Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Tambo Nagari Cupak


Suku yang pertama menempati Cupak adalah suku melayu dan suku sikumbang yang datang dari Luhak Tanah Datar. Awalnya mereka bermukim di Sawah XIV, di selatan nagari Koto Baru sekarang. Dari Sawah XIV mereka terus menyebar ke Sawah Laweh dan Air Angek Gadang. Terus berlanjut hingga Tanjung Limau Purut. Disinilah akhirnya mereka mendirikan kerajaan Tanjung Limau Purut.

Raja mereka bergelar Tuanku Rajo Disambah, kalau tidak salah gelar ini sama dengan gelar raja di Sungai Pagu.

Kerajaan ini sezaman dengan kerajaan Pariangan, di Padang Panjang. Yang diangkat sebagai raja adalah dari suku Melayu. Mungkin karena mereka mayoritas diantara suku-suku yang ada.

Seorang raja didampingi oleh pembesar yang jumlahnya empat orang yang disebut sebagai Gadang nan Barampek (pembesar yang berempat) yaitu :

  1. Rajo Tuo (melayu)
  2. Rajo Bandaro (melayu)
  3. Rajo bagindo (melayu)
  4. Rajo Padang (sikumbang).

Di kemudian hari melayu ini diidentifikasi sebagai melayu mudik dan sikumbang dengan sikumbang gadang.

Kemudian menyusul datang suku-suku Jambak, dan melayu tangah. Juga Piliang, melayu sigalabuak, parak laweh dan caniago.

Era Pariangan 
pada masa ini Kerajaan Limau Purut diperintah oleh dinasti Tuanku Rajo Disambah.

Era Bungo Setangkai
pada era ini Kerajaan Tanjung Limau Purut diambil alih oleh dinasti Datuk Yang Dipertuan.

Pada masa terjadinya perpindahan pusat kekuasaan di Luhak Tanah Datar dari Pariangan ke Bungo Satangkai, maka di Tanjung Limau Purut juga terjadi pertukaran kekuasaan dari Tuanku Rajo Disambah ke Datuk Yang Dipatuan disebabkan oleh tidak adanya calon raja dari fihak keluarga Tuanku Rajo disambah.

Maka terjadi perubahan pula pada struktur pemerintaha yaitu dari empat pembesar menjadi dua bendahara plus tiga pembesar yang dikenal dengan Bandaro nan duo gadang nan batigo.

Mereka terdiri dari :

  1. Dt. Bandaro Sati (Caniago)
  2. Dt. Bandaro Kutianyia (Jambak korong Kutianyia)
  3. Dt. Mudo (Piliang)
  4. Dt. Basa (Sikumbang)
  5. Dt. Kayo (Jambak, bukan penghulu)

Tampak disini bahwa kerajaan tidak lagi hanya didominasi oleh suku Melayu melainkan sudah diiisi oleh semua unsur suku yang ada. Namun raja tetap dipegang oleh suku melayu.

Era Bukit Batu Patah (Pagaruyung) 

Pada era ini, dinasti Tuanku Rajo Disambah kembali berkuasa dan menandai awal sejarah Nagari Cupak.

Ketika kerajaan Pagaruyung berdiri di Bukit Batu patah menggantikan Bungo Satangkai, maka juga mempengaruhi keadaan politik di Tanjung Limau Purut.

Tanjung Limau Purut kembali diambil alih oleh dinasti Tuanku Rajo Disambah. Pusat pemerintahan juga dipindahkan ke Tumpuk Mudik. Disinilah sejarah nagari Cupak dimulai.

Tanjuang Limau Purut melakukan pemekaran wilayah. Tanjung Limau Purut sendiri selanjutnya disebut sebagai Cupak saja, sesuai fungsinya sebagai Cupak Nan Usali atau Cupak Pusako.

Sementara Air Nanam sebagai Gantang yang kemudian mendirikan Nagari Salayo bersama penduduk Padang Kunik. Penduduk Air Nanam bersama penduduk padang Sabaleh mendirikan Nagari Gantang Suri yang kemudian terkenal dengan nama Gantuang Ciri.

Didalam lembaga adat Tanjung Limau Purut (Cupak) berfungsi sebagai Cupak Galeh (takaran perdagangan), sementara Air Nanam berfungsi sebagai Cupak gantang (ekonomi).

Era Tuanku Maharaja Sakti I (Pagaruyung) 

Pada waktu Pagaruyung diperintah oleh DYD (Yang Dipertuan) Tuanku Maharajo Sati (YDP Rajo Bagindo Dewang Ramawana), Cupak Pusako berganti nama menjadi Cupak Usali. Dan sudah terdapat 13 suku di nagari Cupak.

Era Tuanku Maharajo Sakti (II) 

Pada masa Raja Tuanku Maharajo Sati (II)  yaitu Dewang Sari Deowano mengirim Puti Pinang Masak untuk meneruskan keturunan keluarga Tuanku Rajo Disambah.

Puti Pinang Masak adalah putri dari Puti Tabur Urai (II) yang sudah dikirim Pagaruyung sebelumnya ke wilayah Kinari.  Suami Puti Tabur Urai adalah Sang Hyang Indo Rajodeo (Indera Raja Dewa), yang tak lain adalah adik dari Yang Dipertuan Besar Tanah Sang Hyang (Sangiang/Sangir) yang bernama Sang Hyang Rani Indopuro, permaisuri Raja Pagaruyung Yang Dipertuan Rajo Bagindo (Dewang Ramowano), pendahulu Tuanku Marajo Sati (II).

Era Pemerintahan Dinasi Tuanku Rajo Usali

Sebenarnya gelar Tuanku Rajo Usali ini adalah gelar bagi Raja Cupak yang dianugerahkan oleh Raja Pagaruyung tapi Raja yang memerintah Cupak waktu belum mau memakai gelar tsb melainkan masih memakai gelar Tuanku Rajo Disambah.  Kemudian salah seorang anak dari Puti Pinang Masak yang menikah dengan putri Raja Cupak baru memakai gelar Tuanku Rajo Usali yang pertama kali walaupun Tuanku Rajo Disambah waktu itu masih hidup. Istri raja Tuanku Rajo usali waktu itu adalah suku Sikumbang. Dan tempat kediamannya dinamai sesuai daerah asal di pagaruyung yaitu Gudam.

Kemudian hari diketahui ada tujuh orang raja penyandang gelar Tuanku Rajo Usali.

4 Comments

  1. Andess

    bisa diskusi tentang tambo cupak ini gan?

  2. Sdri Oktaria,
    terima kasih sudah mampir menjingau2 blog saya ya…
    salam kenal
    saya siap sekali utk diskusi dengan anda
    kapan bisa kita mulai?

    wasalam
    Syafroni Malin Marajo

    • andess

      Beberapa hari lagi kami akan melakntik ketua KAN yang baru. misi utama beliau adalah menggali lagi tambo nagari cupak, karena gudam (gudan dalam dialek cupak) sudah terbakar, dan selam ini tidak ada yang meninggalkan riwayat ini secara tertulis karena hanya diwarisi secara lisan.
      terima kasih…………………

Trackbacks

  1. Tambo Nagari Cupak « Paco Paco

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: