Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Karang Setia Penghulu Mantri 20


Bunyi Karang Setia, Isi Sumpah  Penghulu Mantri Yang Dua Puluh, dengan Sultan Kerajaan Indropuro di Balairung Sari di Pulau Raja, Pulau Persumpahan dan di Taman Indropuro.

 

Bismillahirrahmanirrahim

 

Selama negeri dihuni selama air disauk selama ranting dipatah, setinggi langit sedalam bumi, kami Penghulu Mantri Yang Dua Puluh yang terdiri dari Tiga Pihak :

 

Pihak  Enam Di Hulu

Pihak Enam Di Hilir

Pihak Delapan Di Tengah

 

Sampai kepada Ahli Waris kami turun temurun, bersumpah bahwa kami akan tetap setia menepati janji, menjunjung titah dan menjalankan perintah Daulat Yang Mulia Yang Dipertuan Sultan-Sultan dalam Kerajaan Indropuro sampai kepada Ahli Warisnya pula yang turun temurun.

Apabila kami Penghulu Mantri Yang Dua Puluh sampai kepada Ahli Waris kami nanti di kemudian hari, mungkir tidak menepati janji, akan dimakan Biso Kawi Alam Tigo Jurai, dikutuk anak Rajo-Rajo, disumpah oleh yang sati-sati, nenek moyang Daulat Kerajaan Indropuro.

Maka ka-ateh tidak ba-pucuk, ka bawah tidak ba-urek, di tengah-tengah dilarik kumbang, hidup bak karakok di ateh batu, padi ditanam lalang tumbuh, rupo elok hatinyo gilo.

Pada saat Karang Setia Persumpahan ini, Penghulu Mantri Yang Dua Puluh Indrapura di beri tanda dan isyarat pada Saluk Kebesaran Adat-nya, ialah Ikek yang merupakan ikatan sebagai perlambang sejarah, yang diwarisi turun temurun oleh Penghulu Mantri Yang Dua Puluh, tidak lapuk di hujan tidak lekang dipaneh, yang terdiri dari :

 

Pihak Delapan Di Tengah diberi kebesaran :

 

Ikek Kuniang, Alam Kuniang, Perisai Kuniang, memberi isyarat, terbujur mayit di tengah, kuniang tanah penggalian, yang Adat Pusaka dan Raja/Sultan tetap dipertahankan.

Mempunyai tugas menghubungkan dan menyampaikan berita dari hamba rakyat kepada Perdana Mentri dan Sultan, luar dan dalam.

 

Pihak Enam Di Hulu, diberi berkebesaran :

 

Ikek Merah, Alam Merah,  Perisai Merah, menjadi tanda, berenang dalam lurah darah, berpijak di atas bangkai, yang Adat Pusaka  dan  Raja/Sultan  tetap  dipertahankan.

Mempunyai tugas untuk menjaga musuh dari darat  atau musuh dari gunung.

 

Pihak Enam Di Hilir, diberi angkatan kebesaran :

 

Ikek Hitam, Alam Hitam, Perisai Hitam, memberi hikmah, Hitam menjadi puntuang, hangus menjadi arang. Yang hitam asap bedil, Adat Pusaka dan Sultan tetap dipertahankan. Mempunyai tugas untuk menjaga bajau-bajau / musuh  dari laut.

 

Persumpahan ini bertempat di Pulau Raja dan di Taman Indrapura. Maka Penghulu Mantri di beri pangkat kebesaran Adat,  bergelar  Rangkayo,  dengan hikmahnya :

 

Kayo dengan Akal Budi,

Kayo dengan Sanak Kemenakan,

Kayo dengan Mas dan Perak,

Bicaranya bisik,

Katanya didengar oleh kaumnya.

Gelar Rangkayo ini, mahal tidak dapat dibeli, murah tidak dapat dimintak.  Bersifat merata, berat sama-sama dipikul, ringan sama-sama dijinjing,  sehina semulia, rukun dan bersatu. Tuah Nan Sekato, Cilako Nan Besilang. Musyawarah dan mufakat menurut : Alua jo Patuik, Surih jo Barih, Bajanjang naiek Batanggo turun. Tidak ado kusut nan tidak selesai.Tidak adoh keruh nan tidak jernih.

Pusat jalo kumpulan ikan,

Pucuk bulek Urek tunggang,

Gantiang yang memutus,

Biang yang menebuk,

Keris yang sakti,

Tombak yang tajam,

Perisai yang biso,

Tongkat yang keramat,

adalah,

 

Daulat Yang Dipertuan

Sultan Kerajaan Indrapura.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: