Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

” KEMAS DJAMALUDDIN ” PANGLIMA PERANG KERAJAAN SRIWIDJAYA


SEJARAH SINGKAT KETURUNAN ” KEMAS DJAMALUDDIN ” PANGLIMA PERANG KERAJAAN SRIWIDJAYA DENGAN GELAR ( HULUBALANG )

Kemas Djamaluddin berasal dari Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Kemas Djamalauddin tiga saudara beliau yang tertua, yang kedua Kemas Mahmud Badaruddin , dan yang bungsu Kemas Ahmad Najamuddin . Ibu mereka bertiga bernama Nyimas Ayu Nilawati saudaranya Nyimas Ayu Djuita yang tengah, dan yang tua namanya Nyimas Ayu Rindu ( Putus/mati ).

Nyimas Ayu Djuita mempunyai 1 orang anak yang bernama Kemas Haji Pasir, lahir di padang pasir Mekkah.

Ayah Nyimas Ayu Nilawati, Nyimas Ayu Djuita dan Nyimas Ayu Rindu adalah Raden Mas Darpa Wangsa dan saudara (kakaknya ) Raden Mas Dipa Negara. Anak cucu Raden Mas Dipa Negara tinggal di Palembang (lihat Tembo/silsilah).

Ayah Raden Mas Dipa Negara dan Raden Mas Darpa Wangsa bernama Raden Mas Pantja Negara, ibunya Putri dari Kerajaan Sriwdjaya ( anak dari Sultan Sriwidjaya Palembang ).

karena huru-hara perperangan itu banyaklah perempuan-perempuan, anak-anak dan gadis-gadis yang berumur dua atau tiga tahun yang hilang diculik dan dibunuh, dan ada pula perempuan dan gadis-gadis itu yang diperkosa oleh pengacau-pengacau perperangan, termasuk juga Isteri Raden Mas Pantja Negara yang hilang tidak tentu rimbanya karena itu Raden Mas Pantja Negara serta Dua orang anaknya laki-laki ( yang Tua Raden Mas Dipa Negara dan yang bungsu bernama Raden Mas Darpa Wangsa ) menyingkir ke Demak, dari Demak terus ke Surabaya di kampung kebun Jati dan dari situ menyeberang ke Sumatera, lantas pergi ke Palembang menemui datuknya ( Sultan Sriwdjaya ).

Kedua anaknya itu dikawinkan dengan Putri-putri dalam Keraton Sriwidjaya, Raden Mas Dipa Negara semua keturunannya berada di Palembang ( lihat dalam Tembo ).

Raden Mas Darpa Wangsa mempunyai anak 3 orang ; yang tua Nyimas Ayu Rindu meninggal waktu mudanya (putus), yang tengah Nyimas Ayu Djuita, dan yang bungsu Nyimas Ayu Nilawati.

Nyimas Ayu Nilawati mempunyai 3 anak ; yang tua bernama Kemas Djamaluddin, yang tengah Kemas Mahmud Badaruddin , dan yang bungsu bernama Kemas Ahmad Najamuddin .

Kemas Djamaluddin dan Kemas Hadji Pasir diangkat oleh Sultan menjadi Panglima Perang dengan Julukan Hulubalang.

Kemas Djamaluddin dipersenjatai dengan Keris Pusaka dari Keraton Sriwdjaya yang bernama Djambangan Naga Paksi dan Kemas Haji Pasir dipersenjatai dengan sebilah Pedang Pusaka dari Keraton bernama Djambatan Sorga.

Kemas Mahmud Badaruddin diangkat menjadi Sultan untuk menggantikan beliau.
Setelah Indonesia dikuasai oleh Pemerintah Inggeris, maka Sultan Mahmud Badaruddin di berhentikan oleh Pemerintah Inggris dan diangkatlah Kemas Ahmad Najamuddin untuk menggantikannya.

Kemas Djamaluddin dan Kemas Haji Pasir karena tidak mau tunduk atau menyerah, maka ditahan oleh Pemerintah Inggeris, lantas di asingkan ke Pulau Bali, dan dari sana dipindahkan ke Lombok, dan dari Lombok dipindahkan ke Pulau Pisang dan dari Pulau Pisang dipindahkan ke Kroei. Beberapa lama di Kroei keduanya itu dapat kebebasan dari Pemerintah Belanda, karena Indonesia telah dikuasai oleh Belanda.

Kemas Haji Pasir tetap tinggal dan bermukim di Kroei, sedangkan Kemas Djamaluddin berangkat ke Bintuhan, dan dari Bintuhan dengan jalan kaki terus menuju ke Manna, sampai di Marga Bengkenang, singgah di Dusun petani menumpang di Rumah Depati, dan kebetulan pula disitu ada seorang Sech dari Banjar beserta isteri dan seorang anaknya yang masih Gadis. Kemas Djamaluddin dikawinkan dengan anak Sech dari Banjar tersebut.

Beberapa lama kemudian Kemas Djamaluddin di karuniai 4 orang anak ; yang tua bernama Kemas Bangsa, yang kedua Kemas Djema’un, yang ketiga Kemas Djemparing dan yang bungsu bernama Kemas Djempawan. Kemudian Isteri Kemas Djamaluddin meninggal dan anak beliau yang tua meninggal pula meningkat Dewasa.

Kemas Djamaluddin pindah ke Manna, mendirikan Rumah ditebing Bendera ( Tanjung Pura ) dan setelah tinggal dan bermukim disitu, tempat itu beliau namai Tanjung Menang, setelah tanahnya sudah beliau timbang dengan tanah Tanjung Besar ( Bengkenang ), maka jauh lebih berat tanah Tanjung Menang.

Setelah ketiga anak-anak beliau itu dikawinkan, maka beliau mersa kesepian, lantas beliau membuat kebun sayur serta mendirikan Rumah di Karang Berahi dan beliau buat pula sebidang Kebun Bunga yang beliau namai Taman Bunga Tanjung beberapa lama disitu, lantas beliau membuat pula kebun sayur serta mendirikan Rumah di Gemuruh. Setelah beliau tua serta selalu mendapat sakit dan tak kuasa lagi bekerja, maka beliau pulang ke Rumah anak beliau ( Kemas Djema’un ) di Pasar Manna.
Sebelum Beliau meninggal, maka Perumahan di Gemuruh dan di Tanjung Menang, serta Keris Pusaka beliau serahkan kepada anaknya Kemas Djema’un, dan tanah Perumahan Karang Berahi serta Kebun Bunga Tanjung beliau serahkan kepada anaknya Kemas Djempawan.

Kemudian Kemas Djema’un menyerahkan Tanah di Gemuruh kepada Datuk Mendiko Radjo dan Perumahan di Tanjung Menang diserahkan kepada Abdul Hamid dan Keris Pusaka dipertaruhkan kepada Nangbudi, dengan ketetapan Keris tersebut boleh dipinjamkan kepada siapa-siapa yang ada hak memegangnya.

Kemas Djempawan menyerahakan Tanah Perumahan Karang Berahi dan Kebun Bunga Tanjung kepada Akbarsyah.
Demikian Sejarah ringkas dari asal Keturunan Kemas Djamaluddin.

KETERANGAN DAN KEDATANG TEMBO/SILSILAH KEMAS DJAMALUDDIN

Pada waktu Poyang Abd. Hamid masih hidup, bertempat di Tanjung Menang beliau menerima tamu 2 Orang Pemuda yang mengaku datang dari Palembang dan mengatakan bahwa beliau berdua itu adalah keturunan dari Raden Mas Darpa Wangsa, maksud mereka datang ke Manna untuk menanyakan dimana tempat Kemas Djamaluddin tinggal bermukim dimasa hidupnya dan dimana beliau di Makamkan. Maka Mereka berdua itu ada membawa sepotong Tembo/silsilah yang telah usang karena sudah lama disimpan.
Tembo/silsilah tersebut berisi wirid-wirid keturnan Kemas Djamaluddin, tembo/silsilah itu adalah menunjukkan anak cucu dari Raden Mas Darpa Wangsa sampai kepada cucunya yang bernama Kemas Haji Pasir, Kemas Djamaluddin, Kemas Mahmud Badaruddin dan Kemas Ahmad Najamuddin (lihat tembo/silsilah).

Tembo/silsilah tersebut lantas disalin dan diteruskan oleh Abd. Hamid, setelah disalin dan diteruskan, maka dikembalikan kepada Kedua Pemuda itu, kemudian keduanya pergi melihat Makam Kemas Djamaluddin dan menemui anak cucu Kemas Djamaluddin tersebut, setelah selesai urusannya maka Keduanya berangkat pulang ke Palembang.

Bengkulu, Nopember 2011
Disalin Kembali Oleh :

1. Ichwan Alimuddin ( Generasi ke 9 )
2. Moh. Rizal Alimuddin ( Generasi ke 9 )
3. Henky Irawan ( Generasi 10 )

Catatan ;
Manna,— disalin oleh Abd. Hamid (Penyalin Pertama), sudah 7 generasi dari penyalin saat ini.
Manna, 30-5-1979 disalin oleh Muchsin Effendi, M
Manna, Februari 1989 data oleh Alm. Amir Hamzah ditulis kembali oleh Dj. Purwoko
Bengkulu,—– Data A. Rahim Harun dan ditulis kembali oleh H.M Yunus Musa

About these ads

1 Comment

  1. djeneng

    menurut beliau kemas djamaluddin, beliau tidak memiliki keturunan dikarenakan, belian tidak mempunyai istri, beliau sibuk dimedan peperagan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers

%d bloggers like this: