Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Jejak Manuskrip Kesultanan Inderapura (3)


3.2. Pohon Ranji

Pohon ranji silsilah keturunan Raja-raja kerajaan kesultanan Indrapura yang tertulis dalam manuskrip isinya terdiri atas beberapa bagian antara lain:

a)      Kepala Ranji

Kepala ranji dimulai dari nama: Sulthan Jamalul Alam yang dipertuan Daulat khalifatullah Iskandar Alam Ibnu Adam AlaihisSalam, menurunkan 1. Sulthan Maharajo Alif, kerajaan di benua Ruhum, 2. Sulthan Maharajo Depang, Kerajaan di Tibet, 3. Sulthan Jamalul Alam Daulat yang dipertuan Sultan Sri Maharajo dirajo, kerajaan di pulau Linggapuri, dekat kaki gunung merapi. Dan dari Sulthan Sri Maharajo dirajo ini, keudian diturunkan Sulthan nan Salapan yang akan menjadi raja di rantau masing-masing dan salah seorang putranya adalah yang dinobatkan di kerajaan Kesultanan Inderapura yakni; Sulthan Muhyidsinsyah Daulat Sultan Jamalul Alam Sri Maharajo dirajo Muhammadsyah Kerajaan di Inderapura.

b)     Sulthan Nan Salapan.

Kerajaan Sulthan Taj’ul Alamsyah dibagi atas delapan wilayah jajahan (pertahanan) yang masing-masing memiliki daulat (otonomi) dan menurunkan Sulthan-Sulthan yang berkuasa di masing-masing wilayahnya sampai ke rantaunya.[1]

Dalam Manuskrip Ranji ini tercatat Sulthan Nan Salapan berikut wilayah kesultanannya yang terdiri dari:

  1. 1.      Sultan berpangkat Rahim, Kerajaan di Aceh melimpah ke Malaka, Tapak Tuan Jajajahannya.
  2. 2.      Sultan Indar Rahim, Kerajaan di Palembang melimpah ke Musi, Rejang Empat betulai Jajahannya.
  3. 3.      Sultan Kalabansyah (di Muara Kalaban) Kerajaan di Indragiri melimpah ke Asahan jajahannya.
  4. 4.      Sultan Sri Baginda Tuan, Kerajaan di Jambi lalu ke pucuk Jambi Sembilan lurah Jajahannya
  5. 5.      Sultan Bergombak Putih Berjanggut Merah di Sungai Pagu Melimpah lalu ke solok selayo.
  6. 6.      Sultan Bagindo Maharajo Dewa, kerajaan di Parit Batu melimpah lalu ke negeri Pasaman, Kinali Jajahannya.
  7. 7.      Sultan Mahyuddinsyah, Kerajaan di pulau Bantan, Gunung Serang jajahannya sampai ke Betawi.
  8. 8.      Sultan Muhyiddinsyah Daulat Jamalul Alam Sultan Sri Maharajo dirajo Muhammadsyah, Kerajaan di Inderapura.

Didalam naskah tidak disebut nama kecil raja-raja tersebut, tetapi ada yang hanya dicatat/ditulis gelar kebesaran martabat seorang raja atau sultan yang disandang atau dipakainya. Sultan nan salapan, yang berkuasa memegang wilayah rantau, sekaligus merupakan wilayah penyebaran agama Islam di Nusantara ini, karena runtuhnya kekuasaan daulah-daulah Islam , terjasi pula pergeseran system pemerintahan[2].

Beberapa Tambo Minangkabau , yang di salin secara turun temurun juga mencatat Sultan Nan Salapan ini dalam berbagai variasi, terutama pada zaman Raja nan Sati anak Dang Tuanku, cucuran Daulat Tuanku Maharaja Sakti yang terdahulu, sebagai Raja Pagaruyung. Antara lain menyebutkan sebagai berikut: “Nama-nama Raja yang berasal dari keturunan Raja Pagaruyung dsb.[3]

 

C. Batang Ranji

Yang disebut batang ranji, adalah susunan silsilah nama-nama raja atau sultan yang tercatat lurus dari atas ke bawah dalam manuskrip ranji tersebut. Artinya kalau diurut dari yang pertama sampai keturunan yang terakhir secara garis lurus kepada keturunan yang terakhir dalam ranji tersebut. Ada 35 nama (generasi) yang berurut dari kepala ranji sampai keturunan yang terakhir tercatat dalam manuskrip tersebut.

3.3. Ranji Keturunan dalam penyebarannya di berbagai wilayah.

         Beberapa raja dan Sultan beserta keturunannya yang tidak tersebut dalam batang ranji seperti yang diuraikan diatas, berkuasa dan menjadi raja pula dalam nagari-nagari bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan kesultanan Inderapura. Dan ini menjadikan keturunan raja-raja dan sultan-sultan inderaura menyebar daik dalam wilayah kekuasaan pemerintahannya maupun diluar wilayah kerajaannya, tergantung dari situasi dan kondisinya.

Beberapa keluarga kerajaan Inderapura yang telah terpisah, lebur menjadi anggota masyakat biasa, masih dapat ditemukan pertalian hubungan keturunan dengan asal nenek moyang mereka, dengan bukti ranji yang mereka miliki tetapi ada juga yang telah terputus, dan tidak diketahui lagi hubungannya, kecuali berdasarkan cerita nenek-nenek terdahulu, bahwa mereka sebenarnya berasal dari keturunan keluarga kerajaan Kesultanan Inderapura di masa lalu.

Diantara keturunan-keturunan keluarga besar kerajaan kesultanan inderapura ini ada yang perlu mendapat perhatian untuk penelitian pelurusan jalannya sejarah. Hal ini juga disebabkan karena hubungan kekeluargaan yahng terputus sejak lama sehingga antara satu keluarga dengan keluarga lain tidak lagi saling mengenal. Bahkan apabila dipertemukan kadang-kadang malah bisa mendatangkan salah pengertian tentang keberadaan masing-masing.

Beberapa raji dan keterangan- keterangan asal usul diantara sesame keturnan keluarga besar kerajaan kesultanan inderapura, yang sempat penulis amati, umumnya merupakan dahan dan ranting dari batang ranji yang terdapat dalam Ranji Induk Silsilah Raja-raja dan sultan-sultan kerajaan kesultanan Inderapura, yang masih ada.

Panjang pendeknya sebuah ranji yang bisa dicatat dalam sebuah kelompok kaum, tergantung dari kepedulian kamu itu sendiri. Demikian pula tentang ranji silsilah keturunan keluarga kerajaan kesultanan inderapura. Bagi mereka-mereka yang merupakan keturunan keluarga besar kerajaan ini, sesuai dengan kepentingannya tentu akan membuat ranji-ranji kaum dalam keluarga sendiri dimana nenek atau kakek moyang mereka berasal dari zuriat keturunan asli kerajaan kesultanan inderapura ini.

Disinilah munculnya turunan ranji-ranji yang bervariasi, menurut batang, cabang dan ranting ranji induknya, sesuai pula dengan penyebaran keturunannya sampai kedaerah-daerah lainya.

Sepanjang yang dapat diketahui ada beberapa ranji yang ada kaitan keluarga dengan zuriat keturunan kerajaan kesultanan Indrapura yang ditemukan selama penelitian ini, tersebar di berbagai wilayah tepatan keluarga keturunannya yang dapat dipergunakan sebagai bukti dan informasi penunjang tentang keberadaan kerajaan kesultanan Inderapura dimasa lalu.

Walaupun beberapa ranji atau keterangan-keterangan tersebut hanya merupakan tulisan biasa. Kemudian juga beberapa informasi tentang riwayat keturunan berdasarkan cerita-cerita orang tua terdahulu yang dituliskan kembali bukan berarti keterangan ini tidak berguna, hanya saja perlu dilakuakn cross cek atas kebenarannya.

Demikianlah setiap ranji kaum ketrunan kerajaan kesultanan Inderapura tentu merupakan cabang atau ranting dari batang induk ranjinya dan keluarga tersebut bisa saja bertebaran diseluruh wilayah rantau nenek moyangnya yang mula-mula pergi ketempat itu. Hidup dan berketurunan, baik sebagai warga biasa atau memang sebagai raja pula diwilayah yang dikuasainya.

Menurut adat minangkabau, pertalian hubungan kekerabatan ini bisa berupa belahan persaudaraan, kudung karatan, saparuik, sakaum, atau saniniek, berdasarkan tali darah menurut garis bapak atau menurut garis ibu, atau pertalian berdasarkan tali sako dan tali pusako.

Dengan demikian kita akan dapat melihat sejauh mana tali kekerabatan seorang dengan seorang lainya terhadap perut inti nenek moyangnya yang tercantum dalam sebuah ranji kaum. Ada yang masih bisa menjelaskan hubungan kekerabatan mereka dengan berbagai bukti, tetapi ada pula yang sudah kabur, karena mata rantai nenek moyang yang tidak diketahui lagi asal usul dan ceritanya.

Beberapa sumber keterangan yang punya kaitan erat dengan zuriat keturunan kerajaan kesultanan Inderapura yang dapat dihimpun sebagai koleksi data dalam penelitian ini antara lain adalah, dari muko-muko- Manjuto, Natal, Barus, Tarusan, Bayang, Padang, Pagaruyung, Pulau Punjung, Sungai Penuh, Jambi, Jakarta dll.

 

[1] Walaupun terdapat berbagai variasi dalam penulisannya, namun pada prinsipnya wilayah kekuasaan sulthan-sulthan  Taj’ul Alam yang berpusat di lereng gunung merapi merupakan bukti sejarah yang factual tentang keberadaan kerajaan Islam yang pertama di Nusantara ini, dan ada kemungkinan lebih awal dari pada kerjaan perlak di Aceh

[2] Dilereng gunung Merapi beberapa kali terjasi perpindahan pusat kerajaan, sejak dari Sandi laweh, Pasumayam Koto Batu, Lagundi Nan Baselo, Pariangan Padang Panjang, Limo kaum, Sungai Tarap, Bungo Satangkai, Bukit Batu Patah, Saruaso  dan Akhirnya terpusat di Pagaruyung, Ranah tigo Balai

[3] Edward Djamaris, Ibid Bab VII: Hal 408-410

*Makalah ini disiapkan untuk Simposium Internasional Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa), 26-28 Juli 2004, bertempat di wisma syahidah, Universitas Islam Negeri Ciputat, Jakarta

Oleh:

EMRAL Djamal DT RAJO MUDO

Praktisi dan Pengamat Budaya Tradisi

Judul asli:

MENELUSURI JEJAK SEJARAH MANUSKRIP KERAJAAN USALI KESULTANAN INDERAPURA DIPESISIR SELATAN- SUMATERA BARAT BAG III

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: