Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Sejarah Perjuangan Rakyat di Cupak


Rabu, 27 Agustus 2008

M.Nur, Ajisman, Siti Rohanah, Sejarah Lokal Sumatera Barat Perjuangan Rakyat dan TNI di Cupak Kabupetan Solok (1945-1950). Padang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang Proyek Pengkajian dan Pemanfaatan Sejarah
dan Tradisi Padang, 2003. (vi ;61 halaman).
Tulisan ini memaparkan tentang bagaimana sebuah lokalitas yakni daerah Cupak menjadi sebuah area perjuangan rakyat dan TNI di masa agresi. Sebagai sebuah kajian sejarah local Sumatera Barat, buku ini telah menyuguhkan bagaimana heroiknya rakyat Cupak dalam melawan penjajahan Blanda di daerahnya. Penelitian ini dilakukan dengan tekhnik pengumpulan data yang lazim dalam penelitian sejarah. Dalam melakukan penelitian ini digunakan metode penelitian sejarah, yakni melalui proses dan tahap –tahap pengumpulan data atau sumber, kritik, interpretasi dan historiografi.
Aksi Belanda untuk menyerang Indonesia melalui Agresi I dan II benar-benar menunjukkan bahwa Belanda telah
melanggar perjanjian bilateral dan diplomasi. Baik serangan pertama maupun serangan kedua sangat mengagetkan bangsa Indonesia mulai dari pusat sampai ke daerah. Agresi kedua semakin menambah keyakinan bangsa Indonesia
bahwa seluruh rakyat Indonesia sedang mendapat ancaman serius. Serangan kedua yang dilancarkan Belanda pada
tanggal 19 Desember 1948 menyebabkan seluruh rakyat bankit secara serentak, baik di kota, desa, hutan, gunung, dan sebagainya bergerilya melawan Belanda.
Nagari Cupak sebagai salah satu nagri di Minangkabau menjadi pusat jaringan pemerintahan yang melebihi peranannya dari pada nagari yang lain di wilayah Solok. Nagari Cupak menjadi pusat pemerintahan dan bais perjuangan di front Timur Kota Padang, ebab disana berkumpul para pejuang untuk melawan Belanda yang menempati posnya di Kota Solok. Di samping tempat menjalankan roda pemerintahan sipil, Cupak juga menjadi pusat pertemuan antara pejuang, masyarakat, dan ulama untuk membentuk strategi dalam menghadapi Belanda.
Cupak yang letaknya sangat strategis, konsekuansinya adalah menjadikan daerah ini menjadi pertempuran yang hebat, sebab baik pejuang rakyat bersama TNI maupun tentara Belanda sama-sama berambisi untuk merebutnya. Akibatnya
lebih dahsat lagi yakni menjadi kancah peperangan yang tidak pernah berhenti sampai penyerahan kedaulatan oleh pemerintah Belanda terhadap Indonesia pada tahun 1949. Perjuangan rakyat yang terjadi di Solok di Solok Selatan juga
dikoordinir dari Cupak. Berkali-kali Belanda berusaha untuk menyerang Cupak, namun nagari itu tidak bisa direbut karena perlawanan yang heroic dari rakyat sipil dan meliter TNI.
Para pemuda bergerak bersama organisasi ketentaraan lainnya untuk membantu para pejuang yang mulai kekurangan tenaga. Dengan semangat yang tinggal, para pemuda Cupak membantu dilapangan tempur dan tidak sedikit diantara
mereka yang ikut bergerilya di hutan-hutan. Mereka juga ikut bersembunyi dan keluar apabila kondisi telah aman dari tentara pertahanan kaum republic tidak bisa dikuasai Belanda. Belanda baru bisa meninggalkan Cupak khususnya dan
Sumatera Tengah umumnya setelah terjadi persetujuan KMB untuk mengakui kedaulatan Indoneia. Namun puncak pertempuran telah membuka luka yang amat dalam bagi rakyat Cupak, sebab harta benda mereka telah musnah, seperti
sawah, lading, ternak, dan sebagainya.

Sumber:

http://www.facebook.com/topic.php?uid=64422278142&topic=11686

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: