Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

KERAJAAN MELAYU DAN KERAJAAN INDOJATI (INDRAPURA)


Periode Abad XII-XIV

Suntingan dari Buku “Menelusuri Sejarah Kerajaan Melayu Jambi”

oleh: Prof. Aulia Tasman, SE, MSc, Ph.D

…………………………………

Sejak kerajaan Rum terbelah menjadi dua bagian yaitu Rum Barat dan Rum Timur dimana Rum Timur berpusat di Ankara Turki. Adapun raja Rum Timur ke 21 yang berkuasa tahun 1122 – 1143 ialah Raja Zulkarnain dan mempunyai dua orang putra yaitu Zatullah Syah dan adiknya Hidayatullah.

1. Zatullah Syah

Atas ilham dari ayahnya supaya Zatullah menuntut ilmu sampai ke negeri Cina. Pedoman untuk menuju negeri Cina, yaitu jika bertemu dengan sebuah benua putarkan haluan cung ( perahu ) ke selatan bile bertemu air jernih ikan jinak dan terdapat batu menikam berhentilah disitu,-

Disaat Zatullah berumur 17 tahun dia mencoba menuju dunia timur yaitu pada tahun 1124 masehi . Zatullah beserta dengan 40 orang catri ( orang pandai ) pada umumnya berasal dari Afrika. Dimana mereka dengan memakai tiga buah cung (sejenis perahu layar) dimana Zatullah Syah dengan catri tersebut berlayar dari negeri Rum Timur, menuju negeri di sebelah timur terutama Cina dan selama diperjalanan mereka pernah singgah di Hadramaut Yaman selatan Gujarat dan Pulau Langka Puri (Srilangka).

Waktu berlayar mereka sampai pada tanah genting kra antara Burma dan Malaysia yang sangkanya adalah benua. Mereka memutar cungnya ke selatan sampai ke Aceh Timur. Karana tidak menemui tanda – tanda tersebut diatas dengan gerak Allah haluan diarahkan kepantai barat laut Sumatera. Pantai barat Sumatera waktu itu belum dihuni oleh manusia yang berbudaya karena daerahnya berbukit – bukit (bukit barisan) dan ombaknya besar dan tinggi – tinggi tidak sesuai dengan ukuran kapal waktu itu, sedangkan dipantai timur Sumatera ditunggu oleh armada laut Kerajaan Sriwijaya.

Dalam berlayar menyisir pantai Sumatera bagian barat mereka menemui jurang dan pantainya ditumbuhi oleh pohon nipah dan bakau, tetapi mulai dari Muaro Gedang dan terus ke Muaro Samungo mereka melihat deretan pohon yang berjejer batangnya memutih bagaikan pohon kelapa tersusun rapi menemui air jernih ikannya jinak dan banyak batu manikam dan diduganya di balik pohon yang memutih dan berjejer itu kemungkinan ada perkampungan manusia disana. Maka mereka berbalik ke belakang dan masuk di Muaro Gedang dan menuju ke hulu. Di kala sore hari mereka sampai di Muaro Talaut yaitu antara pertemuan Muara Air Lunang, Kumbung dan Tapan.

Dari Muaro Gedang sampai Muaro Talaut di sepanjang perjalananya dipenuhi oleh pohon ruyung (bahkan sampai hari ini) masih bisa dilhat keberadaan ruyung tersebut, dekat Danau Limbek Pinang Sebatang rombongan Zatullah menemui 5 orang bunian yang disangkanya orang biasa, mereka diajak oleh bunian mengikutinya yaitu ke kampung bunian. Dua puluh orang catri mengikuti Zatullah Syah semuanya laki – laki dan menuju kampung bunian di Renah Pandan Ulu Air Lunang, dan sisanya yaitu 20 catri menunggu di cung (kapal) di lokasi Limbek Pinang Sabatang di Muara Talaut.

Setelah lama diperjalanan rombongan Zatullah Syah tiba di Renah Pandan. Kemudian di situlah dia berkawin dengan putri yang bernama Jining Indo Malayu dan dinikahkannya secara Islam yang dilakukan oleh 20 orang catri pengikutnya tadi. Istri Zatullah Syah sering juga disebut oleh anak cucunya Indo Malayu atau Gindo Layu.

Selama pembaurannya di Renah Pandan Zatullah Syah diangkatlah menjadi junjungan (pemimipin), sebagai raja pertama di kerajaan tersebut, 20 orang dari pengikut Zatullah Syah di Renah Pandan, 2 orang diantaranya disuruh oleh Zatullah Syah menemui 20 orang catri yang telah lama menunggu dan menjaga cung/kapal di muara talaut. Sesuai petunjuk Zatullah Syah 2 orang tadi ditambah 20 orang catri yang menunggu cung/kapal kembali ke Rum Timur.

Awal kepemimpinan Zatullah Syah dia mengeluarkan hukum yang pertama yaitu ” luko nan bapapeh mati nan babangun”. Hal ini dikeluarkan oleh Zatullah Syah guna untuk melindungi 18 catri dan masyarakatnya di Renah Pandan.

Raja Rum Timur ke 21 yaitu Zulkarnain menyerahkan kekuasaan raja kepada anaknya yang ke 2 yang bernama Hidayatullah tahun 1143 masehi, maka Hidayatullah menjadi raja di negeri Rum Timur ke 22. Hidayatullah mempunyai 3 putra dan 1 putri adapun ke tiga putra Hidayatullah ialah Maharaja Depang, Maharaja Diraja dan Maharaja Alif, dan setelah remaja ketiga putra Hidayatullah bertanya kepada ayahandanya adakah saudara dari ayahnya di dunia ini. Maka setelah mendapat jawaban dari Hidayatullah, mereka bertiga berangkat menuju timur sesuai dengan keterangan dari catri yang telah kembali ke Rum Timur dari Renah Pandan dahulu yaitu 22 orang catri.

Tahun 1167 masehi mereka berangkat menuju lokasi pak tuanya dengan membawa 5 buah cung dan 60 orang catri termasuk catri lama beserta mahkota kerajaan Rum dan stempel emas dan perak. Berlambangkan tulisan nama Zulkarnain.

Mereka berangkat dengan memakai rute/jalan yang sama sesuai petunjuk dari catri yang dahulu. Karena ombak besar di perjalanan antara pulau Langka puri dan Teluk Benggala, mahkota yang dibawanya tadi terjatuh sampai ke dasar laut dan pernah dicoba diselami oleh catri. Tetapi tidak pernah dapat, maka oleh catri dibuat kembali mahkota di atas kapal sesuai seperti mahkota asli.

Pada tahun 1168 masehi mereka sampai di Renah Pandan bertemu dengan Zatullah Syah dan untuk membuktikan kebenaran bahwa mereka memang benar anak Hidayatullah maka diserahkanlah stempel dan mahkota tadi kepada Zatullah Syah sebab waktu ia berangkat orang tua meraka Hidayatullah masih remaja.

Rombongan Maharaja Depang mendapati Zatullah Syah di lembah Renah Pandan dan telah mempunyai anak 3 wanita dan 1 pria yaitu bernama Latinjing, Guluni, Kalum dan Iskandar dan 15 catri, karena 3 diantara catri yang tinggal direnah pandan telah meninggal dunia.

2. Iskandar Johan Syah

Setelah beberapa lama di Renah Pandan maka Maharaja Depang dan ditambah dengan 15 catri lama beserta 60 catri yang baru beserta masyarakat menganjurkan kepada Zatullah Syah agar Iskandar yang masih muda belia dapat diangkat menjadi raja yang berhak memakai gelar syah, maka dinobatkan dia menjadi raja dengan gelar Iskandar Johan Syah sebagai raja (bertempat di daerah Aceh) dan berhak memakai mahkota yang dibuat catri tadi.

Hal ini terjadi tahun 1159 masehi dimana Iskandar waktu itu baru berumur 14 tahun. Tahun 1170 masehi Maharaja Depang kembali ke Moghol Hairat atau Rum Timur (negeri Ruhum), setelah selesai pelantikan Iskandar Johan Syah mereka kembali ke Rum Timur dengan 35 catri yang lama dan yang baru serta membawa 3 buah cung. Maka tinggallah Maharaja Diraja dan Maharaja Alif beserta 40 catri yang baru dan 2 buah cung.

Karena Maharaja Depang sudah kembali ke Rum Timur sebab dia bakal calon pengganti ayahnya Hidayatullah menjadi raja Rum Timur ke 23. Pada tahun 1172 masehi Maharaja Diraja berangkat pula meninggalkan Renah Pandan Lunang beserta dengan 20 catri dan membawa 1 buah cung (kapal) rencananya untuk kembali ke Rum Timur atau untuk mencari wilayah baru.

Sampai di laut Bayang pada waktu subuh melihat matahari terbit di timur, maka timbul keinginannya meninjau rimba belantara. Cung ditinggalkanya di sungai bayang dan mereka terus menuju ke hulu sungai dan terus ke pulut- pulut kemudian terus ke danau di baruh kemudian menyisir gunung talang dan mengikuti arah sungai menyisir ke bukit belantik dan terus ke gunung singgalang, dan dilanjutkan perjalanan ke sekitar gunung berapi dan akhirnya bermukim dibukit gombak Batu Sangkar sekarang.

Maharaja Diraja kawin dengan wanita yang bernama Kagiluh, dua tahun kemudian dia ingin menobatkan diri sebagai raja di Darek (nantinya menjadi luak nan tiga = tanah datar, agam dan 50 kota). Karena bingung siapa yang harus melantiknya sedangkan catri pengikutnya tidak bisa melantiknya karena mereka adalah pesuruhnya dari Maharaja.

Maka kembali dia meminta gelar kepada Zatullah Syah di Lunang (Renah Pandan ). Maka oleh Zatullah Syah diberilah gelar Diraja bukan raja dan tidak berhak memakai gelar Syah. Karena gelar Syah sudah diserahkan kepada anaknya yaitu Iskandar Johan Syah maka dia diberi gelar oleh Zatullah Syah yaitu memakai pangkal nama mereka ” Sri ” yang maknanya sama dengan syah. Maka dia bergelar Sri Maharaja Diraja. Justru itulah seluruh raja yang ada di darek tetap memakai gelar Sri di pangkal namanya. Adapun raja darek yang terakhir bernama Sri Jelito atau Indo Jelito (raja perempuan) yaitu ibu dari Datuk Perpatih dan Datuk Ketamangungan. Sri Indo Jelito adalah raja terakhir di darek kemudian setelah Sri Jelita kekuasaan di darek dipegang oleh Tuanku Lareh dan opersonil sanak keponakan dipegang oleh Datuk.

Mulai dari Sri Maharaja Diraja sampai raja terakhir Sri Indo Jelito di luak tanah datar, agam dan 50 kota disebut orang kerajaan darek berkedudukan di bukit gombak batu sangkar sedangkan di lunang (Renah Pandan) disebut Kerajaan Indojati dan istananya disebut istana pagar ruyung karena di Indojati tumbuh – tumbuhan ruyung sangat banyak. Luas arealnya di Indojati pada zaman itu yang terdiri kerajaan 2 bersaudara tersebut yaitu: Darek dan Pagaruyung (Renah Pandan). Di Pagaruyung duduk raja bergelar Syah dan di Darek duduk diraja dengan memakai gelar Sri.

3. Maharaja Alif

Di saat Zatullah Syah sudah tua untuk menjalankan kepemimpinannya diserahkan kepada Maharaja Alif karena Maharaja Depang sudah kembali ke Rum Timur sedang Sri Maharaja Diraja berkuasa di Darek dan Raja Iskandar Johan Syah masih muda belia.

Entah kenapa pada tahun 1189 masehi Iskandar Johan Syah beserta dengan 20 orang catri dan 1 buah cung yang masih tinggal di muara talaut dibawanya berangkat menyisir pantai barat sumatera arah ke utara, untuk mencari wilayah baru, karena untuk pendamping ayahnya dipercayakan kepada Maharaja Alif.

Iskandar Johan Syah dengan pengikutnya membuat kerajaan di Dayak Aceh tahun 1189 – 1207 masehi itulah kerajaan pertama di Aceh yang dinamakan kerajaan Samudra Pasai, dan Iskandar Johan Syah meninggal di Dayak Aceh. Banyak sejarawan mengatakan Iskandar Johan Syah adalah saudagar asal Arab dari Gujarat sebenarnya dia lahir di Lunang ( Renah Pandan)

Sebanyak 10 dari 20 catri yang dibawa oleh Iskandar Johan Syah kembali lagi ke Renah Pandan atau Lunang bersama cungnya. Raja Maharaja Alif berkuasa tahun 1198 masehi, setahun setelah meninggal Zatullah Syah, Raja Alif berangkat pula dengan 1 cung tadi dan membawa 10 orang catri yang dibawa oleh Raja Iskandar Johan Syah mereka menuju pantai selatan Sumatera terus ke Jawa dan sampailah ke Gresik dan Demak.

4. Raja Tuo

Maka di Renah Pandan (Lunang) pada tahun itu kekuasaan dipegang oleh Raja Tua keponakan dari Iskandar Johan Syah atau anak dari Gulumi cucu Zatullah Syah. Raja Tua pula mempunyai 3 orang anak dan anaknya ke 2 adalah laki – laki yang bernama Ramadun.

5. Ramadun Syah = Raja Indojati ke 1

Raja Alif ( samambing bidai kato tamo ) kabarnya kembali dari Jawa ke Renah Pandan dan dia sempat melantik Ramadun menjadi Syah (raja) dan kerajaaan yang dipimpinnya diberi nama Kerajaan Indo Jati yang berarti Indo adalah nama neneknya yaitu istri Zatullah Syah dan Jati adalah sifat manusia ( yang telah mempunyai 2 sifat yaitu baik dan buruk ).

Ramadun Syah kawin dengan penduduk setempat tujuh bersaudara yang bernama Luhsi atau Puti yang bungsu tujuh bersaudara di talang arah. Ramadun Syah mempunyai anak pertama dan kedua wanita dan anak ke tiga laki-laki yang bernama Bahrun.

6. Bahrun Syah

Dia diangkat oleh ayahnya menjadi raja tahun 1282 masehi dan berhak memakai gelar Syah dia dipanggil Bahrun Syah dan merupakan Syah yang ke tiga dan raja kedua di kerajaan Indojati. Bahrun Syah mempunyai istri 3 orang yaitu: Sari Mekah tinggal di Ipuh dan tidak mendapat anak, istrinya yang ke 2 bernama Andam Dewi di Indrapura dan mempunyai 3 orang anak di mana anak yang ke 2 adalah laki – laki yang bernama Trapal, dan istrinya yang ke 3 bernama Nilam Sari di dapatnya di Batang Kapas pesisir.

Bahrun Syah pernah berperang dengan sipatokah (portugis) di laut batang kapas selama 11 bulan, dengan dalih portugis untuk merebut Nilam Sari – istri ke tiga dari Bahrun Syah. Pasukan Bahrun Syah dihajar oleh portugis dengan mariam sumbu dan pelurunya sering diartikan dengan cindung permayo tujuh ambin anak.

Pasukan Bahrun Syah dibantu oleh orang dari Darek waktu itu raja di darek adalah Sri Maharaja Diraja, Bahrun Syah kalah dan dia beserta pengikutnya menyingkir ke Darek dan kemudian mereka meng-hilir sungai yaitu sungai batang sangir dan membuat perkampungan dan perkampungan mereka tersebut di namakan Tanah Tumbuh, itulah sebabnya Tanah Tumbuh merupakan negeri yang tertua di kabupaten Tebo – propinsi Jambi.

Karena Bahrun Syah telah meninggalkan Indojati maka penduduk lndojati kebingungan karena tidak ada lagi raja di Indojati, maka rakyat banyak yang menyisir bandar 10 menuju darek dan tidak lewat laut karena takut dengan sipatokah (portugis). Orang – orang kerajaan Indojati menyisir bandar 10 (melewati sepuluh buah sungai besar dan panjang ) dari air haji sampai ke bayang pulut – pulut dan mendaki terus cermin alam dan sampai luak nan tigo ( Darek ).

Karena sering dilewati menyisir bandar itu maka jalan yang ditempuh mereka berobah menjadi pesisir bandar sepuluh, kemudian berobah lagi menjadi pesisir. Jadi yang disebut pesisir adalah air haji ( bukan negeri air haji ) sampai ke bayang pulut – pulut.

Bahrun Syah dengan istrinya yang tertua bernama Sari Mekah tidak mempunyai anak dan di Indrapura dia merdapat 3 orang anak yaitu 2 wanita dan 1 laki – laki yang bernama Trapal.

7. Trapal Bahil Syah

Adapun yang laki – laki bernama Trapal, orang mengangkat Trapal menjadi raja (syah) tetapi Trapal bukan anak dari istri Bahrun Syah yang pertama, maka gelar syah-nya disamakan dengan batil ( batal) dan diperhalus ucapannya setelah dia berkuasa yaitu Batil menjadi Bahil sehingga nama kebesarannya ialah Trapal Bahil Syah menjadi Raja Indojati 1305 – 1323 masehi.

Trapal Bahil Syah kawin dengan cina islam asal Lowksmawe Aceh dan tidak mempunyal anak, jika keponakannya diangkat tidak dapat memakai gelar syah maka anak Reno Sati anak kakak Trapal Bahil Syah yang bernama Luhmi (anak kerajaan Indojati) dikawinkan dengan Sri Jelita anak raja Sri Mat Diraja di Darek dan menjadi suami kedua Sri Jelita, ini karena suami pertamanya bernama Sapurba berasal dari Turki. Karena itulah Datuk Parpatih Nan Sabatang sering disebut orang anak Indojati.

Kemudian adiknya Luhmi (suami Sri Indo Jelito) yang bernama Tuno Suli akan dikawinkan dengan adik Sri Indo Jelito yang bernama Reno Gemilan yang tinggal di darek. Dia bisa kawin dengan Tuno Suli asal Indojati Lunang dengan catatan mohon dibuatkan istana.

Karena dia anak raja (anak Sri Mat Diraja ) hal itu dipenuhi orang dan dibuatkanlah istananya ditepi sungai kecil yang menghubungkan batang silaut menuju muaro samungo karena dahulu batang air silaut yang bermuara ke muara sakai indrapura, dari batang air silaut adalah sungai kecil bermuara ke semungo adapun istana dibuat orang berada ditepi sungai kecil tersebut terletak di areal padang tumbuh- tumbuhan ruyung. Kemudian istana tersebut dinamakan istana Pagar ruyung. Karena sungai kecil tersebut makin lama makin besar akhirnya batang silaut bermuara ke samungo dan istana tadi hanyut oleh air dan usianya sudah lama.

Waktu pembangunan istana ruyung – ruyung yang ada disekitar istana diatur penebangannya agar yang tertinggal menjadi pagar pekarangan istana sekaligus bisa menghambat musuh yang ingin masuk karena setiap batang ruyung penuh dengan duri yang panjang.

Waktu itu kerajaan Jawa (Majapahit) mulai diwaspadakan. Kalau sempat tahu ada kerajaan Indojati dia akan menyerang kerajaan Indojati. Bahkan pasukan Gajah Mada telah menjelajah mencari kerajaan Indojati sudah sampai ke Ipuh, tetapi mendengar berita kerajaan Indojati tidak mempunyai raja yang aktif dan pemerintahan kerajaan sudah di pindah ke darek maka pasukan gajah mada tersebut kembali ke Jawa barulah kemudian dikirim Adityawarman ke Sumatera dan untuk mencapai darek harus lewat pantai timur sumatera (Jambi dan bukan pantai barat sumatera). Adapun lokasinya istana itu disebut orang rantau suli atau lubuk suli atau tanjung suli atau sungai ngiang di silaut itulah sebenarnya. Sedangkan yang disebut istana pagar ruyung yang terdapat di areal ruyung yang luas, jadi nama yang populer waktu itu ialah kerajaan darek – paga ruyung di darek diperintah oleh raja. Sri Indo Jelito, kakak kepada Reno Gemilan dan di Kerajaan Indojati yang beristana di pagar ruyung diperintah pula oleh Reno Gemilan.

8. Tengku Dusi (Reno Gemilan)

Reno Gemilan adalah raja kerajaan Indojati (Silaut) yang memerintah di kerajaan Indojati disebut orang Tengku Dusi. Hasil perkawinannya dengan Tuno Suli menghasilkan 5 orang anak 4 wanita dan 1 laki – laki adapun anak yang laki – laki bernama Mansur dan anak Reno Gemilan yang bungsu bernama Gadih Jamilan. Anaknya yang tertua berkembang di Pariaman dan anak yang ke 2 berkembang di Bengkulu dan anak yang ke 3 berkembang di Darek sedangkan Gadih Jemilan (si bungsu) saat itu belum berkeluarga.

9. Mansur Syah

Anak Reno Gemilan yang laki – laki bernama Mansur Syah baru diangkat menjadi raja di Kerajaan Indojati (Silaut). Adityawarman yang beragama hindu diutus oleh Gajah Mada sebagai perwakilan raja majapahit untuk sumatra pada tahun 1348 masehi di mana majapahit telah menundukkan kerajaan Sriwijaya dan para dubalang sriwijaya yang tidak mau tunduk kepada kerajaan majapahit pindah ke hulu batang musi ke hulu musi rawas yang disebut muaro ropit yang terkenal dengan nama bukit tambun tulangnya.

Adityawarman dalam tahun 1348 masehi masuk dari Jambi menuju darek. Sebelum tiba di darek, Datuk Ketemangunggan dan adiknya Datuk Parpatih Nan Sabatang telah mencari jalan bagaimana menangkis kehendak Adityawarman untuk memasukkan kerajaan darek supaya tunduk kepada kerajaan majapahit dengan dalih Adityawarman untuk melindungi darek dari serangan cina yang akan datang.

Datuk Ketemangunggan dan adiknya Datuk Parpatih Nan Sabatang merasa cemas menghadapi raja Jawa yang besar tersebut. Kemudian teringat adiknya yang se ibu dengan Datuk Parpatih di darek seluruhnya sudah menikah dan teringat anak makciknya (anak eteknya) yaitu Reno Gemilan di istana Paga ruyung Kerajaan Indojati yang bungsu belum berumah tangga dan masih gadis maka timbul niat untuknya untuk dibawa ke darek.

Utusan Datuk Parpatih memohon kepada Reno Gemilan di Silaut (Sungai Ngiang) dengan segala bujukan dan janjinya memohon agar Gadis Jemilan dapat dibawa ke darek, dan akan didirikan istana di darek setelah Geno Gemilan dengan anaknya Mansur Syah berunding maka Gadis Jemilan diizinkannya untuk dibawa ke darek, Gadis Jemilan tiba di darek tahun 1349 masehi.

Awal 1350 masehi Adityawarman utusan raja Jawa Majapahit tersebut sampai di darek. Adityawarman disambut secara permai oleh orang darek dibawah pimpinan Datuk Ketemanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang seperti menyambut raja besar. Seolah – olah ingin kerjasama dan tunduk kepada Majapahit dari Jawa. Sebagai bukti tunduk dia menawarkan adiknya Gadis Jemilan anak dari Reno Gemilan di Silaut yang masih berumur 16 tahun untuk dikawinkan dengan Adityawarman pada tahun 1350 masehi.

Setelah beberapa bulan mereka kawin, Datuk Parpatih mengeluarkan peraturan adat yang berlaku di darek yaitu Adityawarman selaku sumando turun setangkik tanggo dan Datuk Parpatih selaku basumando naik setangkik tanggo. Maka menurut adat yang berlaku di darek Adityawarman tidak bisa berkuasa di darek. Jadi yang berkuasa di darek adalah Datuk Parpatih Nan Sabatang (Sutan Balun). Perkawinan mereka berlangsung selama 11 bulan.

Karena malu dikungkung oleh sistem adat di darek maka Adityawarman (kerbau jantan gedang ) dari Jawa bercerai dengan Gadis Jemilan (kerbau betina gadis kecil ).

Adityawarman kembali ke Jawa lewat Jambi, dengan hati yang hancur dan kalah. Hal ini diwujudkan oleh orang darek melalui kiasan kerbau jantan besar dari Jawa kalah oleh kerbau kecil dari Silaut yang dibawa ke darek dalam adu kerbau (perkahwinan). Itulah awal mulanya kerajaaan darek menjadi Minang kabau pada tahun 1350 masehi.

Akibat bujuk rayu utusan Datuk Perpatih yang telah membawa Gadis Jemilan ke darek. Adapun janjinya yang tidak sesuai dengan kenyataanya yaitu dimana Datuk Perpatih mengawinkan Gadis Jemilan dengan orang yang beragama hindu dari jawa yang bernama Adityawarman sangat tersinggung Reno Gemilan dan Mansur Syah. Pernikahannya tidak dihadiri oleh ibunya dan kakaknya Mansur Syah. Selanjutnya Mansur Syah tersinggung kepada Datuk Perpatih dan juga kepada ibunya yang telah mengizinkan Gadis Jemilan untuk dibawa ke darek oleh Datuk Parpatih Nan Sabatang.

Akibat hal itu Mansur Syah berangkat meninggalkan Indojati Lunang dan menetap di Lowksamawe Aceh dan beristrikan orang Aceh, kemudian beristri lagi dengan orang Cina asal Yunan di Kedah Malaya/tanah melayu dan membuat kerajaan di sana. Dia bergelar Mansur syah atau kata orang cina “muan – saw – tir – sha” dia mempunyai 2 orang putra yang tertua bernama Ahmad. Sampai matinya Mansur Syah tetap di malaya/tanah melayu, dan tidak pernah kembali ke Indojati. Mansur Syah adalah merupakan cikal bakal kerajaan malayu di malaysia dan tidak pernah kembali ke Indojati.

Seiring dengan kepergian Mansyur Syah dari Kerajaan Indojati, beliau juga menyerahkan stempel kerajaan dan sebilah keris pusaka untuk diantar kepada Gadis Jemilan di daerah Darek sebagai bukti kelak di kemudian hari Gadis Jemilan masih sangat dimulyakan dan kepadanya harus dikuatkan dengan benda berharga kerajaan. Barang-barang kerajaan yang diantar dan dikuasai oleh Gadis Jemilan adalah stempel kerajaan dan keris pusaka, dengan demikian sewaktu-waktu dia dapat kembali ke Silaut dengan keturunannya untuk diangkat menjadi raja.

Stempel dan Keris Kerajaan Indojati

Catatan: Menurut sejarah, stempel dan keris inilah yang dibawa ke Jambi oleh petinggi kerajaan untuk membuktikan bahwa Puti Salaro Pinang Masak adalah keturunan raja Melayu Pagarruyung sehingga dapat diterima oleh rakyat Jambi sebagai raja.

Stempel dan keris ini juga yang dibawa ke Kerinci sewaktu menobatkan Tuanku Magek Bagonjong anak dari Puti Sarunduk Pinang Masak sebagai raja Kerajaan Pamuncak Nan Tiga Kaum di Alam Kerinci-Serampas. Kedua benda ini masih dikeramatkan dan sebagai benda pusaka tersimpan di rumah adat Pulau Sangkar (Kerinci).

—————————————-

Ibu dari Gadis Jemilan yaitu Reno Gemilan akibat bujuk rayu utusan datuk parpatih dia sangat kecewa sampai mati juga dia tidak mau kembali ke darek dan meninggal di silaut dimakamkan di rantau suli dekat istananya di mudik perkuburan lubuk bunt. Orang kepercayaanya dimakamkan di lubuk peta tepi sungai silaut dimana bekas kerajaan tersebut sudah dilewati oleh batang sikai silaut sedangkan dahulu disitu sungai kecil menuju muaro samungo. Sedangkan sungai silaut yang besar dahulunya masih bermuara ke muara sakai.

Bercerai dengan Adityawarman, Gadis Jemilan kawin lagi dengan seorang  cina yang bernama La – la – tun, untuk menebus janjinya maka Datuk Parpatih dan Datuk Ketamanggungan membuat istana untuk Gadis Jemilan di darek yang disebutnya istana paga ruyung mengambil nama istana di selaut tempat Gadis Jemilan lahir.

Atau istana yang didiami oleh ibunya Reno Gemilan (walaupun tidak ada ruyung di darek karena ruyung tumbuh pada air asin). Gadis Jemilan diangkat menjadi Bundo Kandung setingkat raja di darek oleh Datuk Parpatih nan Sabatang. Namun hati Reno Gemilan dan Mansur Syah tidak dapat terobati oleh keberadaan istana tersebut.

Kemudian jabatan bundo kandung di darek tersebut Gadis Jemilan serahkan kepada anaknya yang pertama dan disetujui oleh datuk parpatih yaitu kepada ibu Romandung anak Gadis Jemilan yang tertua dan anak Gadis Jemilan yang kedua diangkat menjadi rajo mudo dan anaknya yang bungsu sikembang diangkat menjadi bendahara sering disebut si kembang bendahari karena dia wanita. Si kembang Bendahari itulah ibu dari Hairullah dan bapak Hairullah ialah Slamet Panjang Gombak (cina).

Di kerajaan Indojati, Reno Gemilan menyerahkan kekuasaan raja kepada anaknya yang laki – laki 1347 masehi yaitu kepada Mansur dan berhak memakai gelar syah ( raja).

Mansur meninggalkan kerajaan Indojati 1351 masehi sehingga pada tahun 1351 – 1357 masehi kerajaan Indojati tidak ada Syah atau raja, karena sesuatu dan lain hal maka Rajo Mudo di darek kembali ke silaut dan dialah yang dianggap orang sebagai raja, sedangkan darek dengan pagar ruyung (Indojati) sudah renggang. Karena tidak adanya raja lagi di Indojati maka masyarakat Indojati banyak menyisir bandar 10 air haji sampai bayang pulut – pulut jalan menuju darek yang kelak berobah menjadi pesisir bandar sepuluh.

10. Ginayat Syah

Maka tahun 1357 masehi sepakat orang Indojati mengangkat Ginayat ( cucu Reno Gemi!an ) anak kakak perempuan dari Mansur Syah atau keponakan Mansur Syah yaitu anak Reno Tuo dengan suaminya yang bernama Hasan asal darek yang berkembang di Pariaman untuk menjadi Syah (raja) di Indojati maka berhak dia memakai gelar Ginayat Syah. Dimana Ginayat Syah selama menjadi raja pernah berperang dengan sipatukah (portugis) dan si unggarai (ingris). Dizaman Panglima Laut Magek Jabang, terakhir Ginayat Syah berperang dengan pasukan Tiang Bungkuk atau kaum hulu balang Sriwijaya yang lari ke muara rupit karena Sriwijaya telah ditundukan oleh Majapahit.

Perperangan pasukan Ginayat Syah dan pasukan Tiang Bungkuk terjadi bertempat di Indrapura, Muko – muko, Ipuh dan Malepang dan kemenangan di pihak Ginayat Syah sehingga banyaklah jasat manusia yang diikat ampu jari tangannya yang hanyut menuju muaro sakai. Ginayat Syah raja terlama di Indojati sampai 1403 dan dia juga melindungi Bundo Kandung, Tuan Romandung, Sikembang Bendahari, Puti Bungsu dan Slamet Panjang Gombak di Lunang,

Sejak tahun tersebut berakhirlah keberadaan raja di darek dan kekuasan dipegang oleh tuan lareh dan dibantu oleh datuk.

Ginayat Syah meninggal dunia karena sakit dan sudah tua dan tidak mempunyai anak dan dia minta dikuburkan di polikan mudik berdekatan dengan kuburan tentara Ropit (sisa Sriwijaya ) supaya tahu oleh anak cucunya di kemudian hari sebagai bukti sejarah kepahlawanannya. Tempatnya makam Ginayat Syah dekat somil sabral sekarang.

11. Hairullah Syah

Sepeninggalnya Ginayat Syah terjadi kekosongan raja tidak begitu lama di kerajaan Indojati, karena pada tahun 1404 munculah Hairullah anak si Kembang Bendahari di Indojati setelah ditawan oleh Tiang Bungkuk dan dia telah juga membunuh Tiang Bungkuk di muaro ropit ulu sungai rawas (ulu sungai musi). Sebelum dia ditawan oleh Tiang Bungkuk, Hairullah telah beristri dengan Lenggo Geni keponakan Datuk Mandaro di darek dan telah mempunyai satu orang anak yang bernama Iskandar yang ditinggalkannya pada umur 1 tahun karena menjadi tawanan Tiang Bungkuk.

Setelah Tiang Bungkuk meninggal dia juga mempunyai anak dengan Reno Bulan (1 orang) yang bernama Temenggung Kabur di Bukit. Karena permintaan Tiang Bungkuk sebelum dia dibunuh oleh Hairullah agar mengawinkan Reno Bulan, karena kakaknya Imbang Jayo juga sudah meninggal dibunuh oleh kali bayan nunlah (Cindur Mato). Dengan siapa dia harus hidup sedangkan Tiang Bungkuk calon akan dibunuh oleh Hairullah. Secara jiwa besar itulah sebabnya dia kawin dengan Reno Bulan dan melahirkan anak laki – laki yang bernama Temenggung Kabur di Bukit (cucu tiang bungkuk ) inilah cakal bakal Rajo Jambi bagian barat.

Hairullah Syah karena sakti dia diangkat menjadi raja di Indojati karena dia juga garis raja. Hairullah Syah adalah cucu Reno Gemilan yaitu anak dari Sikembang Bendahari, dengan Slamet Panjang Gombak saat itulah adat matrilinial mulai masuk ke Indojati dan belum begitu diterima oleh orang Indojati.

Adapun sistim matrilinial ini oleh bundo kandung diterapkan darek untuk melindung Romandung dan Hairullah karena garis ke atas itu sangat penting apalagi Romandung anak dari bundo kandung yang bapaknya adalah Adityawarman (annasha anabrang). Sejak itu istilah sarak mendaki ke darek adat menurun ke indojati.

Hairullah diangkat orang menjadi raja diLunang dan berhak memakai gelar Syah yaitu bergelar Hairullah Syah. Dia memegang jabatan selama 11 tahun yaitu sampai tahun 1415 dia menderita sakit hampir 1 tahun menjelang kematianya dia berpesan kepada rangkayo, penghulu dan datuk dua selo, Lunang Silaut terutama kepada rajo nan panjang yang memegang kendali kerajaan waktu itu merangkap sebagai panglima laut. Dimana jika seandainya kelak dia meninggal dunia. Maka dia minta pengganti dirinya untuk menjadi syah (raja) di Indojati agar dapat diangkat orang yang mempunyai darahnya berwarna putih .

Waktu Hairullah Syah sakit dan sampai meninggalnya kekuasaan sementara dipegang oleh panglima laut rajo nan panjang, dan sebelum Hairullah Syah meninggal dia minta dikuburkan di Lunang dekat istananya (rumah gedang lunang ).

Setelah Hairullah Syah meninggal dunia terjadi kekosongan raja selama 2 tahun di kerajaan Indojati. Adapun Hairullah syah selama hidupnya 2 kali dia menikah dan mendapat dua orang putra, putra yang tertua adalah hasil perkawinanya dengan istrinya di darek yaitu dengan keponakan Datuk Bandaro yang bernama Lenggo Geni, adapun putranya yang di darek tersebut bernama Iskandar dan di tinggalkanya waktu umur 1 tahun karena dia di tawan oleh Tiang Bungkuk dan dibawa ke ropit, Lenggo Geni sendiri tidak pernah diceraikan oleh Hairullah Syah begitu juga Reno Bulan.

Setelah Iskandar menginjak remaja berumur sekitar 16 tahun mencari orang tuanya Hairullah ke daerah selatan karena ditawan oleh Tiang Bungkuk. Karena dia tidak pernah tahu dengan wajah ayahnya. Iskandar diserahkan oleh ibunya Lenggo Geni satu botol air sebelum berangkat. Jika kelak bertemu dengan air yang berat nya sama dengan air dalam botol yang dibawanya itulah tempat Hairullah syah bapaknya berada. Terakhir perjalanannya dari darek ke daerah selatan. Di lokasi daerah di kuala air dikit (kabupaten muko – muko) setelah terjadi sesuatu akhirnya Iskandar diantar orang ke rumah rajo nan panjang di Indrapura selaku pemegang kekuasan diwaktu itu.

12. Sultan Iskandar Bagagar Alam Syah

Setelah dia mencoba membuat bingkai lukah akibatnya luka ditangan waktu meraut rotan, hal itu membawa hikmah tersendiri bagi Iskandar, dimana rajo nan panjang menghimbau seluruh rang kayo datuk dua selo lunang silaut bahwasanya pengganti Hairullah Syah telah berada di Indrapura yaitu di rumah rajo nan panjang. Setelah beberapa hari dan didapat kesepakatan Iskandar diarak dan dinobatkan orang sebagai syah (raja) walaupun dia anak pisang Indojati, karena dia adalah anak raja yaitu anak Hairullah syah, dia diangkat sebagai raja bergelar Sultan Iskandar Bagagar Alam Syah sejak itulah raja memakai pangkal nama sultan ( st ). Setahun setelah dia menjadi raja dia dikawinkan dengan anak gordan gonto sori dari kaum rajo melayu indrapura yang bernama ratna nandewa yaitu pada tahun 1418 di kampung empat lenggam indrapura dekat muaro gedang, Iskandar Bagagar Alam Syah sangat bertanggung jawab dan melindungi wilayah kerajaanya dari air bangis sampai ketaun (ombak yang berdebur) dia berkali – kali, berperang dengan portogis dan ingris, ketika peperangan dia sendiri memimpinnya.

Kerajaan Indojati dirobahnya menjadi kerajaan air pura berkedudukan di kampung empat lenggam di istananya di ambacang manis dekat muaro gedang. Sewaktu Sultan Iskandar Bagagar Alam Syah berkuasa kerajaan dirobah namanya dari Indojati menjadi Air Pura dan sejak inilah kerjaan dari lunang pindah ke indrapura.

Iskandar bagagar alam syah pernah berperang dan adu sakti dengan, temegung kabur di bukit raja Jambi bertempat di Kerinci mempertahankan kerinci dan berkelahi selama 3 hari tanpa ada pemenangnya, dia dilerai oleh seseorang yang mengerti seluk beluk raja yang sedang berkelahi tali dimana dia mengatakan bahwa kedua tuanku raja sedang berkelahi adalah satu bapak dan berlainan ibu.

Dimana mereka yaitu sama – sama anak Hairullah setelah sadar maka dibuatlah perjanjian di bukit sitinjau laut dan memotong kerbau satu setengah ekor dan darah kedua raja tersebut dicampur dalam mangkuk karang setio dan diminum bersama – sama dengan janji yaitu :

1. Tengkuluk latuh serindit lepas adat teliti, balik ke jambi

2. Undang – undang dan rumah beratap ijuk balik ke minang kabau

3. Mas nan se emas serta rumah beratap sikai kembali ke indrapura ( tanah tiga lurah negeri 4 jurai 20 kaum muko-muko selingkup alam kerinci )

Iskandar Bagagar Alam Syah adalah orang ke tiga yang memakai darah syah yang berdarah darek yang beristana diwilayah Pagar Ruyung Indrapura.

Iskandar Bagagar Alam Syah adalah jabatan raja yang ke 11 dan merupakan raja ke 8 yang memakai gelar syah dan merupakan raja yang pertama yang memakai gelar sultan di kerajaan Indojati Indrapura ).

Selama dia berkuasa adat darek semakin dipopulerkan di daerah indojati yaitu di tanah tiga lurah negeri empat jurai 20 kaum muko -muko serta alam kurinci. Di zaman Hairullah Syah dan Iskandar Bagagar Alam Syah orang indojati yang dulu banyak ke darek sekarang berangsur – angsur kembali ke indojati dan terpusat di dusun dobi dan dusun batu muko – muko sebab raja tidak ada lagi di darek sedangkan darek diperintah oleh tuanku lareh dan datuk.

Selama perkawinan iskandar bagagar alam syah dengan permaisurinya ratna mandewa menghasilkan 3 orang anak yaitu puan leha, pirman dan gumbalo intan, dan gumbalo intan dikawinkan dengan anak raja aceh. Iskandar bagagar alam syah meninggal sewaktu melawan ingris untuk mempertahankan wilayahnya bengkulu.

Dia meninggal diwilayah bengkulu utara, karena kecintaan rakyat kepadanya sangat tinggi maka mayatnya dipikul orang pakai tandu dalam gardo cermin menuju indrapura dan tidak diangkut dengan perahu, dia sangat dicintai dan mencintai rakyat dan sangat ditakuti oleh lawan dia merupakan raja besar dan gagah berani karena disepuh oleh perjalanan hidupnya sejak ditinggal ayahnya sampai masa berkelana mencari ayahnya. Dia mati umur separoh baya dan masih gagah.

Kabar setengah orang mengatakan dia mikrat ditengah jalan dan sebagian lagi orang mengatakan mayatnya iskandar bagagar alam syah tidak sampai ke indrapura. Tetapi yang jelas sekarang diakui mayat iskandar bagagar alam syah terbujur kaku dimakamnya di tanjung batang kapeh indrapura. Iskandar bagagar alam syah berkuasa memimpin kerajaan airpura selama 21 tahun.

13. Sultan Firman Syah = Raja Kerajaan Air Pura

Iskandar Bagagar Alam Syah diganti oleh anaknya Firman dan dia diangkat menjadi syah dan bergelar kebesaran yaitu sultan firman syah, dia mempunyai istri asal muko – muko yang masih berdarah darek dalam kaum sanguno dirajo. Kegiatan kerajaan airpura ke selatan, firman syah orangnya gagah tampan dan berani tetapi belum bisa menyamai keberanian bapaknya.

Firmansah mempunyai anak 5 orang tiga wanita dua orang laki -laki yaitu anak yang laki – laki bernama nurman dan usman. Firmansyah menderita sakit sejak tahun 1458masehi dan meninggal tahun 1462masehi dan dikuburkan di lalang panjang, dia memerintah selama 23 tahun, dan selama pemerintahanya kerajaan airpura tidak begitu banyak mendapat tantangan.

14. Sultan Nurman Syah = Raja Kerajaan Air Pura

Semasa Firmansyah sakit dia menyerahkan kekuasan kepada anaknya Nurman sedangkan Nurman baru berumur 10 tahun dia diangkat menjadi syah dan bergelar sultan nurman syah. Dia mempunyai putra 3 orang yaitu 2 wanita 1 pria dia memegang gelar syah selama 14 tahun. Dia meninggal dalam usia muda berumur 24 tahun dan meninggal 3 orang anak yaitu seorang pria yang bernama nardu alam.

15. Sultan Usman Syah

Nurman syah digantikan oleh adiknya yang terkecil bernama Usman tahun 1471masehi dalam usianya 20 tahun dan berhak memakai gelar raja syah yaitu sultan usman syah.

Sultan usman syah adalah raja yang terkenal yang sangat arif dan bijaksana manajemen dan kerja samanya dengan pihak lain sangat baik , wilayah kerajaannya sangat luas yaitu mulai dari Biha Krol dan Liwa Lampung Barat sampai ke Air Bangis terus ke Singkil pulau tengku Aceh barat. Dimasa beliau inilah kerajaaan dirobah namanya menjadi kerajaan Jaya Pura.

Dan suami kakaknya yang bernama Jamilah diberinya memegang wilayah Aceh sampai ke Riau, dan beristana di kampung indrapuri pidi sigli aceh. Semasa beliau hidup seluruh pembesar kerajaan jayapura memanggil Raja Aceh dengan sebutan uia atau gata (kamu atau saya) tidak perlu pakai petik atau hamba.

Usman Syah mempunyai anak 5 orang seluruhnya wanita tertua bernama hartini, tidartun dan yang terkecil bernama saripah, kakaknya jamilah yang kawin dengan orang makudum dalam 6 kaum dimudik Indrapura diberikan kekuasaan di Pidi dan Lowksamawe dan dibuat perkampungan bernama Indrapura karena Jamilah putri raja Indrapura anaknya bernama Ibrahim.

Dimana Ibrahim tidak bersama dengan ibunya di Pidi tetapi banyak hidup di Indrapura bersama pamannya Usman Syah. Setelah dia besar Ibrahim dikawinkan oleh Usman Syah dengan putrinya yang bernama Tidartun anak Usman Syah yang tertua dan diberinya wilayah kekuasaan di daerah Pidi Lowksamawe dan Aceh Timur dimana orang tuanya berada.

Ibrahim diberi gelar oleh Usman Syah yaitu Mohayat Syah dan berkuasa pada tahun 1506 – 1524 masehi. Dimana istri Mohayat Syah, Tidartun bersaudara kandung dengan Saripah ibu Musapar Syah. Dan Usman Syah lah yang merobah nama kerajaan AirPura menjadi kerajaan Jayapura. Dia memerintah di Jayapura selama 32 tahun dan Usman Syah meninggal dunia setelah tua dirumah keponakanya dan anaknya Jamilah atau menantunya yaitu di tempat Mohayat Syah di Pidi Aceh. Dia akan dibawa ke Indrapura tetapi karena sesuatu dan lain hal terpaksa dikuburkan di pulau Tongku Singkil Aceh Barat.

16. Sultan Muhamad Syah (Merdu Alam – Raja Kerajaan Jayapura)

Karena Usman Syah tidak mempunyai anak laki -laki orang menyerahkan kekuasan kepada anak kakaknya yaitu anak Nurman  yang bernama Mardu Alam untuk menjadi raja ( syah ) dan dia diangkat menjadi raja dan bergelar Sultan Muhamad Syah dan permaisurinya bernama Puan Nur Nir Nala asal Aceh. Mardu Alam orangnya juga sangat gagah dan berani dan berjiwa semangat, arif dan bijaksana.

17. Sultan Mohamad Syah ( Ngoh – Ngoh Raja Kerajaan Ujung Indrapura)

Merdu Alam digantikan oleh cucu Usman Syah anak dari Hartini yang sering dipanggil Ngoh – Ngoh yang bergelar Sultan Mohammad Syah, ngoh – ngoh menikah dengan wanita Pariaman dan mendapat anak 2 orang pria 4 orang wanita.

Ngoh – ngoh senang dipuji dan wilayahnya kurang terjaga sehingga ujung ke ujung pindah ke kerajaan lain seperti Biha, Kroi dan lain – lain sudah masuk ke Banten; Natal Sumut, Dal Singkil sudah masuk ke Aru ( batak ) dan sebagian ke Aceh. Ngoh – ngoh asik bersenang lena di istananya diJayapura dan juga di Pariaman. Metri sating bertingkah akibat saliro mengambil muka kepada raja, istri dan keluarga istrinya ikut mengatur istana, hukum kurang berjalan sebagaimana mestinya, perlidungan kerajaaan kepada rakyat sangat kurang bahkan panglima laut ikut mengambil muka dia sering bolak balik indrapura pariaman sehingga kerajaan dirobah namanya dari jayapura menjadi ujung indrapura perobahan ini atas permintaan istrinya.

18. Sultan Musapar = pain Kerajaan Indrapura

Kerajaan sudah mulai miring pusaka dan wilayah berangsur angsur kurang. Adat dan agama semakin renggang melihat hal yang demikian orang kerajaan sepakat seluruhnya menyarankan agar ngoh -ngoh meletakkan jabatan dan mengangkat Musapar anak dari Saripah yang juga cucu dari Usman Syah menjadi raja dan berhak memakai gelar syah yaitu Sultan Musapar Syah.

Ngoh – ngoh beserta istri dan keluarga istrinya kecewa berat. Dia kembali ke Pariaman setelah 20 tahun berkuasa memimpin kerajaan Ujung Indrapura setelah itu jarang dia kembali ke Indrapura sampai meninggal di Pariaman.

Ucapannya indah didengar dan istrinya orang Aceh. Dia meninggal dan dimakam di Aceh setelah memerintah selama 23 tahun di kerajaan Jaya Pura.

Sumber :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=321306754555170

5 Comments

  1. Salam. Semoga anak keturunan Kerajaan Indrapura di muko-muko di tempatkan disisi Allah dan di jaga sampai hari akhir. Saya sangat ingin mengetahui kelanjutan dari keturunannya sampai saat ini kalau anda memilikinya tolong sampaikan via email saya ini. Terima kasih, dan salam kenal. Taslma Usman.

  2. oiya, ayah saya juga dari muko-muko, tapi saya kehilangan silsilah keluarga beliau,dan beliau sudah tidak ada sejak lama.

  3. saya mempunyai ranji keturunan Puti Rekna Laut di Muko-muko.. apakah anda mengenal nama itu?

  4. rajo alam

    Numpang batanyo ciek malin. Ambo banyak tertarik jo tulisan malin. Tapi ambo ingin tau referensi dari tulisan malin. Buliah ado jawek ambo bilo ambo bacarito pulo untuak adu pandapek jo urang nan tertarik sejarah.

    • tanyakan pada Profesor Aulia Tasman, dosen IAIN Jambi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: