Bendahara Sakam ibnu Sultan Abdul Kahar. Pasukan ini kembali menggempur Spanyolhingga terdesak dan dipaksa untuk mundur sampai ke Nausung (Sabah). Pada tanggal 26 Juni 1578,Spanyol menderita kekalahan perang dan berhasil diusir dari bumi Brunei. Sebagai pelampiasan ataskekalahan perang, tiga hari sebelum meninggalkan Brunei, pada tanggal 23 Juni 1578, Dr. Fansisco deSande memerintahkan untuk membakar Masjid Jami’ Brunei.

Pengiran Bendahara Sakam yang berjasa karena kepemimpinannya dalam mengusir Spanyol akhirnyamendapat anugerah dari Sultan Saiful Rijal yaitu gelar Raja Bendahara, sebuah gelar yang dianggapsebagai calon pengganti Sultan Brunei. Namun sebelum naik tahta, Pengiran Bendahara Sakam telah

mangkat.

Sultan Saiful Rijal mengangkat puteranya yang bernama Raja Brunei (Shah Brunei) sebagai SultanBrunei, namun tidak lama kemudian juga mangkat. Tahta Kesultanan Brunei akhirnya diserahkan kepadaadik Sultan Saiful Rijal yang bernama Pengiran Muda Muhammad Hasan yang naik tahta pada tahun 1582 M bergelar Sultan Muhammad Hasan.Sultan Muhammad Hasan mangkat pada tahun 1598 M. Pengganti Sultan Muhammad Hasan adalah

Pengiran Muda Besar Abdul Jalilul Akbar bergelar Sultan Jalilul Akbar (1598-1659 M), kemudian PengiranMuda Besar Sulong Abdul Jabbar bergelar Sultan Abdul Jalilul Jabbar (1659-1660 M). Ketika Sultan Abdul Jalilul Jabbar mangkat pada tahun 1660 M, Putera Mahkota Pengiran Muda Besar Muhammad Shamsuddin belum cukup usia untuk memerintah sehingga tahta Kesultanan Brunei diserahkan kepada pamannya, Pengiran Muda Bongsu Haji Muhammad Ali ibnu Sultan Muhammad Hasan dan bergelar Sultan Haji Muhammad Ali.

Ketika Sultan Haji Muhammad Ali memerintah terjadi perseteruan dengan Pengiran Bendahara Pengiran Abdul Hakkul Mubin. Permasalahan bermula ketika putera Sultan Haji Muhammad Ali yang bernama Pengiran Muda Bongsu ibnu Sultan Muhammad Ali telah membunuh putera Pengiran Bendahara Pengiran Abdul Hakkul Mubin dalam sabung ayam. Pengiran Bendahara Pengiran Abdul Hakkul Mubin lantas datang ke istana bermaksud menuntut balas atas kematian puteranya dengan cara membunuh Pengiran Muda Bongsu. Namun Sultan Haji Muhammad Ali tidak mengizinkan puteranya tersebut dibunuh dengan alasan bahwa kuasa menjatuhkan hukuman menjadi hak Sultan. Maksud yang tidak tersampaikan membuat Pengiran Bendahara Pengiran Abdul Hakkul Mubin murka dan membunuh siapa saja yang berada di dalam istana.

Sultan Muhammad Ali mangkat pada tanggal 7 November 1661 dan digantikan oleh Pengiran Bendahara Pengiran Abdul Hakkul Mubin yang bergelar Sultan Abdul Hakkul Mubin. Ketika masih memerintah, Sultan Abdul Hakkul Mubin telah memberikan karunia gelar Pengiran Bendahara Seri Maharaja Permaisuara

kepada Pengiran Bongsu Muhyiddin ibnu Sultan Abdul Jalilul Akbar yang tak lain adalah adik kandung Sultan Abdul Jalilul Jabbar dari ibu yang sama, Radin Mas Ungku Siti Kaisah, puteri Pengiran Temenggong Mancho Negoro dari Jawa.

Luka lama pembunuhan yang dilakukan oleh Sultan Abdul Hakkul Mubin terhadap Sultan Muhammad Alikembali terkuak. Pengiran Bongsu Muhyiddin bermaksud menuntut balas dan berusaha merebut tahta.

Terjadilah perang saudara yang berlangsung selama 12 tahun (1661-1673 M). Perang berakhir ketika

Sultan Abdul Hakkul Mubin berhasil dibunuh oleh Pengiran Bongsu Muhyiddin yang kemudian menduduki tahta Kesultanan Brunei pada tahun 1673 M dan bergelar Sultan Muhyiddin.

Ketika Sultan Muhyiddin memerintah, beliau bermaksud untuk mengembalikan tahta kepada garis keturunan dari Sultan Muhammad Ali. Putera Sultan Muhammad Ali, Pengiran Muda Bongsu yang melarikan diri ke Sambas diminta kembali ke Brunei dan diberikan karunia gelar Raja Bendahara dan diharapkan dapat mengganti kedudukan Sultan Muhyiddin sebagai Raja Brunei. Namun sebelum niat tersebut terlaksana Raja Bendahara Pengiran Muda Bongsu telah meninggal. Akhirnya Sultan Muhyiddin

melantik putera Raja Bendahara Pengiran Muda Bongsu yang bernama Pengiran Anak Muhammad Alam dan diberikan gelar Raja Bendahara Alam.

Usai melantik, Sultan Muhyiddin berangkat ke Kelaka dan bersemayam di sana. Namun, meskipun telah dilantik oleh Sultan Muhyiddin, nama Raja Bendahara Alam ini tidak disebutkan dalam Salasilah Raja-rajaBrunei. Ketika Raja Bendahara Alam mangkat, Sultan Muhyiddin yang telah bersemayam di Kelaka diminta untuk kembali memimpin Kesultanan Brunei. Sultan Muhyiddin akhirnya kembali naik tahta.

Sultan Muhyiddin mangkat pada tahun 1690 M. Pengganti Sultan Muhyiddin adalah Pengiran Anak Chucu Nasruddin ibnu Pengiran Muda Besar Abdullah ibnu Sultan Abdul Jalilul Akbar bergelar Sultan Nasruddin.

Sultan Nasruddin mangkat pada tahun 1670 M dan digantikan Pengiran Muda Husain Kamaluddin ibnu Sultan Haji Muhammad Ali yang bergelar Sultan Husain Kamaluddin. Keinginan almarhum Sultan Muhyiddin untuk mengembalikan tahta Kesultanan Brunei kepada keturunan Sultan Muhammad Ali  akhirnya terealisasi.

Masa pemerintahan Sultan Husain Kamaluddin disebutkan sebagai salah satu masa kemakmuran Kesultanan Brunei. Salah satu indikasi kemakmuran Kesultanan Brunei ditunjukkan dengan mengeluarkan mata uang Kesultanan Brunei yang disebut mata uang “pitis”.

Sultan Husain Kamaluddin juga dikenal sebagai raja yang adil dan berpihak pada rakyat biasa. Beliau tidak berkenan untuk menikah dengan kaum bangsawan, sehingga anak Sultan Husain Kamaluddin juga tertutup kemungkinan menjadi Sultan Brunei selanjutnya karena terdapat darah rakyat biasa. Namun, salah satu puteri Sultan Husain Kamaluddin yang bernama Pengiran Anak Puteri Bulan menikah dengan Pengiran Anak Chucu Besar Muhammad Alauddin ibnu Pengiran Di-Gadong Pengiran Muda Shah Mubin ibnu Sultan Muhyiddin. Atas dasar pernikahan ini, Sultan Husain Kamaluddin justru memiliki niat untuk mengembalikan tahta Kesultanan Brunei kepada keturunan dari Sultan Muhyiddin.

Pengiran Anak Chucu Besar Muhammad Alauddin akhirnya ditabalkan menjadi Raja Brunei pada tahun 1730 M dengan gelar Sultan Muhammad Alauddin. Namun masa pemerintahan Sultan Muhammad Alauddin hanya berlangsung singkat karena beliau mangkat pada tahun 1737 M. Oleh karena Sultan Muhammad Alauddin tidak memiliki putera, maka Sultan Husain Kamaluddin yang sebenarnya telah meletakkan jabatan dan bergelar Paduka Seri Begawan Sultan dan bersemayam di Temburong kembali menjadi Sultan Brunei.

Pemerintahan Sultan Husain Kamaluddin jilid II bertahan hingga tahun 1740 M. Beliau kemudian menyerahkan tahta Kesultanan Brunei kepada menantunya, Pengiran Muda Tengah Omar Ali Saifuddin yang menikah dengan Pengiran Anak Puteri Nur Alam binti Sultan Husain Kamaluddin. Pengiran Muda Tengah Omar Ali Saifuddin naik tahta pada tahun 1740 M dan bergelar Sultan Omar Ali Saifuddin I.

Pemerintahan Sultan Omar Ali Saifuddin I bertahan hingga tahun 1778 M. Pengganti Sultan Omar Ali Saifuddin I adalah Pengiran Muda Besar Muhammad Tajuddin bergelar Sultan Muhammad Tajuddin.

Selanjutnya pada tahun 1804 M, tahta Kesultanan Brunei diserahkan kepada Pengiran Muda Tengah Jamalul Alam bergelar Sultan Muhammad Jamalul Alam I.

Sultan Muhammad Jamalul Alam I memerintah hanya sekitar 7 bulan (26 April 1804 hingga 10 November 1804). Beliau mangkat dan digantikan puteranya, Pengiran Muda Besar Omar Ali Safiuddin II. Namun berhubung putera baginda belum cukup umur, maka tahta Kesultanan Brunei untuk sementara diampu oleh Paduka Seri Begawan Sultan Muhammad Tajuddin.

Paduka Seri Begawan Sultan Tajuddin hanya mampu memimpin Kesultanan Brunei hingga tahun 1807 M.

Beliau kemudian menyerahkan tahta kepada Pengiran Di-Gadong Ayah Pengiran Muda Tengah Muhammad Kanzul Alam ibnu Sultan Omar Saifuddin I dan bergelar Sultan Muhammad Kanzul Alam.

Semasa Sultan Muhammad Kanzul Alam memerintah terdapat beberapa peristiwa yang terjadi di Kesultanan Brunei. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain: Kesultanan Brunei mengeluarkan mata uang “Pitis” ke Padian (1821 M) dan Kesultanan Brunei menjalin hubungan yang erat dengan Spanyol diManila (1823 M).

Masa pemerintahan Sultan Muhammad Kanzul Alam juga diwarnai dengan keputusan sepihak untuk mengangkat puteranya, Pengiran Muda Muhammad Alam sebagai calon pewaris tahta. Pada tahun 1826, Pengiran Muda Muhammad Alam naik tahta dan bergelar Sultan Muhammad Alam.

Pemerintahan Sultan Muhammad Alam dijalankan dengan sistem kediktatoran. Bahkan pada tanggal 15 Februari 1826, pewaris tahta yang sah, Pengiran Muda Besar Omar Ali Safiuddin II terpaksa harus mengungsi ke Pulau Keingaran untuk menghindari pertumpahan darah.

Masa pemerintahan Sultan Muhammad Alam hanya berlangsung selama 2 tahun. Pada tahun 1828 M,Sultan Muhammad Alam meninggal dan tahta Kesultanan Brunei dikembalikan kepada Pengiran Muda Besar Omar Ali Safiuddin II yang bergelar Sultan Omar Ali Safiuddin II.

d.Pengaruh Inggris di Kesultanan Brunei

Pada tanggal 15 Agustus 1839 James Brooke tiba di Serawak. Duta Kerajaan Inggris ini bermaksud untuk menjalin hubungan dengan penguasa Serawak kala itu, Pengiran Indera Mahkota Pengiran Muhammad Salleh yang merupakan kepanjangan tangan Kesultanan Brunei. Pengiran Indera Mahkota Pengiran Muhammad Salleh menjadi penguasa Serawak ketika Sultan Muhammad Kanzul Alam bertahta.

Selain Pengiran Indera Mahkota Pengiran Muhammad Salleh, di Serawak juga bermukim Pengiran Muda Hashim ibnu Sultan Muhammad Kanzul Alam. James Brooke mendekati Pengiran Muda Hashim untuk menjalin perjanjian kerjasama. Perjanjian akhirnya berhasil dibuat antara James Brooke dengan Pengiran Muda Hashim pada tahun 1841 M. Isi perjanjian adalah ijin bagi James Brooke untuk tinggal dan mendirikan bangunan di Serawak.

Perjanjian 1841 M diperbaharui dengan perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 1842 antara James Brooke dengan Sultan Omar Ali Safiuddin II melalui perantara Pengiran Muda Hashim ibnu Sultan Muhammad Kanzul Alam. Perjanjian 1842 berisi pelantikan James Brooke sebagai penguasa di Serawak. Berdasarkan pelantikan tersebut, maka kekuasaan Pengiran Indera Mahkota Pengiran Muhammad Salleh sebagai penguasa di Serawak digantikan oleh James Brooke.

Berdasarkan perjanjian 1842, James Brooke mulai menjalankan pemerintahan di Serawak dan meluaskan daerah kekuasaan, bahkan yang termasuk ke dalam wilayah Kesultanan Brunei, seperti Bintulu, Mukah, Uya, Miri, Sibuti, dan Baram. Upaya James Brooke untuk menguasai Kesultanan Brunei juga dilakukan melalui Pengiran Muda Hashim ibnu Sultan Muhammad Kanzul Alam dengan cara membujuk sang pengeran agar berusaha merebut tahta Kesultanan Brunei. Tindakan Pengiran Muda Hashim ditentang oleh kebanyakan bangsawan di Kesultanan Brunei yang berujung pada terbunuhnya Pengiran Muda Hashim pada tahun 1846.

James Brooke menjadikan terbunuhnya Pengiran Muda Hashim ibnu Sultan Muhammad Kanzul Alam selaku sekutu politiknya sebagai alasan untuk menyerang Kesultanan Brunei. Pada tanggal 8 Juli 1846, angkatan perang James Brooke (Kerajaan Inggris) yang didukung oleh Laksamana Sir Thomas Cochare, Komandan Pangkalan di Timur Jauh telah mendarat di Brunei. Perang antara Kesultanan Brunei dan Inggris tidak terhindarkan. Akibat perang ini, Sultan Omar Ali Safiuddin II terpaksa mengungsi ke Damuan. Perseteruan dengan Inggris akhirnya diakhiri dengan perjanjian persahabatan dan perdagangan pada tahun 1847 M.

Sultan Omar Ali Safiuddin II mangkat pada tanggal 18 November 1852 dan digantikan oleh Pengiran Anak Abdul Momin ibnu Pengiran Shahbandar Pengiran Anak Abdul Wahab ibnu Sultan Omar Ali Safiuddin I dan bergelar Sultan Abdul Momin. Sultan Abdul Momin mempunyai keputusan bahwa ketika beliau nantinya turun tahta, maka Kesultanan Brunei tidak akan dipimpin oleh keturunannya melainkan kepada putera Sultan Omar Ali Safiuddin II, yaitu Pengiran Anak Muhammad Salleh atau Pengiran Anak Hashim.

Pada tahun 1885 M, Sultan Abdul Momin mangkat dan tahta Kesultanan Brunei diserahkan kepada Pengiran Anak Hashim karena Pengiran Anak Muhammad Salleh telah lebih dahulu meninggal. Pengiran Anak Hashim naik tahta pada tahun 1885 M dan bergelar Sultan Hashim Jalilul Alam Aqamaddin.

Ketika Sultan Hashim Jalilul Alam Aqamaddin memerintah, pada tahun 1888 M diadakan perjanjian dengan Sir Hugh Low di pihak Kerajaan Inggris. Isi perjanjian adalah pernyataan bahwa KesultananBrunei berada dalam perlindungan Inggris, namun Kerajaan Inggris tidak berhak turut campur dalam urusan pergantian Sultan Brunei.

Pada tanggal 3 Desember 1905 dan 2 Januari 1906, Sultan Hashim Jalilul Alam Aqamaddin kembali menandatangani perjanjian dengan Inggris yang diwakili John Anderson. Perjanjian tersebut berisi bahwa Kesultanan Brunei menerima pengangkatan seorang Residen di wilayah kekuasaan Kesultanan Brunei.

Residen ini merupakan kepanjangan tangan dari pemerintahan Inggris, sehingga Kesultanan Brunei wajib menjamin keselamatan, menyediakan tempat tinggal yang layak, dan menjalankan segala masukan dari Residen tersebut, kecuali yang berhubungan dengan agama Islam.

Pada bulan Mei 1906, Pengiran Muda Bongsu Muhammad Jamalul Alam naik tahta menggantikan Sultan Hashim Jalilul Alam Aqamaddin dan bergelar Sultan Muhammad Jamalul Alam II. Namun berhubung Sultan Muhammad Jamalul Alam II belum dewasa, maka jabatan Sultan dipangku oleh Pengiran BendaharaPengiran Anak Muhammad ibnu Pengiran Anak Muhammad Tajuddin dan Pengiran Pemancha Pengiran Anak Muhammad Salleh II ibnu Pengiran Maharaja Lela Pengiran Anak Abdul Kahar hingga tanggal 15 Mei 1918. Setelah Sultan Muhammad Jamalul Alam II telah dewasa, maka beliau diangkat menjadi SultanBrunei.

Sultan Muhammad Jamalul Alam II mangkat pada tanggal 19 September 1924. Tahta Kesultanan Brunei beralih kepada Pengiran Muda Besar Ahmad Tajuddin bergelar Sultan Ahmad Tajuddin Akhazul Khairi Waddin. Pada tanggal tanggal 4 Juni 1950 Sultan Ahmad Tajuddin Akhazul Khairi Waddin mangkat sehingga tahta Kesultanan Brunei diserahkan kepada Pengiran Muda Tengah Omar ‘Ali Saifuddien.

Pengiran Muda Tengah Omar ‘Ali Saifuddien naik tahta dan bergelar Sultan Omar ‘Ali Safiuddien Sa’adul Khairi Waddien atau Sultan Omar ‘Ali Saifuddien III. Pada masa pemerintahan Sultan Omar ‘Ali SaifuddienIII diadakan perundingan dengan Inggris yang berisi disebut Perjanjian Perlembagaan Bertulis Negeri Brunei. Perjanjian yang terjadi pada tanggal 29 September 1959 ini merupakan uaya untuk merintis kemerdekaan Negara Brunei Darussalam.

Pada tanggal 14 Agustus 1961, Sultan Omar ‘Ali Saifuddien III mengarak putera tertua, Pengiran Muda Besar Hassanal Bolkiah menjadi Putera Mahkota sebagai calon pengganti kedudukan Sultan Brunei.

Akhirnya pada tanggal 5 Oktober 1967, Sultan Omar ‘Ali Saifuddien III menurunkan tahta kepada puteranya, Pengiran Muda Besar Hassanal Bolkiah untuk menjadi Sultan Brunei dan bergelar Sultan Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah.

Pemerintahan Sultan Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah ditandai dengan deklarasi kemerdekaan Negara Brunei Darussalam pada tanggal 1 Januari 1984. Deklarasi tersebut pada dasarnya merupakan kelanjutan dari upaya menuju Negara Brunei Darussalam yang berdaulat yang telah dirintis oleh Sultan Omar ‘Ali Safiuddien Sa’adul Khairi Waddien pada tanggal 29 September 1959. Kini Kesultanan Brunei Darussalam menjadi inti dari sebuah negara monarki bernama Negara Brunei Darussalam. Hingga hari ini,Sultan Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah masih menjabat sebagai Kepala Negara Brunei Darussalam sekaligus Sultan Brunei Darussalam

Daftar Raja-Raja Suwarnabhumi Minangkabau Pagaruyung


  1. Adityawarman
  2. Ananggawarman, anak Adityawarman
  3. Dewang Pandan Putowano (Tuanku Marajo Sati I), menantu Ananggawarman
  4. Puti Panjang Rambut I (Bundo Kandung)
  5. Dewang Ramowano (Cindurmato)
  6. Dewang Ranggowano (Sultan Lembang Alam)
  7. Dewang Sari Deowano (Tuanku Marajo Sati II), Yamtuan Bakilap Alam
  8. Dewang Sari Magowano (Sri Raja Maharaja), Yamtuan Pasambahan
  9. Sultan Alif I Khalifatullah
  10. Yamtuan Rajo Gamuyang I
  11. Sultan Ahmadsyah Yamtuan Barandangan
  12. Sultan Alif II, anak Sultan Ahmadsyah
  13. Yamtuan Rajo Bagagar Alamsyah, anak Sulthan Alif II
  14. Yamtuan Rajo Bagewang, anak dari Yamtuan Rajo Pangat I—cicit Sultan Alif I
  15. Yamtuan Rajo Gamuyang II, anak dari Yamtuan Rajo Bagewang
  16. Sultan Zainal Arifin Muningsyah
  17. Yang Dipertuan Patah, anak dari Muningsyah
  18. Sultan Tangkal Syariful Alam Bagagarsyah, anak dari YDP Patah.

Ranji Silsilah Raja-Raja Suwarnabhumi Minangkabau


  1. Dt Sri Maharaja kawin dengan Puti Sariputi, beranak dua: Rajo Natan Sang Seto Sangkalo, Dt Suri Dirajo dan Puti Indo Jalito
  2. Rajo Natan kawin dg PR Jani, beranak : PR Kumani
  3. Puti Indo Jalito kawin dg Hyang Indojati Tuan Cati, beranak : PR Jalito, PR Sudah, Dt Sri Maharajo Nan Banego-nego, Puti Reno Mandi, Dt Parpatih nan sabatang, dt katumanggungan, PR Sudi.
  4. Puti Reno Jalito kawin dg Adityawarman, beranak: Ananggawarman, Dewi Reno Dewi Ranggowani
  5. Ananggawarman kawin dg Puti Reno Dewi, beranak : Puti Reno Panjang Rambut I, Puti Reno Selaras Pinang Masak dan Puti Reno Bungsu (Puti Silindung Bulan).
  6. Dewi Reno Dewi kawin beranak : Dewang Pandan Putowano.
  7. Dewang Pandan Putowano (Tuanku Marajo Sati I) kawin dengan Puti Reno Bungsu Silindung Bulan, beranak Puti Panjang Rambuik II.
  8. Puti Panjang Rambuik II beranak : Dewang Pandak Salasiah Banang Raiwano (Dang Tuanku) dan Dewang Ramowano (Cindurmato, lain ayah)
  9. Raiwano kawin dg PR Kamuniang Mego (Puti Bungsu), beranak : Dewang Sari Dewano
  10. Dewang Sari Dewano (Tuanku Marajo Sati II) kawin dg PR Rani Dewi, beranak : Dewang Sari Magowano dan PR Mahligai Cimpago Dewi.
  11. Ramowano (Cindurmato) kawin dg PR Marak Rindang Ranggowani, beranak : PR Rani Dewi dan Dewang Ranggowano.
  12. Dewang Ranggowano (Sutan Lembang Alam) kawin dg PR Maharani, beranak : PR Nalo Nali, PR Nango
  13. Dewang Sari Magowano (Sri Raja Maharaja) kawin dg PR Nalo Nali, beranak : Rajo di Buo III, PR Jalito, Puto Rajo Bawang
  14. PR Nango beranak PR Lenggo Geni dan Puto Buyung Rajo Nasution.
  15. Puto Rajo Bawang kawin dg PR Lenggo Geni.
  16. Banang Sutowano kawin dg PR Jalito, beranak : PR Pomaisuri
  17. PR Mahligai kawin dg Dewang Patualo Sanggowano Rajowano, beranak BPD Sutowano, PR Suto Dewi.
  18. Rajo di Buo III kawin dg PR Suto Dewi, beranak Sultan Alif I.
  19. Sultan Alif I kawin dg PR Pomaisuri, beranak : Sultan Syaiful Aladdin, PR Awan Tasingik, Yamtuan Rajo Kuaso I, PR Sadi, PR Rampiang, Yamtuan Rajo Gamuyang I.
  20. Yamtuan Rajo Gamuyang I kawin dg Puti Andam Dewi, beranak : Yamtuan Rajo Manguyang
  21. Yamtuan Rajo manguyang beranak : Puti Sari Antan, Yamtuan Rajo Gandam, Yamtuan Rajo Pangat I
  22. Yamtuan Rajo Pangat I beranak Yamtuan Rajo Bagewang
  23. Yamtuan Rajo Bagewang kawin dg PR Kumalo, beranak : Yamtuan Rajo Gamuyang
  24. Yamtuan Rajo Gamuyang kawin dg TG Reno Suto (anak dari Rajo Bagagarsyah Alam dg TGR Janggo, anak dari PR Kuniang dg Yamtuan Rajo Pingai, PR Kuniang anak dari PR Baruaci dg Sultan Ahmadsyah, ia bersaudara dg Sultan Alif II), beranak : TG Aluih, Yamtuan Bawang Sultan Alam Muningsyah I dan Yamtuan Alam Perhimpunan.
  25. Sultan Ahmadsyah anak dari Sultan Syaiful Aladin dg Puti Reno Kumalo. Ia bersaudara dg YDP Sari Maharajo I, Yamtuan Arif Badrunsyah, Yamtuan Buyuang.
  26. Rajo Bagagarsyah Alam anak dari Sultan Alif II dg TG Saruaso III. Ia bersaudara kandung dg : YDP Tuanku Rajo Sumpur, PR Duato, PR Jati, TG Saruaso IV.

27. Yamtuan Muningsyah I kawind g PR Intan, beranak : Muningsyah II (Patah), Yamtuan Pandak Raja Beringin Sultan Alam Muningsyah I, YDR Bakumih
28. Muningsyah II kawin dg TGR Janji, beranak : Yamtuan Bujang Nan Bakundi, ST Syariful Alam Bagagarsyah, TGR Sori, TG Tembong, YDP Batuhampar,

Puti Reno Jalito (Putri Ratna Jelita)


dari berbagai sumber ada banyak nama Puti Reno Jalito, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Puti Reno Jalito (Puti Jamilan), istri Adityawarman, ibu dari Ananggawarman (Sultan Pandak). Ia juga saudari dari Datuk Perpatih Nan Sebatang.
2. Puti Reno Jalito, putri dari Puti Reno Nalo Nali dengan Tuan Titah VI, atau cucu dari Rajo Bagewang II. Ia menikah dengan Yang Dipertuan Batu Hitam Rajo Alam Pagaruyung.
3.  Puti Reno Jalito, istri dari Dewang Pandan Bonan Sutowano

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.