Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Syamsinyar, nenek kami


Oleh : syafroni

Batam, 29 feb 2008

Beliau banyak meninggalkan buku atau kitab2 gundul yang sudah berwarna kuning, mungkin itu yang dinamakan kitab kuning. Awalnya kitab2 itu diletakkan di atas “pagu” rumah (loteng). Sekarang mungkin sudah dimasukin kedalam karung. Saya ga tahu lagi gimana keadaan kitab2 tsb sekarang. Soalnya ada di kampung. Dan kitab itu juga sudah terlalu tua, sehingga kalau dipegang akan menimbulkan gatal2 di tangan dan badan. Barangkali itu yang namanya kutu buku.

Saya belum sempat membaca banyak kitab2 tersebut. Sebagian sobekan dari kitab2 itu sudah ada yang dibakar. Karena, siapa yang akan mempelajari dan membaca kitab2 tsb, fikir kami.

Menurut cerita dari amak dan abak, nenek pernah belajar di thawalib, sebuah perguruan tinggi agama. Setahu saya thawalib itu ada di padang panjang. Mungkin waktu itu thawalib buka cabang di pesisir.

Menurut cerita dari orang tua2 juga, banyak orang2 seangkatan nenek saya yang ikut belajar di thawalib. Spt gek enek, yah leman, umi miya dsb..

Nenek saya menikah pertama kali dengan kakek saya yang bernama Basyir bin Abbas. Beroleh anak seorang perempuan, itulah ibu saya, Dasniati. Hanya satu orang saja anak nenek saya dari suaminya Basyir.

Entah kenapa usia pernikahan mereka ga panjang. Saya ga tahu juga.

Ibu dari nenek saya bernama Siti Hawa, begitu cerita dari orang tua2. tuo mayar pernah menceritakannya demikian.

Nenek saya kemudian menikah lagi dengan Yah Bujang, dikaruniai putri 3 orang lagi yaitu tati, si am dan si ir.

Nenek saya bukanlah istri pertama bagi yah Bujang. Sebelumnya Yah Bujang sudah menikah dengan perempuan Kapujan dan sudah mempunyai beberapa orang anak disana. Kemudian setelah nenek saya meninggal, yah Bujang kembali ke istri pertamanya dan memperoleh lagi tambahan anak.

Nenek saya meninggal sewaktu hendak melahirkan anaknya.

Ibu saya bercerita, ketika itu ia sedang sekolah di Sekolah Rakyat (SR), mendapat kabar bhw ibunya yang sedang hamil tua terjatuh di dekat sungai kalau tidak salah.

Semenjak meninggal nenek saya, kakek tiri saya kembali ke istri pertamanya dan membawa anak2nya ke istri pertamanya. Ibu saya tinggal bersama neneknya dari fihak ayahnya.

Semenjak itu ibu saya berhenti sekolah…. Kasihan nasib ibu saya waktu itu. Jadi anak yatim dan ditinggal oleh ayah dan ayah tirinya.

Sampai sekarang ga jelas dimana kuburan nenek saya ini sebenarnya karena ga ada lagi gundukan tanah. Ni dati pernah mengatakan kalau gundukan tanah sedikit dan bebatuan itu kuburan nenek kita. Tapi entah nenek yang mana yang dimaksudkan ni dati. Apakah ibu dari ayahnya atau nenek kami. Karena ibu dari ayah ni dati adalah kakak dari nenek saya.

Semoga Tuhan mengampuni dosa2 nenek kami dan menempatkannya di surga serta mempertemukan kami dengannya nanti di akhirat. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: