Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Basyir bin Abbas, kakek kami


Oleh : syafroni

Batam, 29 Feb 2008

Menurut cerita dari orang tua2, ayah kami terkenal dengan gelar “Pelong” dikarenakan beliau selalu menyisir rambut depannya memutar di kepalanya.

Gek mardiana bercerita, yah basyir seorang yang cekatan dan terampil. Beliau menyenangi kerja2 teknik spt teknik pertukangan. Beliau pernah sekolah di padang, sekolah pertukangan.

Menurut cerita2 juga, yah basyir terkenal dengan kebersihannya. Dia pernah menceraikan salah seorang diantara istrinya, kalau tidak salah istrinya yang di Kapujan, karena ternyata istrinya itu tidak benar2 bersih dalam mencuci piring untuk makan. Dan kabarnya beliau sempat punya anak dengan istrinya itu namun meninggal sewaktu bayi.

Yah basyir adalah anak tunggal dari ayah dan ibunya. Sepupunya cukup banyak yaitu gek mardiana, yah peri, yah mawin. Dan sepupunya yang lain adalah khairani, istri pe-o dan mawardi. Saya sempat juga melihat nenek tersebut, adik bungsu dari ibu kakek saya. Besar kemungkinan ibu dari kakek saya adalah anak tertua dalam keluarganya.

Adik atau keponakan kakek saya yang lain adalah angku Luih. Saya juga sempat melihat ketika beliau hidup.

Ibu saya pernah bercerita bhw ia pernah disusukan oleh ibu Khairani tsb.

Setelah bercerai dengan nenek saya, yah basyir menikah dengan seorang perempuan di koto berapak dan memperoleh seorang putra bernama Syahrial.

Wan syahrial menikah dengan tek inih anak gek tenai (menurut cerita gek tenai juga pernah menikah sebentar dengan angku Uluik tapi tidak mempunyai anak).

Ada berapa orang anak wan syahrial yaitu sofa, pical, ipih, dan seorang lagi perempuan.

Wan syahrial meninggal dalam usia muda karena menderita penyakit thypus. Beliau meninggalkan istri dan anak-anaknya dalam keadaan yang tergolong miskin.

Kakek saya mempunyai seorang adik laki-laki seayah yaitu Yah Kari. Yah kari menikah dengan Tuo naani dan mempunyai anak : iyun dan yung kadan. Tapi wallahu alam apa emang keduanya anak beliau.

Dari istrinya di Kapujan yah kari juga mempunyai anak yang saya tahu namanya adalah wan oncon dan wan aciak, keduanya menikah sama orang melayu dan bertetangga dengan rumah kami.

Ayah dari  kakek saya bernama Abbas, orang menyebutnya Panghulu Abeh (penghulu Abas) barangkali karena beliau seorang penghulu dengan gelar Datuk Bandaro sati. Barangkali beliau lah datuk terakhir dari caniago baruh setelah bernaung kepada ayah saya, datuk rajo penghulu.

Saya juga tidak tahu dimana kuburan kakek kami ini. Ibu tidak pernah mengajak kami untuk berziarah dan membersihkan kuburan beliau. O iya kalau tidak salah, dekat batang durian di bukit seberang yang terkenal dengan nama Baluka.

Rasanya pengen juga berziarah ke makam kakek. Tapi sayang seakan-akan keluarga kami ga peduli dengan acara ziarah2an.

Semoga Allah mengampuni dosa2 beliau. Amiin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: