Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Marelang Kampung Dindaku


Marelang adalah sebuah dusun di desa Koto Nan Salapan yang sekarang menjadi kampung semenjak pemerintahan Nagari di Sumatera Barat sehingga namanya menjadi Kampung Koto Nan Salapan di Kenagarian (Nagari) Palangai, Kecamatan Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan.

Disinilah dindaku dibesarkan. Lho bukan tanah kelahiran? Ya sabar dulu. Dindaku emang gak dilahirkan di kampungnya tapi di Kota Padang. Hebat kan… dilahirkan di kota, bukan di desa. Bukan songong lho… tapi itulah kenyataannya.

Ok kembali ke laptop.

Keadaan Kampung Marelang ini (ups… sebenarnya ia sebuah dusun bukan level kampung, kampungnya Koto Nan Salapan yang biasa ditulis romawi dengan Koto VIII), keadaannya mirip dengan keadaan kampungku Lubuak Gambia atau Lubuk Gambir bahasa Indonesia. Kalau kita datang ke kampung ini dari arah kota Padang menuju Tapan, maka kita akan sama-sama belok kiri untuk masuk ke kampung ini. Ini satu persamaannya.

Kedua, di pinggir dusun atau kampung ini sama-sama ada sebuah sungai. Saya sudah pernah merasakan mandi dengan air kedua sungai ini yang airnya sungguh segar sekali.

Di sungai di Marelang ini terdapat sebuah jembatan gantung untuk akses trasportasi penduduk ke Subarang Aie (seberang air). Inilah bedanya dengan sungai di kampungku Lubuak Gambia, gak ada jembatan walaupun sekedar jembatan gantung menuju Subarang Aie (arah ke Bukik Karang Putiah) atau ke Baluka dan Ngalau (arah ke Bukik Ronjong). Padahal kalau air sungai sudah meluap yang istilah di kampungku “Aie Gadang” maka terhenti sudah akses penduduk ke lahan pertanian dan ladang-ladang mereka di hutan perbukitan Bayang tersebut. Tapi kayaknya memimpikan ada sebuah jembatan gantung kesana serasa mimpi karena amat jauh dari kemungkinan nyata. tapi tak ada yang tak mungkin kalau Tuhan Mentakdirkan.

ok, kita lanjut…. kembali ke Melang (nama ringkas Marelang oleh masyarakatnya).

di Marelang dan dusun-dusun lainnya di Nagari Palangai tidak terdapat beberapa suku yang ada di kampungku Lubuk Gambir. Misalnya disini tidak ada suku Tanjung baik Tanjung Gadang maupun Tanjung Kaciak (Tanjuang Ketek).

Suku-suku disini adalah Suku Sikumbang, Suku Kampai, Suku Caniago, suku Jambak dan suku Melayu. Kata orang disini, suku Tanjung itu bersaudara dengan suku Sikumbang. Berarti saya dan istri saya sebenarnya sesuku yaitu Tanjung dan Sikumbang. tapi menurut adat sekarang tidak masalah nikah sesuku asal tidak sedatuk atau sekampung.

Ok… sobat.

sebenarnya banyak lagi yang perlu saya ceritakan tentang Kampung Melang ini. lain kali saya lanjutkan ya..

Batam, 3 Muharram 1431 H

Selamat Tahun Baru 1431 H

semoga hari-hari kita di masa yang akan datang lebih baik dari sekarang. Amin

3 Comments

  1. Kadri

    Nama? penulis siapa. Saya juga berasal dari marelang dan sikumbang adalah suku saya.

    • iko blog ambo roni suami wati melang da. bilo uda pulkam da?

  2. kecek ambo, foto ambo kok lai jaleh nampak dek uda… hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: