Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Tambo Banda Sapuluh


Asal Usul Banda Sapuluh

Banda Sapuluh (Bandar Sepuluh) adalah sebutan untuk wilayah tengah kabupaten Pesisir Selatan yang dulunya (era kerajaan hingga masa kolonialisasi Hindia Belanda) terdiri dari sepuluh bandar atau dermaga di sepanjang pesisir pantai Pesisir Selatan bagian tengah, mulai dari Batangkapeh hingga Air Haji.

Kapan Bandar Sepuluh terbentuk?

Diduga sebelum kedatangan ninik dari Sungai Pagu, wilayah tengah Pesisir Selatan ini sudah dihuni oleh perantau dari Inderapura terutama di sepanjang pesisir pantai karena Inderapura merupakan sebuah kerajaan besar di pesisir barat Sumatera yang sudah berdiri semenjak abad 9 masehi. Inderapura sudah ada mendahului munculnya kerajaan Sungai Pagu (abad 17) dan kerajaan Pagaruyung (abad 16). Tapi penyebaran rakyat Inderapura ke Bandar Sepuluh tidak signifikan sampai datangnya ninik dari Sungai Pagu.

Kedatangan Ninik dari Sungai Pagu – Muaro Labuah (abad 15)

Secara geneologis, penduduk yang sekarang ini mendiami Nagari Punggasan khususnya dan daerah Kab. Pesisir Selatan bagian selatan kecuali Indopuro umumnya berasal dari Alam Surambi Sungai Pagu di Kab. Solok. Arus perpindahan penduduk tersebut dilakukan menembus bukit barisan dan menurun di hamparan dataran luas yang berbatas dengan pantai barat Sumatera Barat bagian selatan yang dulunya dikenal dengan sebutan Pasisia Banda Sapuluah.

Menurut cerita yang berkembang ditengah-tengah masyarakat, bahwa yang menemukan dan mempelopori perpindahan penduduk dari Alam Surambi sungai Pagu ke Nagari Punggasan adalah “Inyiak Dubalang Pak Labah”. Beliau adalah seorang Dubalang / Keamanan dalam salah satu suku di Alam Surambi Sungai Pagu yang suka berpetualang mencari daerah-daerah baru.

Berdasarkan kesepakatan rapat Ninik Mamak Alam Surambi Sungai Pagu, dikirimlah rombongan untuk meninjau wilayah temuan Dubalang Pak Labah. Sesampai di bukit Sikai perjalanan tim peninjau diteruskan kearah hilir melalui bukit Kayu Arang, tempat yang ditandai oleh Dubalang Pak Labah dengan membakar sebatang kayu. Ketika malam datang, rombongan beristirahat di bawah sebatang kayu lagan kecil dan daerah tempat beristirahat tersebut kemudian diberi nama “Lagan Ketek” . Kesokan harinya perjalanan dilanjutkan dan bertemu dengan sebatang kayu lagan yang besar. Daerah tersebut kemudian dinamakan “Lagan Gadang”. Rombongan meneruskan perjalanan sampai kesebuah padang yang banyak ditumbuhi oleh kayu dikek. Dari situ mereka melihat juga sebatang pohon embacang, sehingga kedua tempat tersebut dinamai “Kampung Padang Dikek” dan “Kampung Ambacang”. Perpindahan penduduk dari Alam Surambi Sungai Pagu, terbagi atas dua rombongan besar, dimana rombongan pertama berangkat lebih dulu.

Kedatangan Rombongan Pertama

Dari Alam Surambi Sungai Pagu, rombongan pertama kali sampai didaerah “Bukit Sikai”. Karena daerah tersebut sangat jauh dari sungai, rombongan pertama untuk beberapa hari kemudian turun kedaerah “Kampung Akat”. Atas keepakatan bersama, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri arah peninjauan dahulu yaitu kembali ke bukit Sikai melalui Bukit kayu Arang lalu turun ke Lagan Ketek dan Lagan Gadang. Didua daerah itulah pertama kali taratak dipancang.

Karena berbagai kesulitan berupa gangguan binatang gajah, rombongan kembali ke Bukit Sikai dan turun kebalik bukit tersebut dan sampai di “Bukit Runcing”. Meskipun daerah Bukit Runcing cuma cocok untuk peladangan, rombongan pertama tetap bertahan hingga beberapa kali masa tanam dan sampai kemudian di daerah itu penduduk membuat “pandam pekuburan pertama”. Didaerah Bukit Runcing itu pula terdapat satu lubuk / telaga yang dinamakan “Lubuk Niat”.

Karena berbagai kesulitan, maka kemudian rombongan penduduk kembali menuju Kampung Akat dan setelah beberapa waktu kemudian bergerak lagi menuju arah “Talata”, melalui “Bukit Karang Putih”. Dari Bukit Karang Putih, perjalanan diteruskan melalui “Gunung Merantih Terpanggang”. Di Talata, penduduk sempat membuat mesjid pertama dan terdapat pula pandam pekuburan. Sehingga sampai sekarang terkenal julukan “Lubuk Mesjid di Talata”. Sebagian penduduk ada yang meneruskan perjalanan menuju arah hulu “Air haji” melalui “Bukit Sambung” dan berhenti disebuah gunung yang bernama “Gunung Sari Baganti” dan di gunung tersebut ketua rombongan meninggal dunia.

Penduduk yang bertahan di Talata dulu, karena berbagai gangguan kemudian mengiliri sungai dan bermukim didaerah “Rumah nan Ampek”. Selanjutnya perkampungan diperluas sampai ke “Kampung Jelamu, Sawah Lurahan, Kampung Talawi dan Kampung Solok”. Terakhir diketahui, rombongan penduduk yang sampai di Rumah nan Ampek terdiri dari Suku Chaniago, Panai, Malayu dan Kampai. Itulah sebabnya, daerah tersebut dikenal dengan Rumah Nan Ampek. Pimpinan rombongan ini dikenal dengan “Ninik Mamak Nan Barampek Jalan Ulu, nan manampuah Bukit Barisan dan Pematang Nan Panjang”. Setelah beberapa waktu bermukim karena berbagai gangguan, rombongan Rumah Nan Ampek kembali lagi ke Kampung Akat.

Perpindahan rombongan pertama ini berakhir di Tandikek Ambacang setelah melaui jalan lama yang melewati Lagan Ketek dan Lagan Gadang. Ditempat tersebut penduduk menetap dan diperkirakan terjadi pada akhir abad XV (± tahun 1490).

Kedatangan Rombongan Kedua (abad 16)

Penduduk yang pindah dari alam surambi Sungai Pagu dan tergabung dalam rombongan kedua dimaksudkan untuk mencari rombongan pertama yang dulu pernah pindah.

Rombongan kedua dipecah kedalam dua kelompok yaitu:
A. Kelompok pertama terdiri dari suku Malayu, Chaniago dan Sikumbang melalui Bukit barisan dan tembus di hulu Nagari Surantih (Langgai).
B. Kelompok kedua terdiri dari Suku jambak melalui Bukit Barisan dan tembus di hulu nagari Kambang.

Pimpinan kedua kelompok ini dikenal dengan “Ninik Mamak Nan Batujuah” karena dari suku Malayu terdiri dari empat orang ninik mamak dan dari Lareh Nan Tigo ( Suku Chaniago, Sikumbang dan Jambak).

Setelah sampai didua daerah diatas, kedua kelompok yang tergabung dalam rombongan kedua tidaklah menetap, karena tujuannya adalah mencari rombongan pertama dulu. Setelah beberapa lama mencari, tetapi rombongan pertama tidak juga bertemu maka kedua kelompok diatas kemudian bergabung dan menyisiri pantai kearah selatan.

Rombongan kedua pertama kali bermukim di daerah “Katapiang Gadang/Pandan Banyak” yaitu antara muara Sumedang dengan Muara Punggasan. Pada tahap selanjutnya penduduk makin bergeser keselatan sampai didaerah “Damar Condong/Durian Condong” yaitu kira-kira batas antara muara Air Haji dengan Muara Punggasan dan akhirnya setelah sekian lama bermukim, penduduk gelombang kedua berbalik menuju utara dan menetap di Muara Punggasan. Disanalah taratak dipancang, membuat labuah dan tapian mandi. Dimana yang berbakat tani kemudian menjadi petani dan yang berbakat nelayan kemudian menjadi nelayan.

Beberapa waktu kemudian diketahui bahwa penduduk yang tergabung dalam gelombang pertama perpindahan dari Alam Surambi Sungai Pagu ternyata bermukim di hulu sungai. Akhirnya dalam pertemuan antara penduduk yang tergabung gelombang pertama dengan penduduk yang tergabung dalam gelombang kedua, lahir kesepakatan bahwa diantara yang ber-empat rombongan jalan diulu dengan yang bertujuh dari hilir membuat suatu pemukiman bersama yang disebut “Padang Sabaleh”. Seiring dengan itu dilakukanlah pembagian wilayah kekuasaan diantara mereka yaitu:
1.Batas yang dapat dilimbur pasang ke hilir adalah kekuasaan orang dihilir (gelombang ke dua) seperti daerah Pasir Nan Panjang, Babang Pamukatan, Nan Babungo Karang, Nan Ba Payuang Waru.
2.Batas yang dapat dilimbur pasang ke arah Mudik adalah kekuasaan orang yang dihulu (gelombang pertama) seperti daerah Kayu Nan Babniah, Nan Gadang Kalaso Nan Runciang Tanduak, Buah Manih dan Buah Masam.

Hasil pertemuan yang melahirkan kesepakatan Padang Sabaleh inilah yang dipercaya sebagai awal berdirinya Nagari Punggasan, ± 1511 M.

Karena pertambahan penduduk maka dilakukanlah perluasan pemukiman dan wilayah pertanian. Rombongan ninik mamak Nan Barampek Jalan di Ulu memperluas areal kearah hulu mengikuti rintisan pertama seperti Rumah Nan Ampek, Sawah Lurahan, Jelamu, Solok dan Kampung Talawi. Suku Malayu mengambil tempat di kampung Limau Antu dan wilayah sekitarnya. Dihilir daerah suku Malayu ditempati oleh suku Kampai. Kemudian karena perkembangan dari kampung Limau Antu, suku Malayu melewati perkampungan suku Jambak menuju daerah Gunung Linggo dan sekitarnya. Penyebaran suku Panai tidak langsung kehilir, tetapi tiap areal kosong yang tidak ada pemiliknya dikuasai oleh suku Panai. Ketiga suku ini, kedepan mempunyai hubungan saling semendo-menyemendo. Khusus penyebaran mengenai penduduk suku Chaniago, karena anggotanya sedikit, perluasan hanya dilakukan pada bagian mudik yaitu di Taruko Baru dan Sawah Ladang saja.

Suku Malayu, Kampai dan Panai kemudian mendirikan Mesjid di kampung Kampai DT. Rajo Bagindo. Kemudian disebut dengan kampuang Mesjid Lama. Beberapa waktu kemudian mesjid diganti dengan mesjid baru didaerah Koto Langang, kampung DT. Rajo Marah. Kemudian dipindahkan lagi kedaerah Padang Kayu Dadiah sehingga mesjid yang berpindah-pindah tersebut dijuluki oleh mesjid bararak.

Sumber 

Dari blog Andiko Sutan Mancayo ttg Nagari Punggasan

About these ads

7 Comments

  1. Lubuk gambir saya salut mampu mengeluarkan perbendaharaan lama. Gadang hati anak pasisia. Tanyo ciek, menarik ttg Banda X: khusus wilayah
    Banda nan Sepuluh adalah: ????
    1. Aie Haji
    2. Sungai Tunu
    3. Palangai
    4. Punggasan
    5. Lakitan
    6. Kambang
    7. Ampiang Parak
    8. Surantiah
    9. Batang Kapeh
    10. Bungo Pasang
    Ingin tahun di mana sumbernya?, ada ndak petanya?. Kalau lai ado waktu, saya mengundang ke Pusat Penelitian IAIN Imam Bonjol, bersama-sama kita menulis sejarah dan kebudayaan pesisir selatan…. ok?

    • mokasih alah mampir, yth Pak Yulizal,
      mengenai sumbernya adalah dari sebuah blog kakak sekaligus teman saya di rantauNet (seorang alumni Fakultas Hukum Unand). ini blognya: http://my.opera.com/andikosutanmancayo/blog/?id=1170672
      dan juga dari buku sejarah Nagari Cupak Kabupaten Solok.
      petanya gak ada, pak
      saya tertarik utk menulis sejarah Pessel / Banda Sapuluah, Pak tp belum ada kesempatan utk pulang ke Padang. kapan2 bisa, saya hubungi bapak

      makasih

      salam
      syafroni malin marajo

    • Pak Yulizal,
      Peta bisa diambil di artikel Konfederasi Banda Sapuluah di Mozaik Minang

  2. Yulizal Yunus e-mail: yy_datuk@yahoo.com facebook datukyuyu@yahoo.com http://www.wawawsanislam.wordpress.com
    Mengundang redaksi dan owner Lubuk Gambir, ke Puslit IAIN Imam Bonjol
    dapat diberitahu kesempatannya 081977581500

  3. terima kasih atas serahnya ,saya sangat tertarik dengan sejarah banda sapuluh tersebut.namun di sini saya menambahkan sesuai dengan bukti yang saya punya dari suku malayu yang ke hulu surantih/ Langgai dalam tambo kaum itu di sebutkan bahwa rombongan ini berasal dari kerajaan alam surambi sungai pagu pasir talang,konon sejarah yang di tulis terdiri dari suku malayau sikumbang dan caniago padahal ada rombongan itu dari tigo lareh suku jambak.pimpinan dari rombongan itu adalah Tunggu Anau suku malayu yang bergelar Datuk rajo alam. terima kasih.

  4. terimakasih sudah mampir di blog saya, pak…
    dan juga terima kasih atas informasi yang sangat berguna ini.
    bisa jadi kepindahan itu terjadi beberapa gelombang, pak..

    makasih

    Syafroni Malin Marajo

Trackbacks

  1. Tambo Nagari Punggasan « Paco Paco

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers

%d bloggers like this: