Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Tetangga


18 oktober 2009

Tetangga:

Gaek sutan menikah dengan yah sutan. Keduanya sudah almarhum. Yah sutan orang kapujan, suku jambak. Yah sutan masih bersaudara dengan yah moke, yang menikah ke keluarga lena sawajin.

Anak gek sutan, si bungsu, uwik, menikah dengan orang koto baru. Tapi sudah cerai pula baru punya anak satu.

Kemudian di depan rumah gaek sutan adalah tek iruih. Tek iruih menikah dengan pak teteh anak yah coga,  yang merupakan saudara dari gaek cian dan tuo asna suwar.

Di depan rumah saya dan rumah tek si eh, ada rumah ni upik sawajin. Sebenarnya menurut orang tua-tua kami, tanah perumahan ni upik itu adalah tanah suku kami. Angku kami memberikan tanah kepada anak dan keturunannya.

Ni upik menikah dengan wan oncon. Wan oncon ini orang kapujan, suku caniago. Bersaudara dengan wan aciak yang menikah dengan pik anjai yang biasa saya panggil ante. Wan oncon dan wan aciak ini adalah putra-putra dari yah kari. Sedangkan yah kari adalah saudara seayah dari kakek saya, ayah dari amak, yaitu yah basir.

Yah Kari ini orang melayu baruah, mamak dari pak Kaciak, abak ijul.

Tetangga sebelah meri, rumah ramis. Ramis beradik dengan beri. Tapi tidak tahu seayah atau tidak. Semenjak saya tahu, ramis dan da beri sudah tidak punya orang tua kecuali angku sawai yang sudah tua. Dulu ada sebuah rumah kayu, rumah panggung di sebelah rumah meri. Dibawah rumah tersebut, ada lubang-lubang yang digali tempat bersembunyi ketika perang. Berhubungan dengan ini, saya teringat kata2 orang bahwa orang batak itu makan orang. Talingo badaruih-daruih, tapaknya badabiak-badabiak, trus ada yang dibilang lomak (enak) entah bagian mana.

Padahal daruih itu adalah nama istri pak si eh kilan.

Angku kami, angku lalah, angku sahil dan angku tahir pernah menikah dengan keluarga ramis ini. Jang embeh menikah pula dengan ramis.

Ramis ini berkerabat dengan tek daruih, tek inih tenai, tuo sima pendek, tuo mayar, tuo lali, gek karani, keluarga istri pak cukan, keluarga cu uwak dan keluarga pik apuak istri kakak pak abu.

Tek icik menikah dengan pak Tabak atau Iyus yang berasal dari Kapujan. Tek Icik adalah kakak dari Da Ingkek. Da Ingkek adalah suami dari ni Eni, kemenakan pak Jamilis.

Tuo Baiti juga kakak dari Da Ingkek. Keluarga Tuo Baiti ini bersaudara dengan keluarga Gek Jubah di Kapencong, Baringin dan keluarga Tek Melus.

Di kampung saya. Saya kenal ada dua nama baiti. Satu lagi adalah tuo Baiti istri pak Tua Rewailis, anak dari angku Pucuak, adik angku Pikir, mamak abak. Di kampus saya juga kenal seorang akhawat bernama Nurbaiti Syam.

Angku dari keluarga tek Ema Junik ada yang menikag ke keluarga Da Ingkek tsb. Tanah perumahan Da Ingkek tsb (ada sekitar 4 kapling tanah perumahan) adalah punya suku kami. Dulu mereka suku Tanjung tapi kemudian bertukar menjadi Melayu setelah ada dari keluarga mereka yang menikah ke suku kami yang diatas. Contohnya pernikahan yang kedua terjadi pada diri wan Januis Syukur yang menikah ke keluarga gek Jubah.

Selanjutnya adalah keluarga One. One beranak Ilih Kodang, Eri, Ita dan Anjo. Tidak ada yang laki-laki. Anak Ilih Kodang juga ada yang mandul satu karena memang keluarga mereka berdarah mandul yaitu Conen atau Si Ed.

Kodang itu kabarnya adalah dari keluarga Gek Tina, kerabat kami juga.

Selanjutnya keluarga Asna.

Pak Suwar atau suwe mungkin berasal dari melayu di baruh. Anak pak Suwe yaitu Linda juga menikah dengan orang Melayu baruh (panai).

Iya menikah dengan Rajo Gandan Tanjung di lubuk aur. Ita menikah dengan wan Sulan, mamak kami.

Seorang lagi menikah dengan siawak. Mengingat namanya saya jadi teringat sejenis binatang yang sering kami buru dulu di semak-semak yaitu biawak. Hahahaha…

Keluagr Asna bersaudara dengan keluarga Cian dan keluarga istri nan kodeh di jalan Gadang. Ema yang juga sakik. keluarga Eti. Keluarga dari istri Wan Amril, adik wan aman.

Ni Eni menikah dengan da Uri sarimole. Da uri ini berdarah pengidap Diabetes atau sakit gula. Kakinya membusuk menjelang kematiannya. Ayah da Uri dulu juga membususk kakinya. Waktu itu saya mengaji di rumah cu uwak. Ayah da uri saya lihat maelo-elo kaki kalau berjalan. Darimanakah ayah da uri tsb?

Tek ema menikah dengan orang Kapujan namanya Nalis. Anak tek Ema menikah dengan orang pariaman.

Pik amba menikah dengan orang melayu di baruh, keluarga Cili, cu uwin tukang panggua candang. Kalau ada pengumuman gotong royong dari desa maka cu uwin yang akan menggua candang dari ikua koto sampai ke kapalo koto. Dan anak-anakpun akan mengiringi. Cu uwin dulu sering duduk ngopi di lapau gek sutan.

Cimi, saya tidak tahu darimana asal ayah Cimi. Yang jelas di keluarga itu juga ada yang menikah dengan laki-laki asal muaro labuah yang bernama pak Ibur.

Tek Inyang, suami tek inyang entah darimana saya tidak tahu.

Kemudian Mak Adang, siapakah suaminya. Saya pernah serumah dengan mak adang di saok laweh cupak dulu.

Narumi pawang, sempat sakit. Kabarnya pawang itu berasal dari keluarga yang didepan rumah tek ema.

Kemudian tek Siman, yang rumahnya beranjung. Rumah itu sudah kosong saja ditinggal pindah di gadut padang oleh anaknya. masih kerabat cendrawahyu.

Tek soni adik tuo siar.

Pak parojon, yang berasal dari melayu baruh anak gek baya. Mik anie, kawan abak, kalau tidak salah adalah mamak dari pak parojon beristri ke gek soma, masih kerabat pak jamilis.

Sinya sudin kabau. Sudin kabau kalau tidak salah masih keluarga tanjung kaciak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: