Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Ranji Suku Tanjung Guci, Lubuk Gambir, Bayang, Pessel


Asal Usul Nenek Moyang

Nenek moyang kami berasal dari Luhak Kubuang Tigo Baleh (Solok) tepatnya nagari Muaro Paneh, menurut penuturan nenek-nenek kami, dan sesuai pula dengan penuturan Tambo Bayang (1915) bersamaan dengan turunnya nenek moyang suku-suku lain ke Bayang dari Muaro Paneh, Kinari dan Koto Anau.

Lebih lanjut menurut penuturan orang tua-tua di kampuang, bahwa dulu nenek kami turun bersama 9 saudara laki-lakinya. Dari seorang nenek ini yang berkembang menjadi kaum kami sekarang, yang terdiri dari beberapa paruik (keluarga besar).

Dan suku kami sekarang terkenal dengan sebutan suku Tanjuang Kaciak atau suku Tajuang Ketek, padahal dalam Tambo Bayang tersebut nama suku Tanjuang Guci, disamping suku Tanjung Sikumbang, Tanjung Koto dan Tanjung Gadang. Di Lubuk Gambir hanya terdapat dua suku Tanjung saja yaitu suku Tanjung Kaciak dan suku Tanjung Gadang. Suku Tanjung Koto (Datuk Rajo Intan)  merapat ke suku Tanjung Gadang (Datuk Marajo Indo). Maka bertambah gadang suku Tanjung Gadang. Sementara suku Tanjung Guci tidak mau merapat ke suku Tanjung Gadang melainkan berdiri sendiri saja, maka terkenallah ia dengan suku Tanjung Kaciak atau Tanjung Guci. Ada dua belahan suku Tanjuang Guci, satu kaum di kapalo koto dan satu kaum lagi di ikua koto yaitu kaum kami. Penghulu kami adalah Datuk Tandilangik. sedangkan Malin kami adalah Imam Marajo. Suku Tanjung Gadang juga bermalin ke Imam Marajo.

Kapan nenek moyang kami turun ke Bayang?

Kalau Tambo Bayang baru ditulis pada tahun 1915 dan perang Bayang melawan Belanda terjadi pada tahun 1600-an, maka diperkirakan nenek kami turun sebelum abad2 tsb, kuat dugaan pada abad 14/15 Masehi.

Dan ranji kami tidak bisa lagi melacak keberadaan generasi ke-5 keatas sampai ke nenek yg mempunyai 9 saudara laki-laki tsb. dan agak mengherankan juga, kalau memang nenek moyang kami sudah datang 7 atau 6 abad yang lalu, kenapa pertumbuhan populasi suku kami tidak signifikan? Bisa jadi yang dimaksud oleh orang tua2 kami bahwa dulu ada seorang nenek dengan 9 saudara laki-laki tsb adalah memori kolektif semua keturunan suku Tanjung/Tanjung Guci di Bayang, bukan hanya nenek moyang dari kaum kami. karena suku kami mempunyai belahan yang tersebar di berbagai nagari dan dusun di Bayang, misalnya Kubang, Kapujan, Talaok, Lubuak Aur dan seterusnya. Tapi hal tsb sudah sulit untuk dilacak.

Penghulu Adat Suku Tanjung Guci

Penghulu adat Suku Tanjung Guci di nagari Bayang nan Tujuah:

  1. Datuk Tan Dilangit (Kubang dan Lubuk Gambir)
  2. Datuk Rajo Johan (Koto Baru)
  3. Datuk Marah Bangso (Kapujan)
  4. Datuk Panduko Kayo (Koto Berapak)
  5. Datuk Rajo Adil dan Datuak Bandaro Gamuk (Lubuk Aur)
  6. Datuk Rangkayo Basa (Jambak Kapeh Panji)

Pada Tambo Adat Bayang nan Tujuh (1915) tercatat nama pemangku gelar Datuk Tandilangik adalah Husein yang mewarisi dari mamaknya bernama Songgoli. Sekarang sekarang ini yang memangku gelar Datuk Tandilangik bernama Imu dan Imam Marajo dipegang oleh Kardiman.

Paruik-paruik didalam Korong kami

1. Paruik Gek Gadih (ibu dari gek Baini bersaudara),

disebut saja sebagai paruik gek baini sebab gek baini yang kita kenal mewakili dari paruik ini dan beliau yang masih hidup yang sempat kita lihat dan temui. Kalau gek ubay, gek anjani udah lama meninggal. Gek anjani sendiri kurang jelas bagi saya. Gek baya, saya tak pernah melihatnya. Jadi paruik gek baini ini terdiri dari keturunan gek baini, katurunan gek baya, katurunan gek ubay, katurunan gek anjani. Posisi rumah mereka adalah : rumah gek anjani disamping rumah gek ubay disamping rumah gek aneh. Rumah gek baini di pinggir Korong diatas rumah kami.

1.1.Gek baini (1924) menikah dua kali. Pertama dengan yah risun orang koto berapak, beranak dua sejoli yaitu tuo lianir dan wan suar. Kemudian gek baini menikah lagi, dengan Yah Habib orang Tarusan, beranak dua laki-laki yaitu wan amrin (seorang PNS di Departemen Agama, sudah pensiun) dan wan dirman (seorang TNI-AD, meninggal di usia relatif muda akibat diserang tawon di malam hari, meninggalkan tiga orang anak). Tuo lianir menikah dengan pak udin, beranak ni ima, ujang, isaf, izal, inaf, ides, dan ilen. Ni ima menikah dengan sarun, beranak etri. Da ujang dan da isaf menikah dengan orang kapencong. Da izal menikah dengan orang tanah kareh. Da inaf pertama menikah dengan anak Daraweh, beranak dua, kemudian bercerai, menikah dengan orang semarang, beranak seorang perempuan. Da ides menikah dengan sepupunya sendiri, deni anak wan suar. Ilen menikah dengan sulaiman orang hilir.

1.2.Gek baya (1927) menikah dengan yah tonggak, beranak wan ardi, tek anis, dan beberapa lagi yang tidak saya kenal. Wan ardi menikah dengan upik pinang, tidak dikaruniai anak tapi mengangkat seorang anak.

1.3.Gek ubay (1925) menikah dengan yah amie (saudara dari pak suban, pak inci dan istri yung basir, ibu mereka bernama Gek Malan), beranak wan pion, tek idar, tek imar, tek isar, wan uncu peruik, dan wan saral. Tek idar menikah dengan pak anih suku tanjung, anak gek munah jo angku si’a. jadi pak anih pulang ke bako. Dan pak anih ko adolah adik dari tek tama, istri pak inci. Jadi di satu sisi pak anih adalah mamak rumah pak inci (adik yah amie) tapi disisi lain iya adalah menantu yah amia (kakak pak inci). Uncu peruik menikah dengan orang pariaman. Saral menikah dengan orang tapan, sungai gamuruah. Wan pion menikah dengan tek anis anak gek baya.

1.4.Gek anjani (1921) beranak tuo liana, tek ijuih, wan sulan (Ruslan, seorang PNS di Depag, domisili di Painan). Tuo liana baranak duo : da emi jo da si ong, tek ijuih manikah jo pak jaman, baranak : da sihen, da izen, iyal, dan si us. Si us menikah dengan ujang anak wan sansir. Wan Sulan menikah dengan seorang perempuan suku Caniago keluarga Datuk Bandaro Sati.

1.5.Gek aneh (1912) atau nama kecilnya Tiasun. Kabarnya nenek ini disebut gek aneh karena anaknya bernaman aneh (anas), dikabarkan menikah dengan orang Bungo Pasang, Salido. Gek aneh tidak mempunyai anak perempuan. Jadi punah keturunannya secara adat.

1.6.Angku Abu Rasyid (1932), dikabarkan menikah dengan orang Sago, Salido, tidak banyak dapat informasi mengenai anak-anaknya tapi penulis pernah diajak ibu penulis ke rumah anaknya sewaktu ada acara pernikahan. Rumahnya tak jauh dari pasar Sago tapi penulis tidak ingat lagi persisnya dimana rumah tersebut.

1.7.Angku Apung (1929), nama kecilnya Abu Bakar, menikah dengan orang suku Tanjung gadang, beranak tek Iris. Juga dikabarkan sempat menikah dengan gek Jaori, yg kemudian menikah dengan angku Dukan. Dari gek Jaori, beliau dapat anak bernama Tinur yang menikah dengan Pak Marzuki (kemenakan dari ayah penulis).

1.8. Angku Saman yaitu sdr laki2 dari ibu gek Gadih dan gek Tiasun.

2. Paruik Gek Isah (ibu dari Gek Mayangbersaudara) disebut juga Mak Etek

Gek Mayang bersaudara dengan Gek Nurani, Gek Umi dan Angku Yapas.

2.1.Gek mayang (1930) menikah dua kali. Pertama beranak Syahmur (seorang PNS di Pemda DKI Jakarta, mempunyai empat orang putra). Kemudian dari suami kedua beranak : syahrial (seorang PNS di LIPI Jakarta), ilus, nurnas, si as, upik dan syahril (buyung). Wan syahrial dan wan syahmur menikah dengan orang jawa. Tuo nurnas menikah dengan orang Padang, namanya Khaidir. Yang saya tahu anak tuo unas : Ujang Jefri, Vivi. Anak tek si As : Erma, eva, joni, wiswanto, si it, meri, ijul dan izel. Wan Buyung menikah dengan tek en anak pak mudar, beranak : senda, fatma dan ani.

2.2.Gek nurani (1935) menikah dengan yah sajar, beranak : wan sudi, wan numan, wan bujal, tek nati dan tek murni. Wan sudi menikah dengan tek ijuih orang kapalo koto, beranak sepasang anak. Anak tek nati : atul, diah, reka, reki dst. Wan numar menikah dengan orang lampung. Wan bujal menikah dengan orang kapencong dan tinggal di jambi. Wan numan dan wan bujal sama-sama pegawai negeri di kantor kelurahan atau kecamatan. Istri wan bujal masih bersaudara dengan istri wan dirman dan istri da isaf.

2.3.Gek umi (1940) menikah dengan matan dan ompong. Dengan matan beranak : ermi. Dengan ompong beranak : seri. Ermi menikah dengan pak ujang anak tuo siar dan yah bahar saudara laki-laki mayar. Anak tek ermi : arid an seorang lagi perempuan.

2.4. Angku Yapas (1927) menikah dengan orang jambak, beranak eti istri pui, lius, eman dan supar. Eman menikah dengan anak si abu hasan, supar menikah dengan orang tanjuang kapalo koto. Lius menikah dengan orang solok, bekerja sebagai fotografer di koto berapak.

3. Paruik Gek Unan – Lumat

3.1.Ibu Lumat mempunyai anak : Lumat, Jarain dan Indik. Lumat dikaruniai anak-anak : Suna (1924), masri (1944), samsir (1950), Rahmat (1942) dan Kahar (1939). Suna menikah dengan jalih, beranak : mega, mul, kuri, dan si er. Mega menikah pertama dengan yung basir, beranak romi tapi sudah meninggal akibat kecelakaan kereta api di pesing, Jakarta. Mega menikah lagi dengan Maredi suku caniago lubuak aur, beranak : roli, deni, metro dan seorang lagi. Si er menikah dengan irun, beranak : rio, dan beberapa orang. Kuri dan imul tinggal di Jakarta. Jarang pulang kampong. Kahar menikah dengan orang kapalo koto, anaknya : Darman, Cinaman. Rahmat menikah dengan Mardiana suku jambak tangah koto, beranak buyung uda dan itos. Masri (simeh) menikah dengan tek iyun dan sebelumnya pernah menikah dengan orang koto baru. Samsir menikah dengan orang jambak (idas).

3.2.Naani (1943) sendiri saja, tidak terdengar punya saudara laki-laki. Dengan suami pertama ia beranak dua : Yung Kadan dan Iyun. Iyun dengan suaminya orang Lubuk Aur  sudah lama meninggal dengan 3 orang anak perempuan : santi, yuli, iye. Mgkn ibu naani bersaudara dengan ibu suna atau mgkn juga neneknya yg bersaudara.

4. Paruik Gek Rabak (ibu dari Gek Sami bersaudara)

Gek Sami bersaudara dengan Gek Mani, angku Ulud (Syafruddin) dan angku Sia.

4.1.Gek Mani (1927) beranak dua : bakhtiar dan burhan. Bahtiar nikah dengan Tiar suku jambak , dusanak Sansur. anak 3 perempuan, 1 di kerinci dan 2 di lubuk gadang (Bengkulu) tinggalnya sekarang. Burhan nikah dengan orang Kapujan memiliki 1 anak laki-laki, kemudian menikah lagi dengan orang Sirampeh (Jambi) sampai meninggal tak pernah pulang kampung. sudah lama di cari keluarga , Januari 2011 tek Sur bertemu di sirampeh dengan anak dan keluarga Burhan.

4.2.Gek Sami (1930) menikah dengan Buya Sulaiman (yah leman, seorang ulama besar di Nagari Koto Berapak, juga seorang PNS guru, sepupu Haji Ilyas Yakub), beranak : gusti (suti, seorang PNS guru/kantor Depag, meninggal di usia muda akibat sakit), imis, ila (meninggal di usia relatif muda lantaran sakit), si is, isur, tek en. Wan gusti menikah dengan tek imur orang suku tanjung gadang beranak seorang laki-laki bernama wandrianto, wan gusti meninggal di usia muda (umur 28). Tek imis menikah dengan pak jamilis (seorang karyawan PT Semen Padang, sudah pensiun), beranak dua : ipit dan iyen. Ipit menikah dengan mursal asal batangkapeh. Iyen menikah dengan orang padang. Tek ila menikah dengan pak sarun asal koto berapak, kemenakan dari yah gapar yang menikah dengan tetangga tek ila, beranak : enti, ipil, inel, qiyam dan ramzil. Enti menikah dengan seorang duda asal jawa barat. Tek si is menikah dengan pak simuih asal payakumbuah (suliki), beranak : esi, yandri, minal. Tek isur menikah dengan pak inal orang melayu ganting, tidak beranak. Tek en menikah pertama dengan orang lubuk aur, beranak : seri. Kemudian menikah dengan duda pak izal, beranak beberapa orang.

4.3.Angku Ulud (1932) (Syafruddin lahir di bulan Maulud). Angku Ulud menikah 13 kali dan dengan orang Koto Berapak punya anak 1 laki-laki diberi nama Burhanudin (sekarang pensiunan pns walikota padang), yang menikah dengan guru SD urang Gurun Laweh (Bayang) memiliki 1 anak laki-laki (kira-kira kelahiran 1978). Angku Ulud terkenal sebagai seorang tabib yang ahli dalam hal pengobatan tradisional terutama terhadap bisa luka jarum hajit. Ilmu beliau sekarang diturunkan ke para keponakannya yaitu Is , Sur, En dan anak kakak laki-lakinya (Si’a) yaitu Tama .

4.4.Angku Si-a (1925) menikah dengan gek munah. Beranak : tama dan pak anih.

5. Paruik Gek Hawa (ibu dari Gek Sinyar bersaudara)

Nenek saya syamsinyar (sinyar) bersaudara dengan gek jirah, angku newan dan angku dukan.

5.1.Gek syamsinyar (1929) menikah dengan yah Basir (Basin, dijuluki pulo Basin Pelong karena rambutnya yang disisir dengan gaya memutar di depan) asal Jambak, sepupu gek Mardiana (Gek Mardiana bersaudara dengan Yah Peri di Kapencong, Yah Mawin suami dari Tek Ilih Koyong, selain itu Gek Mardiana bersepupu dengan Kairani istri Pe-o, Angku Luih adalah mamak dari Gek Mardiana dan bersaudara dengan ibu dari Yah Basir, berkerabat pula dengan yah Buranin), beranak seorang yaitu ibu saya, Dasniati. Kemudian nenek saya bercerai dengan yah Basir, menikah lagi dengan yah bujang asal Kapujan, beranak 3 perempuan : tek tati, tek am dan tek si ir. Ibu saya menikah dengan ayah saya Jamalus suku caniago, beranak Sembilan orang termasuk saya yaitu Elmiyenti, Erwandi, Delviyendri, Irwan, Elvi Suryani, Syafroni, Afrifal, Zulfadli dan Nelma Fitri. Elmiyenti menikah dengan Amrizal suku Tanjung Gadang (kemanakan kandung dari Pak Jamilis, suami Tek Imis, Amrizal adalah karyawan PT Bukit Asam [Persero] di Sawahlunto), beranak tiga : Danny Putri Amelia, Angga Saputra dan Salsa. Erwandi atau Edi menikah dengan Dewi anak Tek Ijuih (cucu dari Haji Ilyas Jalil, sepupu Buya Sulaiman), beranak Ranti dan Rendi. Delviyendri atau Iyen yang juga biasa dipanggil Datuak, menikah dengan si Is anak Betawi Bekasi, beranak dua laki-laki : Fajar dan Fahri. Irwan atau Iwan menikah dengan Marni asal Wonogiri (Jawa Tengah), beranak dua : Siti dan Khairul Abidin. Elvi Suryani atau Epi menikah dengan Deni suku Caniago asal Koto Baru, Bayang, beranak dua : Irma dan Ridho. Syafroni menikah dengan Fatmawati suku Sikumbang asal Kampuang Marelang, Nagari Koto Salapan, Balai Salasa, beranak seorang perempuan yaitu Aisha Fasyagucci.  Afrifal yang berganti nama menjadi Afrizal di ijasahnya, dipanggi Ipal menikah dengan Eka asli Baruang Balantai tapi besar di Jakarta, beranak seorang laki-laki bernama Andrea Muhammad Iqbal. Zulfadli atau si Ul menikah dengan Dara asli Solo, tinggal di Jakarta.  Tek tati menikah dengan pak abu, family tek en istri wan buyung, beranak : esi, si ed, reni dan hendra.  Esi menikah dengan Izen (cucu Syamsu, anak saudara sebapak dengan nenek saya Syamsinyar), beranak dua : Yafi dan Hilmi, tinggal di Cibinong, Bogor. Si Ed menikah dengan Rini asal Kapujan, Bayang. Reni menikah dengan Malik asal Solok, beranak seorang perempuan bernama Aulia. Tek am menikah dengan pak ilyas asal kambang, beranak 3 : ilham, dewi, danil.  Dewi sudah menikah dengan seorang asal Batu Sangkar. Tek si ir menikah dengan ii suku jambak, beranak : butet, eko, mori dst.

5.2.Gek jirah (1925) menikah dengan suami pertama, beranak : Nawas dan Kutar, dengan Janaik, beranak : Duar dan Jamaris. Nawas menikah dengan salat, beranak : furi, dati, amdar, edi, asnil. Furi (Nafuri) menikah dengan orang Padang, beranak tiga orang anak perempuan, beliau meninggal di usia relatif muda akibat kecelakaan dalam perjalanan dengan sepeda motor bersama adiknya Hasnil, dari Padang menuju Bayang pada malam hari. Kutar menikah dengan orang kapujan, punya beberapa anak tapi di akhir hayatnya ia tidak diperdulikan oleh anaknya. Duar menikah dengan tek eti, beranak : iwan, upik, rini dan rahma. Jamaris menikah dengan yuni anak joain, beranak : titi,  santi, yusuf, buyung, vera, dst.

5.3.Angku Dukan (1923) pertama kali menikah dengan Gek Rawiani (ibu dari Erawati, seorang guru SD di Lubuk Gambir), beranak Syariful (terkenal dengan sebutan Ipun). Syariful menikah dengan orang Painan, beranak 5 orang, anak kedua bernama Syafri Mulyadi. Syariful meninggal dunia waktu menunaikan haji di Mekkah pada tahun 1995.. Kemudian Angku Dukan menikah lagi dengan janda angku apung, Jaori, beranak :  Inan, Asna, Ishak, dst…

5.4.Angku Newan/Newar (1920). Tidak diketahui.

5.6. Angku “Tupai”, sdr laki2 dari Tahir, Sahir, Isah, Rabak dan Hawa.

5.7. Angku Sahir

5.8. Haji Kima

Generesi keempat keatas

Generasi keempat dan seterusnya keatas (ibu dari gaek-gaek [nenek]  dan angku-angku diatas) tidak diketahui namanya dengan pasti. Dulu penulis sudah pernah menyusurinya dan tidak diketahui lagi dimana kertas tempat menuliskan nama-nama mereka. Yang penulis tahu hanyalah nama2 berikut : Lalah, Kima, Tahir, Sahir, Siti Hawa, Cik Adang (suami siti Hawa)

Menurut penuturan dari nenek-nenek yang ada dan anggota Korong yang masih hidup, hubungan mereka adalah sebagai berikut :

– Ibu dari Gek Syamsinyar yang dikabarkan bernama Siti Hawa (1914), bersaudara dengan Ibu dari Gek Mayang. Tapi tidak diketahui dengan pasti apakah keduanya bersaudara dengan ibu dari Gek Sami. Ada yang mengatakan  bahwa ketiganya bersaudara tapi ibu dari Gek Sami mempunyai ayah yang berbeda.

– Juga tidak diketahui dengan jelas, bagaimana hubungan angku Lalah (1911), angku Tahir dan angku Sahir dengan ketiga nenek tsb. Kuat dugaaan bhw mereka bersaudara 6 orang.

– Angku Lalah dikabarkan menikah dengan keluarga nenek Ramis dan Beri, disebelah baruh perumahan kami, juga dengan keluarga Mayar

– Entah Angku Sahir atau Angku Tahir diceritakan menikah kepada keluarga nenek Lena Sawajin (semua keturunan dari angku ini atau mungkin juga mamak dari angku ini, yaitu : keluarga Tek Rama, Manih, Bidah/mertuo Jahidin, keluarga Anca, keluarga Lena dsb).

– Haji Kima (1890) adalah mamak atau saudara laki-laki dari ibu 6 orang tsb diatas.

– Gek Aneh bersaudara dengan ibu dari Gek Baini. Berarti Gek Aneh segenerasi dengan Angku Lalah.

– Hubungan ibu dari Suna dengan ibu dari Naani belum jelas. Bisa saudara atau sepupu. Ada yang mengatakan nenek dari suna bersaudara dengan ibu dari gek Baini dan gek Aneh.

– Dulu ada yang mengatakan bhw nenek dari fihak Gek Baini, nenek dari fihak Suna dan nenek dari fihak kami, bersaudara.

– Ada informasi bahwa nenek kami datang dari Muaro Paneh. Mereka adalah seorang nenek dengan saudara laki-laki Sembilan orang. Karena kawatir terjadi kepunahan maka dijemput kerabat dari Lubuak Bagaluang (Lubuak Aur) yaitu fihak Gek Ena.

Korong Gek Ena Robi

Gek Ena (1942) sepertinya juga tidak punya saudara. Ia sendirian. Ibunya bersaudara dengan ibu dari Gek Tina. Gek Tina mempunyai beberapa saudara laki-laki yaitu Kodang, Johor dsb. Ibu dari Gek Ena bersaudara dengan Yusuf Nan Pongah (ayah dari Sahi suku Melayu). Yusuf ini terkenal dengan cerdiknya dan kelihaiannya dalam berbicara.

Gek Ena mempunyai seorang anak perempuan dan beberapa laki-laki yaitu Upik, Siman, Sariol, Ongkok, Mursal. Sementara gek Tina tidak berketurunan.

Gek Ena ini segenerasi dengan Gek Baini, Gek Mayang, Gek Sami dan Gek Sinyar. Sedangkan Nan Pongah segenerasi dengan Angku Tahir, Sahir dan Lalah.

Entah di generasi ke berapa nenek dari fihak Gek Ena ini dijemput ke Lubuk Bagalung.

Ternyata kelompok gek Ena ini juga tidak berkembang sebagaimana yang diharapkan.

11 Comments

  1. helmidjas hendra

    Indak ado keterangan labiah jauah tentang Gaek Baini menikah jo urang Kotoberapak, sabab namo salah surang gaek ambo di Kabun, Kotoberapak memang Gaek Baini nan masih sempat batamu jo ambo. Anak baliau ado Uwan Amri jo Etek Ros (masih iduik). Atau mungkin namo Gaek Baini ko kabatulan sanamo jo Gaek Ambo, sabab memang indak pernah ambo danga Gaek Baini nan gaek ambo ko urang Lubuakgambia. Wassalam

  2. nina bobo

    Numpang tanyo tentang angku Ulud samo adiak ambo Syafroni,dulu banyak carito uni danga tentang angku Ulud,tentang kapandaian baliau,maubek urang,tamasuak mancabuik biso dan mangaluaannyo…kasia turunnyo tu kiro2 ? tentang kemujarabannyo banyak uni danga,walau sacaro medis indak logis.makasih atas info sabalunnyo………………………menulislah selalu saudaraku !

  3. uwan Helmijas, mokasih wan alah manjingau ka ranji kami, wan. mgkn sanamo mah wan, Gek Baini nan ambo tulih tu gaek (nenek) kami mah, di lubuakgambia, suami partamonyo urang Koto Barapak, namonyo Risun, ayah dari wan Riswal yang di Koto Barapak.

    Uni Nina, tantang angku Ulud (Syafrudin), indak jaleh ka sia turunnyo do ni, tapi ado nan manyabuik turunnyo ka Tek Isur, anak Gek Sami. memang dulu terkenal angku ko hebat dalam pengobatan, tamasuak maubek urang tapantak dek pinjaik.

    mokasih

    • Nelmi fitrayenti

      Roni dalam ranji gaek sami ado yang paralu di perbaiki…..,:
      1. Bahtiar nikah dengan Tiar suku jambak , dusanak Sansur. anak 3 perempuan, 1 di kerinci dan 2 di lubuk gadang tinggalnya sekarang.
      2. Burhan nikah dengan orang kapujan memiliki 1 anak laki-laki Jkemudian menikah lagi dengan orang Sirampeh Jambi sampai meninggal tak pernah pulkam. sudah lama di cari keluarga ,januari 2011 tante sur batamu di sirampeh samo anak & keluarga burhan.
      3.Angah ulud menikah 13 kali dan dengan orang Kotorapak punya anak 1 laki-laki dengan nama Burhanudin sekarang pensiunan pns walikota padang , menikah dengan guru SD urang gurun laweh memiliki 1 anak laki-laki samo gadang jo ni pit .Ilmu angku kini turun ka tante is ,sur, te en dan samo etek tama .
      4.tante is anaknyo 4 samo si ade. dan mis anak pertama dari gaek sami, gusti anak kedua meninggal dalam usia 28 tahun.
      terimo kasih yo ron, atas info ranji nyo …

  4. syafrimulyadi

    Angku Dukan (1923) menikah dengan janda angku apung, Jaori, beranak : inan, asna, ishak, dst…( kalau aku ngak salah anak yang paling tua kan , bernama Syariful bin Dukan, beliau adalah ayah kandungku..dan beristeri di Painan, dan mempunyai anak 5 orang dan aku adalah anak yang kedua, abak telah berpulang di mekkah tahun 1995 waktu naik haji,

  5. Syafrizal

    Ayahku dalam sebutan abak bernama Syariful orang bayang menyebutnya cipun beristri di painan, jln Diponegoro (kampung jao belakang pasar painan) mempunyai anak 5 Orang, Syafridal Nenli, Syafri Mulyadi, Sri Mardayeni, Syafrizal, Syafri Andi retman

  6. Erick Savrinaldo

    Salam Kenal uda Syafroni, Excellent Blog… salut..
    Ambo urang bayang nan gadang di perantauan. Orang tua ambo jarang bercerita tentang ranji suku tanjuang.
    Ambo Cucu Siti Saleha (anak angku palo taher, penghulu bayang nan tujuah), rumah gadang ambo di kapalo koto, suku ambo tanjuang ketek.
    So,Based on uraian diatas, ambo masuak di ranji mano?
    Mohon Pencerahannya Uda..
    Salam,
    Erick Savrinaldo

    • mokasih, sanak Erick, basobok ciek lai urang rantau nan sasuku dan sakampuang.. berarti basobok ranji kito mah.. sanak masuak kadalam ranji Suku Tanjuang Ketek.. samo jo ambo.. Angku Palo Taher itu adolah Rajo Bayang maso dulunyo

      • erick savrinaldo

        Tarimokasih infonyo Uda,

        Kok buliah tau, apakah pernah ado Flow Diagram perihal keturunan tanjuang ketek ko… coz kami nan gadang di rantau sangat miskin informasi perihal hal ini,

      • Tanjuangkaciakmuaropaneh

        samo2.
        Mungkin maksudnya ranji atau silsilah ya..
        ya ada bersama saya

      • Tanjuangkaciakmuaropaneh

        belum ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: