Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Tambo Kerinci 2 – Sultan Rajo Dirajo


Dan Sultan Rajo Dirajo khalifatullah kasetero pemuncak ‘alam, pegangnya batu kacang sungai beremas, barentek digamut berentak dinapang, di situlah makoto terlebih sati. Kemudian daripada itu ditakdirkan Allah ta’ala, maka adalah suatu Poti di Batu Sangkar, maka berjawab ijab dengan kabul, kemudian maka dapat anak delapan orang. Kemudian maka ditegak balai bunta besendi gading, panjang tujuh, sengkanya enam, berasuk gading selalu, bersendi segading tunggal, bertiang teras jelatang, batabuh batang pulut2, begendang begendang batang cino guri, begetang jangat tuma, sekertum balai berleret, bajirung balai malintang, tujuh pingkat selapan penjuru, betanduk guwang gading suasa, balapik tilung badada tilung, lapik tilung pandan beguris, dibawa alang kuari, payung mengapit kanan dan kiri, payung tekembang adat di belakang, maka ditengkek balai anjung malintang tinggi. Maka memandang ke laut ujo, tampatlah ular seketi muno, maka meminto Sultan Rajo Dirajo, maka adalah pusako yang tigo: pertama cunek serangin lalu, kedua cunek serangin gila dan ketiga cunek sembilan giring, ulunya kuning sumbing seratus. Kemudian maka terompak seketi muno, ekornya jadi bukit se-guntang2, pedunya Serampeh Sungai Tenang, dadonya itu jadi tanah tadi atas, kepalanya Gunung berapi, pusatnya ‘alam Sungai Pagu, punggungnya ‘alam Minangkabau, tangan kanan ke Inderapura, tangan kida ke Enah Giring. Sudah menetak Seketi muno maka hilang sembilan girirng, maka dikadukan di Rajo yang tigo selo, maka tahu daripada pedang sudah hilang, maka kedengaranlah suara di awang-awang, maka tedenda seguling batang, sekuning lembia, selesung pasuk, selengan baju panjang, seruas telang di rimba. Maka diadakan beras hitam, beras putih, dasun babawang, kulit manis, pinang batanduk, sirih badagang, tebu becap manis babuli, tuak dengan babuluh, nasi baambung, gulai babakung, kelapa betali, ketutu tiga gayo, ketitir panjang ranto,puyuh panjang dengung, ayam simabr ekor, maka diperadapkan sembah kepada Jibrail, maka terdiri cunek sembilan giring, sudah menetak seketi muno jadi sumbing seratus sembilan puluh. Maka tumbuhla kayu antara Mekah dan Madinah berurat ada seurat babatang ada sebatang, badahan ada sedahan, badaun ada sehelai, uratnya cemeh yang dua belas, batunya menjadi undang2 yang dua lapan, dahannya jadi teliti, daunnya jadi isyarat, babunga ada setangkai, babuah ada sebiji, ber-gilang2 rupanya, jatuh buah menimpa bangka, maka adalah Datuk Rangkang Pamuncak Alam, maka didaki gunung berapi, melingo ilir, memandang mudik………..tampaklah bayang luak selapan dibaruh batu berliyir di situlah bayo putih daguk. Maka memandang ke Pariang Padang Panjang, tampaklah seorang suatu rajo, duduk di balai buntak besendi gading, maka di ruang imbo yang dalam, maka terompak Pariang Padang Panjang. Maka tetepat di balai Buntang besendi gading, maka ditangkap kerbau jantan sebanua. Maka dipotong kerbau itu, dipasah idak bajangkat, disait idaknya genap. Maka ditambah dengan kambing irang kenantan tanduk, dado putih punggung kuning. Tatkala itu cupak babatih gantang babelah, yang segantang kurang dua lima puluh tahil. Datuk Rangkang Pamuncak Alam masakan duduk di setera pamuncak alam di bawah payung sekaki, karang setia yang semangkuk, jikalau tidur berbungkus cina, jikakau makan betabang-tabang, minum air bejamu-jamu. Maka berkatalah Sultan Seri Kali, segala tuan yang gedang2, segala tuan yang kayo2, jikalau bulih permintaan saya, perjalanan Datuk Rangkang jangan dilarang, supaya bumi kita ini senang. Datuk Berpayung putih membawa ukur bailok, membawa pantak dengan tiga buah, berjalan tidak ngida dan tidak nganan, orang sujud pada Allah dan sujud pada Rasul. Maka Rajo yang delapan itu masing2 mencari tempat. Pertama nah giring malimpah Kuatan lalu ke pangkalan, itulah mula2 menjadi Rajo Nahgiring yang bernama Sultan Jumadil Iman, anak Yang dipertuan di Pagaruyung juga, kedua balik ke luak Agam Tanah Datar, melimpah ke luak Lima puluh, itulah mula2 menjadi raja di luak Agam Tanah Datar, yang bernama Sultan Seri Kali anak Yang dipertuankan di Pagaruyung juga. Ketiga balik ke Bandar Aceh Bandar Aceh melimpah ke Batu Bara, Itulah mula2 menjadi raja, itulah yang bernama Seri Pangkat. Yang keempat ke Sungai Pagu melimpah ke Pasisir balik Bukit, lalu ke Benda Sepuluh, itulah mula2 menjadi raja di Sungai Pagu, Sultan Besar Bergumbak Putih. Yang kelima ke Inderapura pegangnya Bandar Sepuluh bandar yang besar, maka buluh masuk kuala Padang, sejak dipisah piso anyut, sejak dirau bertongkat arang, sejak dinibung belantak intan, sejak seketak air itang, sejak sekilang air Bangis, sejak di Tiku Pariaman mudik sejak di guo kelam kemarin, itulah yang mula menjadi Inderapura yang bernama Sultan Muhammad Syah. Yang keenam balik Bantan Muko-muko ke Jawa, lalu ke Mentarang, itulah mula2 menjadi raja negeri Bantan Muko2 yang bernama Sultan Mukai Batu. ketujuh balik ke negeri Palembang, lalu ke Bugis dan lalu ke Mentawai, itulah mula menjadi raja negeri Palembang yang bernama Sultan Inda Rahim. Yang keselapan balik ke negeri Jambi, melimpah ke Batang Arri, lalu kerenah Kerinci, itulah yang mula2 menjadi rajo negeri Jambi yang bernama Sultan Baginda Tuan. Kemudian daripada itu kayu lah berlareh dan sungai lah babatang dan tanah lah begabung Sultan Besar memegang tanah Jambi dan sembilan lareh alam Jambi dan sembilan lareh alam Palembang dan tujuh puncak alam Jambi dan tujuh puncak alam Palembang. Di dalam puncak yang tujuh, menusun ke puncak yang dua: Puncak yang pertama Batang Ari, puncak yang kedua ‘Alam Kerinci, itulah puncak Jambi. Kemudian maka dicacak negeri di tanah pilih, maka begelar tanah pilih. Maka begelar tanah pilih sembuang kenantan cuci dan segetan pucuk seribu, dan ceno guri pucuk seribu dan sebatang talang merindu, maka dientak tamilang dilarikkan tanah bato, direntak kepalo negeri dapat bedil setundo musuh di tengah negeri, dapat gung setimban Jambi, dan dapat bedil segetar mas, direntak kor negeri dapat bedil sekupi kala, baru baparit dua mambo, maka adalah Pangeran Temenggung kebul di bukit, maka adalah Ratu yang berdua, adalah Sutan yang berempat, adalah Jenang yang tiga puluh. Tatkala Pangeran kubul di bukit naik Alam Kerinci membawa tali empat belas tukal, membawa kain pan-jang selapan hendak mengukur gabung tanah. Di dilir jak tetepat pulau Tiung, di mudik gading terentak dapat tanah empat belas gabung. Di mudik batang Selangun tetepat ba:ai kecil Muara Masume dan tujuh batu bagalo cimbung, kesiknya………….air salunya segajah mandi. Maka di mudik Batang Merangin tetepat salam muku, salam muku tetepat rajo, tanah nah kayu batanam, lubuk gaung batating sirih. Maka jadilah rajo yang tiga selo: Pertama Dipati Setio Rajo, kedua Dipati Tio Nyato, yang ketiga Dipati Tiung ti. Kemudian maka begelar Setio Rajo duduk di Batu Hampar, bersandar di tiang aras memegangkan tiang sendi bumi. Maka bergelar Dipati Tiung Nyato, menyatokan kato rajo. Dan maka begelar Dipati Tiung Meti, mematikan kata rajo. Kemudian maka ditempuh penguatan Lubuk Sam, didaki bukit kemuro, diteke jenjang yang tiga, maka didaki bukit kemuju dan naik Serampas Sungai Temang, menyacak rajo di Sungai Tenang dan bergelar Dipati Gento Nyalo dan Rio Peniti. Maka bergelar Dipati Gento Nyalo, menyalokan kato rajo. Maka bergelar Rio Peniti, meniti kato rajo. Maka diturun bukit kemujur, maka tetepat pondok yang tiga buah negeri di dilir pondok bekedai, di mudik bapondok panjang, di tengah bapondok tinggi. Kemudian maka melayang di Sungai Banang batang Penetai, maka didaki bukit sembilan tanggo, pematang panjang setimbun parut, maka tetepat di dusun Tanjung muara Sake, maka ditempuh batu Pelarah, maka didaki bukit badengung, maka tetepat tanah Sanggaran Agung, itulah ujung tanah khalifah. Dan tatkala raja naik dan jenang naik, mencacak rajo di ulu sungai, maka jailah raja yang empat selo, pertama Dipati Mendaro Langkat dan kedua Dipati Rincung Talang dan ketiga Dipati Rincung Telang dan ketiga Dipati Bian Sari dan keempat Dipati Batu Hampar. Dan tiga di baruh, empat di atas. Maka jadilah dipati empat delapan helai kain, sungai bagian tungun. Kemudian daripada itu diilir kerbau yang tiga ekor, maka mudiklah beras yang sembilan ratus ke tanah nah anto Salamuku. Maka dipotong kerbau yang tiga ekor, darah dikaco, dagingnya dimakan, atinya jadi karang setio, dan sedalam bumi setinggi langit, da’ lapuk daripada hujan, da ‘lekan daripada panas, maka dikaco karang setio, di bawah payung sekaki dak boleh kecut, dan karang setio yang semangkok tak boleh terlimbat di atas sendi kerajaan yang sebuah, dak boleh tergilit. Maka jatuh adat dengan pusaka, maka negeri pagar adat, tapian bapagar baso, adat kawi kitab Allah. Lazim syara’ tegantung di-awang2 kitabullah membubung naik langit berebat jangan dipanjat, besawa jangan ditempuh. Siapa memacak boleh utang, siapa menempuh bulih baris. Dan tanduk kijang becipang tujuh betulak mudik, keluk kati kegumbak mas betulak ilir, tumbak belang di Sanggaran Agung, Talang Genting ke Tebing Tinggi, undang2 tanah Seleman, piagam di tanah Hiang, celak berjalan Penawar Tinggi. Maka dengkek balai panjang selapan tingkat dan panjang sembilan perbayo tergantung tinggi………………..di bawah au tempat mandi di Lubuk Batu.

Sumber:
http://www.facebook.com/groups/IstanaInderapura/doc/387310091285899/ by Mamoh Kincai Asril

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: