Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Silsilah suku Tanjung


11 Juli 2009

Keluarga saya

Inilah anak-anak dari Ibu saya, Dasniati suku Tanjung Kaciak atau Tanjung Ketek menikah dengan ayah saya, Jamalus Datuk Rajo Panghulu suku Caniago : Elmiyenti (El), Erwandi (Edi), Delviyendri (Yen), Irwan (Iwan), Elvi Suryani (Epi), Syafroni (Roni), Afrizal (Ipal), Zulfadli (Ul) dan Nelma Fitri (Fit).

Uni saya, El menikah dengan Uda Ujang (Amrizal) dari suku Tanjung Gadang, mempunyai anak tiga orang :

  1. Danny Putri Amelia (Danny)
  2. Angga Saputra (Angga)
  3. Salsabila (Salsa).

Da Edi menikah dengan Ni Dewi dari suku Jambak, mempunyai anak 2 :

  1. Ranti
  2. Randi

Da Iyen menikah dengan seorang gadis betawi berdarah Jawa, mempunyai anak 2 orang yaitu  Fajar dan Fahri.

Da Iwan menikah dengan Mbak Marni asal Purbolinggo, Jawa Tengah, mempunyai anak dua orang yaitu : Siti dan seorang laki-laki.

Ni Epi menikah dengan da Deni dari Koto Baru bersuku Caniago, mempunyai anak dua yaitu Irma dan Rido.

Saya sendiri, Roni, menikah dengan Fatmawati (Fat atau Wati) suku Sikumbang asal Balai Selasa, masih dalam kandungan.

Adik saya, Ipal, menikah dengan Eka dari Barung Belantai Tarusan, besar di Jakarta, saya lupa dari suku apa, mempunyai seorang putra bernama Andrea.

Zulfadli dan Nelma Fitri belum menikah.

Saudara-saudara ibu

Ibu saya bersaudara seibu lain ayah ada empat orang yaitu Tek Tati, Tek Am dan Tek Ir.

Tek Tati menikah dengan Pak Abu dari suku Melayu (tidak tahu apakah panai, bendang atau melayu gadang) di dusun kapalo koto, dikaruniai 4 orang anak yaitu : Esi, Si Ed, Reni dan Hendra.

Esi menikah dengan anak kakak istri Pak Cukan (kakak si Ir), suku Melayu Ganting, sudah beranak satu bernama Yafi.

Si Ed dan Hendra belum menikah, dan sekarang di Jakarta. Reni menikah dengan orang Solok.

Tek Am menikah dengan Pak Ilyas asal Kambang, mungkin suku Melayu, beranak tiga yaitu Ilham, Dewi dan Danil. Dewi baru saja menikah. Ilham dan Danil belum menikah.

Tek Ir (alm) menikah dengan Pak Ii suku Jambak beranak 4 kalau tidak salah, yaitu Butet, Eko, Dodo dan satu lagi siapa namanya.

Saudara-saudara nenek

Nenek saya bernama Syamsinyar atau biasa dipanggil Sinya sesuai logat kampong saya. Nek Sinya bersaudara dengan nek Jirah, angku Newan, angku Dukan dan Nek Nyi’ar.

Gek Jirah menikah dengan suami pertamanya, beranak wan Nawas dan wan Kutar. Dan dengan suami keduanya kalau tidak salah bernama Janait, beranak dua orang laki-laki yaitu wan Duar dan wan Jamaris.

Nek Nyi’ar tidak mempunyai anak.

Angku Newan tidak dketahui bagaimana kisahnya.

Angku Dukan menikah dengan orang Jambak, mantan istri angku Apung (kakak Gek Baini) mempunyai anak : asna, inan, ishak, calak.

Anak-anak Gek Jirah

Wan Nawas menikah dengan Tuo Salat suku Jambak, beranak da Furi, da Edi, da Andan, Ni Dati dan da Asnil.

Da Furi menikah dengan orang Padang, aur duri, mata air. Da Edi menikah dengan orang hilir, da Amdar menikah dengan Ni En orang Padang berdarah Nias, da Asnil menikah dengan orang hilir juga. Ni Dati pernah menikah dengan Ramli asal hilir dan da Yung Kadan, dunsanak kami juga tapi tidak mempunyai anak.

Wan Kutar dikatakan menikah dengan orang Kapujan tapi tidak jelas kisahnya.

Wan Duar menikah tek Eti suku Melayu Panai di baruah, sekarang tinggal di Jakarta. Beranak da Iwan, dan tiga orang anak perempuan.

Wan Jamaris menikah dengan Tek Juni suku Jambak beranak Titi, Yusuf, Buyung, Vera dan beberapa orang anak lagi.

Anak-anak Angku Dukan

Karena system matrilineal di Minangkabau, jadi kami tidak begitu dekat dengan fihak anak-anak angku Dukan. Yang diketahui adalah Inan menikah dengan orang kapencong. Asna menjanda dan tidak tahu siapa suami sebelumnya. Ishak dan Calak tidak diketahui kisahnya.

Asna mengangkat anak dari anak kakak perempuannya, putri dari Angku Apung.

Saudara-saudara dari ibu nenek

Ada yang mengatakan bahwa ibu dari nenek saya bernama Siti Hawa. Ia bersaudara dengan ibu dari Gek Mayang bersaudara. Dan beberapa angku lainnya.

Gek Mayang bersaudara

Gek Mayang bersaudara dengan Gek Nurani, Gek Umi dan Angku Yapas.

Gek Mayang mempunyai anak : Tek Iluih, Tek Si As, Tek Uneh, Wan Syahrial, Wan Syahmur, Wan Buyung, Tek Upik. Semuanya di Jakarta.

Tek Iluih, Tek Uneh, Wan Syahrial dan semua yang di Jakarta tidak begitu tahu saya kisah mereka. Saya hanya ingat wan Buyung yang menikah dengan Putri Pak Mudar, kakak Uri Datuk Sari Mole.

Tek Si As menikah dengan Pak Kacik (Zulkifli) suku Melayu Panai di Baruah, beranak Rema, Eva, Joni, Cuwis, si It, Meri, Ijul dan izel.

Rema tidak diketahui menikah dengan siapa. Eva menikah dengan Epi anak Gek Sahi suku Melayu Panai di baruah, tetangga rumah ibu Pak Kaciak, ayah Eva. Sudah beranak berapa juga tidak diketahui. Sekarang di Jakarta.

Joni dan Cuwis tidak diketahui menikah dengan siapa. Kalau tidak salah Si It menikah dengan Mardas anak Tek Tuti. Meri dengan orang Kapujan, sudah beranak satu. Ijul dan Izel di Jakarta.

Keluarga Gek Nurani

Gek Nurani beranak Wan Numan, Wan Bujal, Wan Sudi, Tek Murni dan Tek Nati. Wan Numan menikah dengan orang Jawa tinggal di Lampung. Wan Bujal menikah dengan famili istri wan Aman di Kapencong, kalau tidak salah suku Melayu, tinggal di Jambi. Wan Sudi menikah dengan orang kepala Koto, suku Melayu panai di ateh, di seberang jalan rumah Uncu Rajo Intan, tinggal di Jakarta. Tek Murni juga di Jambi. Tek Nati menikah dengan Pak Isyaf suku Caniago Lubuk Aur, beranak Atul, Dika, Diyah, dan beberapa orang anak lagi.

Keluarga Gek Umi

Gek Umi dengan suami pertamanya beranak Tek Ermi dan dengan suami keduanya Yah Ompong, beranak Tek Seri.

Tek Ermi menikah dengan Pak Ujang, anak Tuo Landi dengan Yah Bahar (bapak dari Tek Iruis).

Tek Seri tidak diketahui menikah dengan siapa.

Nenek dari Gek Sinya (Ibu dari Gek Siti Hawa)

Ibunda dari Gek Siti Hawa mungkin bersaudara pula dengan nenek dari Gek Sami. Nenek dari Gek Sami beranak ibu Gek Sami dan beberapa saudara lainnya.

Ibu Gek Sami mempunyai anak yaitu Gek Sami, Angku Si-a, Angku Ulud dan Gek Mani (mungkin Marni). Gek Mani beranak Wan Burhan dan Wan Bakhtiar. Kedua uwan ini tidak diketahui kisahnya.

Angku Ulud tidak mempunyai anak. Angku Si-a menikah dengan ibu Tek Tama suku Tajung Gadang Datuk Marajo Indo Syabri Syamsu. Angku beranak Tek Tama, Pak Anih dan mungkin beberapa orang anak lagi.

Tek Tama menikah dengan Pak Inci anak Gek Malan. Pak Inci bersaudara dengan Pak Suban, Yah Amia dan istri Pak Yung Basir.

Pak Anih menikah dengan Tek Idar, dunsanak kami. ‘

Keluarga Gek Sami

Gek Sami menikah dengan Yah Leman (Buya Sulaiman) suku Melayu Kapencong, beranak Tek Imis, wan Gusti, Tek Ila, Tek Is, tek Sur, dan Tek En.

Tek Imis menikah dengan Pak Jamilis suku Tanjung Gadang Datuk Rajo Intan Amir, beranak dua : Ni Pit dan Yen.

Ni Pit menikah dengan Da Chank (Mursal) suku Melayu asal Batang Kapas, beranak dua : Rayhan dan Rifo.

Yen belum menikah.

Tek Ila menikah dengan Pak Sarun (Syahrul) asal Koto Berapak, beranak Enti, Ipil, inel, Kiyam dan Ramzil.

Enti menikah dengan seorang duda asal Jawa Barat dan beranak satu orang. Adik-adik Enti belum menikah.

Tek Is menikah dengan Pak Imuih (Mus) asal Payakumbuh, tidak diketahui suku apa, beranak Yesi, Yandri, dan beberapa anak lainnya.

Yesi sudah menikah dan sudah punya anak. Tidak diketahui kisah lainnya.

Tek Isur menikah dengan Pak Inal suku Melayu Ganting, tidak dikaruniai anak.

Tek En menikah dengan orang Lubuk Aur, anaknya Sri. Kemudia setelah bercerai tek En menikah lagi dengan Pak Izal, seorang duda cerai mati dengan istrinya, dikaruniai beberapa orang anak.

Gek Baini bersaudara

Gek Baini bersaudara dengan gek Baya, gek Ubay dan Gek Anjani serta Angku Apung. Gek Baini menikah dengan Yah Abik (Habib) asal Tarusan tidak diketahui bersuku apa. Sebelumnya Gek Baini menikah dengan Risun, beranak Tuo Lianir dan Wan Suar (Azwar). Dengan Yah Habib, beranak Wan Amrin (Amril) dan Wan Aman (Kadirman).

Keturunan Gek Baini

Tuo Lianir menikah dengan Pak Udin suku Caniago Imam Malelo, beranak Ni Ima, Da Ujang, Da Isaf, Da Izal, Da Inaf, Da Ides dan Ni Ilen.

Ni Ima menikah dengan Sarun (Syahrul) suku Jambak, beranak Etri.

Da Ujang menikah ke Kapencong. Da Isaf menikah juga ke Kapencong. Da Izal menikah ke hilir. Da Inaf menikah dengan anak Daraweh suku Melayu (kalau tidak salah, aslinya Kapujan).

Da Ides menikah dengan Deni suku Tanjung Gadang Rajo Intan, anak dari uwan kandungnya sendiri yaitu anak Wan Suar. Tinggal di Jakarta.

Ni Ilen menikah dengan orang Hilir.

Keturunan Gek Ubay

Gek Ubay menikah dengan Yah Amia (Amir) suku Melayu Panai di baruah, kakak Pak Inci, beranak Tek Idar, Wan Pion, Uncu dan Saral.

Tek Idar menikah dengan Pak Anih, mamak rumah Pak Inci. Beranak Joni, Roni dan beberapa anak lainnya.

Tek Anih tidak ada kabarnya.

Wan Pion menikah dengan sepupunya sendiri, anak Gek Baya. Wan Pion tinggal di Bengkulu.

Wan Uncu (Uncu Peruik) dan Wan Saral tinggal di Jakarta.

Gek Baya menikah dengan Yah Tonggak asal Kapujan, beranak Tek Anih yang menikah dengan Wan Pion, Wan Ardi, dan beberapa anak lainnya.

Keturunan Gek Anjani

Gek Anjani mempunyai anak Tuo Liana, Tek Ijuih (Jus), Wan Sulan dan Wan Si Ong.

Tuo Liana mempunyai anak Da Ijeh. Tek Ijuih menikah pak Jaman dari keluarga Melayu Gadang atau Bendang Datuk Rajo Dilie. Beranak Ujang Embeh, seorang laki-laki, Izen, iyal dan si Us.

Da Ijeh menikah dengan Tek Upik, famili istri Eta, Idan, masih keluarga Rajo Dilie. Da Ijeh beranak Uwit dan beberapa anak lainnya.

Ujang Embeh menikah dengan Ramis, adik Beri, suku Melayu Ganting Sari Mole. Dikaruniai beberapa anak laki-laki.

Izen di Jakarta. Si Us menikah dengan wan Sansir (Syamsir) di Muko-muko.

Wan Sulan (Ruslan) menikah dengan anak Asna Suar, suku Caniago Bandaro Sati. Beranak beberapa orang, tinggal di kota Painan. Wan Sulan bekerja di Departemen Agama.

Wan Si Ong di Jambi, entah menikah dengan siapa.

Yah Apung menikah dengan ibu dari ayah saya yaitu Gek Kartini, tidak anaknya yang hidup. Kemudian Yah Apung juga menikah dengan wanita yang kemudian menjadi istri Angku Dukan. Kabarnya Angku Apung juga menikah ke keluarga Lena, istri Sawajin, juga ada anaknya di daerah Sago salido.

Gek Aneh

Nenek dari Gek Baini mempunyai seorang saudara seorang perempuan yang kemudian mempunyai seorang anak laki-laki bernama Aneh (Anas). Ada yang mengatakan bahwa beliau menikah ke negeri Salido Ketek atau Bungo Pasang.

Nenek dari Gek Baini ini bersaudara dengan nenek dari Gek Mayang dan nenek dari Gek Sami dan nenek dari ibu Tuo Naani.

Tuo Naani

Tuo Naani dengan suaminya beranak Ni Iyun dan Da Yung Kadan. Ni Yun menikah dengan orang Lubuk Aur, beranak tiga perempuan yaitu Santi, Yuli dan Iye. Santi dan Yuli sudah menikah.

Da Yung Kadan pernah menikah dengan orang Tarusan dan punya anak. Kemudian menikah lagi dengan Ni Darti, anak Wan Nawas.

Tuo Naani kemudian menikah lagi dengan Yah Kari, sepupu dari kakek saya, ayah dari ibu saya, yaitu Yah Bashir. Tapi tidak mempunyai anak.

Tidak diketahui apakah Tuo Naani ini mempunyai saudara laki-laki atau tidak. Mungkin tidak, sebab ada yang mengatakan ibunya dipanggil juga mak ciek atau ibu tunggal karena tidak punya saudara.

Ibu Tuo Naani mungkin juga tidak mempunyai saudara.

Keluarga Ni Mega

Ibu Ni Mega bernama Suna –dan neneknya bernama Lumek (Lumat)–, bersaudara dengan Kahar (ayah dari Dasman Kahar dan Cinaman), Wan Rahmat, Wan Simas (Masri) dan Wan Samsir (Syamsir).

Ni Mega bersaudara empat orang yaitu Ni Si Er, Da Mul dan Da satu lagi (Kuri).

Ni Mega menikah dengan Yung Basir  yang kemudian bergelar Datuk Rajo Dilie, beranak Joroi (Romi)  yang meninggal ditabrak ketera api di Jakarta dan suami keduanya Maredi suku Caniago asal Lubuk Aur, beranak Roli (Catan), Deni dan Metro (Cotok).

Ni Si Er menikah dengan Irun suku Tanjung Gadang masih bersaudara dengan Da Ujang, rang sumando saya. Beranak Rio dan beberapa anak lainnya.

Dan Imul dan satu lagi saudaranya tidak banyak diketahui ceritanya.

Wan Kahar, saya tidak pernah bertemu dia dan tidak tahu bagaiman wajahnya. Menikah ke suku Melayu Panai di ateh dan anaknya ada yang jadi ustadz yaitu Dasman Kahar. Anaknya yang lain adalah Cinaman.

Wan Rahmat menikah dengan Gek Mardiana suku Jambak, sepupu dari kakek saya, Yah Basir. Wan Rahmat adalah suami kedua dari Gek Mardiana, beranak Yung Uda dan Itos.

Wan Simas menikah dengan orang Koto Baru dan mempunyai beberapa anak disana. Kemudian menikah lagi dengan Tek Iyun suku Jambak, mempunyai beberapa anak yaitu alber, dan beberapa anak lainnya.

Wan Samsir menikah dengan Tek Ideh suku Jambak, beranak Evi, Iyal, Ujang dan Rio dan mungkin beberapa anak lainnya.

Iyal menikah dengan Si In anak Bu Sona, Melayu Ganting Datuk Sari Mole. Ujang menikah dengan Si Us anak Tek Ijuih.

Apakah nenek dari Ni Mega ini mempunyai saudara laki-laki atau saudara perempuan lainnya, tidak diketahui pasti.

Nenek dari ni Mega atau ibu dari wan Simeh ini apakah bersaudara dengan ibu Tuo Naani atau nenek Wan Simeh bersaudara dengan nenek Tuo Naani, tidak diketahui persis.

Yang pasti ibu dari Wan Simeh seangkatan dengan Gek Mayang. Nenek dari ibu Wan Simeh mungkin bersaudara dengan nenek dari Gek Mayang dan nenek dari Gek Baini dan nenek dari Gek Sami.

1 Comment

  1. Alangkah indanya mengetahui persis sanak saudara, etek, dan gaek kita. Saya masih mencari cari. Konon kakek buyut saya dari Bukit Tinggi, bernama Abdoel Wahid. Beliau keturunan India Gujarat, menikah dengan perempuan (konon putri bangsawan) Bukit Tinggi. Entah kenapa tidak ada yang ingat nama nenek buyut saya ini. Ceritanya bersama istrinya ini Abdoel Wahid mempunya 3 orang anak: Abdoel Manan, Fatimah, dan Abdoel Moethalib (ayah kandung ibu saya, Rosmimi) Setelah dewasa Abdoel Manan (kepala kantor pos palembang) dan Abdoel Moethalib (staff khusus di Stanvec-Sungai Gerong/Plaju) merantau dan menikah di Palembang.
    Konon, Kakek Buyut Abdoel Wahid dulu rumahnya di Tembok (yg sekarang Kebun Binatang Bukit Tinggi) dan kubur nya ada di Bukit Tinggi. Ketika Abdoel Manan meninggal ada menemukan sepucuk surat yang isinya silsilah dan beberapa harta warisan di Bukit Tinggi, tetapi zaman itu masih susah untuk menelusurinya. Konon, Nek Fatimah menikah dengan orang Payakumbuah dan keturunannya menjadi pedagang disana.
    Melalui Blog ini saya ingin sekali menelusuri jejak nenek buyut saya Abdoel Wahid, terutama siapa nenek buyut daru Bukit Tinggi. Saya cuma ingin bersilaturahmi dan ziarah kekuburnya, serta kenal dengan anak cucu keturunan Nek Fatimah binti Abdoel Wahid.
    Insya Allah niat saya disampaikan Allah swt, amin.
    Buat arwah nenek dan kakek buyut ini saya kirimkan Al Fateha dan doa semoga mereka menyambut saya. Mungkin satu2 nya cicit nya yang saat ini sudah berusia 54 tahun ingin mengetahui silsilah ini. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: