Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Manuskrip Kesultanan Inderapura


Ranji Silsilah keturunan kerajaan usali kesultanan Inderapura yang disusun seperti pohon terbalik, dari puncak yang satu atau sepasang kemudian menurunkan generasi yang sambung menyambung dan bercabang-cabang banyak. Ranji silsilah keturunan raja-raja ini merupakan manuskrip asli yang masih tersimpan oleh ahli warisnya. Manuskrip ini merupakan satu-satunya sumber otentik tentang pohon sejarah Islam di Nusantara, khushnya pemerintah kesultanan Inderapura. Sebuah keberadaan kaum, suku atau dynasty harus memiliki Ranji silsislah sebagai bukti dirinya.

Sejarah berasal dari bahasa Arab Syajarah yang artinya pohon atau batang. Sebagai pohon tentu saja ia bisa berdahan dan bercabang, dan memiliki ranting-rantingnya. Pada awalnya kata ini dipakai untuk Ranji, yakni pohon silsilah asal usul suatu kaum atau dynasty. Menurut Buya Hamka, pemeliharaan Ranji silsilah pohon keturunan sudah menjadi tradisi turun temurun sejak dari keturunan dari putra nabi Muhammad saw, yakni Hasan ra dan Husain ra. Pohon keturunan ini disebut “Syarajatun Nasab”.

Didalam manuskrip Ranji Inderapura ini tercatat uraian tentang asal usul berdirinya sulthan-sulthan, yang dimulai dari sebuah kerjaan Sultan Taj’ul Alamsyah. Didalam manuskrip Ranji dituliskan keterangan yang trankripsi bebasnya sbb;

Bismillahirrahmanirrahim ..

“Ketentuan asal sul berdirnya sulthan-sulthan dalam pemerintah inderapura khalifatullah diateh bumi Nabi Adam As. Khalifatullah Nabih As. Nan mulo-mulo mambuek pelang disusun diateh bukit Thursina dan mulo-mulo menjadi urang pelayaran yaitu: Sulthan Iskandar Dzulkarnaini Daulahtullah Fil Alam Nusyirwan Adil, Rajo masyrik dan Magrib. Sultan Maharajo Alif pemerintah di benua Ruhum. Sultan Sri Maharajo Depang Pemerintah dibenua Tibet. Sultan Sri Maharajo Dirajo pemerintah di Pulau Lingga Puri dilereng Gunung Merapi. Lagundi Nan baselo, sawah satampang banieh, Pariangan Padang Panjang. Khalifatul Alam Sultan Muhammadsyah Pemerintah di Indrapura, Syahdan Sultan, Rajo yang berdiri dengan sendirinya, Rajo nan tidak dapek dikilek, tidak dapek dikiek, tidak dapek disilek, tidak dapek dibuek memiliki ahli waris turun-temurun “. [1]

Pada bagian lain dalam Naskah Ranji dijelaskan bahwa pada masa periode Pariangan Padang Panjang, yakni:

 

“Sebelum jurai menjadi luhak dan belum bernama luhak nan tigo dan belum terbentuknya dua keselarasan Koto Piliang dan Bodi Caniago, maka yang berkuasa pada waktu itu disebut; Daulat Mahkota Sulthan Sri Maharajo Dirajo yang berbasis di Lagundi Nan baselo, dipuncak gunung Merapi. Disitulah berdirinya Kerajaan Sultan Tajul Alamsyah “

 

Maksudnya sebelum adanya Pagarrujung, dan alam ini belum bernama Minangkabau [2].

Pada kepala Ranji dicatat nama gelar lengkapnya sebagai Sulthan Jamalul Alam Sulthan Daulat Sri Maharajo Dirajo Usli Pemerintah di Pulau Linggapuri Dekat kaki Gunung Merapi, Salah satu catatan dalam Ranji Menguraikan Sebagai berikut;

Bismillahhirrahmannirrahim. Alkisahsabalun jurai menjadi luhak dan balun banamo luhak nan tigodan alun ado dua kelarasan karano alun lahie lagi ka dunia datuk katamanggungan dan Datuak parpatih nan sabatang. Adopun yang bakuaso samaso itu disabut daulah Mahkota Sultahan Sri Maharajo Dirajo pemerintah dipulau Linggapuri, kamudian banamo Pulau Emas, Pulau Perca, Lagundi nan baselo yaitu puncak gunung merapi. Disitulah banamo pemerintah sultan Tajul Alamsyah. Pado maso itu belum ado nama kerajaan Pagarruyung dan ala mini belum banamo Minangkabau. Yang Aulia Daulat Sulthan Sri Maharajo Dirajo berlayar mengarungi lautan dengan sebuah rakit seguntang-guntangdan sampai kesebuah pulau berisi bianatang buas yaitu singa. Oleh karena sakti dan keramatnya Sulthan sekalian binatang itu sujud dan mencium tangan Sultan, sehingga Singa dijadikan kendaraan mengelilingi pulau itu. Maka pulau itu beliau beri nama Singapura. Selanjutnya beliau jadikan negeri dan setrusnya beliau jugamembuat negeri johor, malaka, patani dan lain-lain dan disinilah beliau Sultan Sri Maharajo Dirajo meninggal dunia yang fana, Kemudian kekampung akhirat yang kekal, dan beliau inilah yang menurunkan pemerintahan Sultan Bali dan disini pulalah pangkalnya hubungan keluarga Minangkabau dan kerajaan Inderapura dengan pemerintah Negeri sembila Malaya “. [3]

               

Kemudian pada zaman berikutnya terjadi beberapa kali perpindahan posisi raja-raja yang berkuasa sampai kepada zaman kerajaan yang berbasis di Pagarruyung [4]. Bahkan didirikan pula pemerintah-pemerintah regional yang baru, terutama masih pada zaman Paduka Besar Datuk Ketamanggungan dengan gelar Sultan sebagai Al-malik al-Akbar dan Datuk Perpatih Nan Sebatang dengan Gelar Sultan Indra Alam. Jumlahnya menjadi sepuluh sampai dua belas pemerintah-pemerintah daerah yang memilki otonomi sendiri.

Banyak tambo-tambo Minangkabau mencatat keberadaan pemerintah daerah sebagai wilayah pertahanan, seperti juga yang tertulis dalam naskah Ranji Silsilah keturunan keluarga kerajaan kesultanan Inderapura.

Menurut catatan dalam manuskrip, Raja inilah yang naik ke pinggang gunung merapi, mendirikan pemerintahan Islam di Pariangan Padang Panjang. Karena Ia berasal dari Teluk Air dayo Puro nama pemerintah sebelum berubah menjadi Inderapura, maka wilayah Inderapura tetap menjadi wilayah otonomi khusus sebagai negeri asal tempat posisi Khalifatul Alam Sultan Muhyidinsyah Daulat Jamalul Alam Sri Maharaja Dirajo Muhammadsyah, secara turun-temurun, zaman berganti zaman.

Sebagai pemegang yang dipertuan Daulat pemerintah Usli Kesultanan Inderapura tetap anak cucu ahli waris beliau dalam pengertian yang berhak, yang syah menyandang “Kekhalifahan” Sultan Muhammadsyah.

Meskipun Pusat Minangkabau Pariangan telah beralih ke Pagarrujung, tetapi karena pendirinya juga termasuk keturunan Sultan Muhammadsyah yang pertama, dengan sendirinya istilah; “anak cucu yang dipertuan dinegeri Pagarrujung jua adanya”, adalah merupakan kelaziman pada zamannya dalam mengangkat raja-raja di kawasan dan raja- raja ditepi laut, karena posisi resmi pemerintah tajul Alam yang berbasis di Pariangan kemudian menjadi wilayah alam Minangkabau yang rajanya berkedudukan di pemerintah nagari Pagarruyung pada zamannya.

Bahwa posisi Sulthan Muhammadsyah sebagai khalifah sampai kepada pewaris-pewarisnya kekhalifahan berikutnya juga menyandang gelar-gelar khusus Islam seperti Sultan Muhammadsyah, Sultan Firmansyah, Sultan Inayatsyah, Dll tidak hanya diakui di Minangkabau-Pagarrujung, tetapi juga sampai ke Siak, Jakarta, Bugis dan Makasar . Ketika terjadi perselisihan dan peperangan antara orang Riau dan Siak, serta berbagai keributan di negeri Kampar, maka Khalifatul Alam Sultan Muhammadsyah yang turun kedaerah tersebut untuk mendamaikannya. Peristiwa ini dicatat oleh Alm Raja Ali Al-Haji Raiu [5] dalam bukunya sebagai berikut:

Pada hijrah Sunnah 1138, waktu itulah turun Sultan Khalifah Allah Muhammad shah ka nageri Kampar, lalu menjuruh sumpah setia antara Raja Pagar r u yong dengan raja Johor, dan anak Minangkabau yang dipesisir laut. Adapun bunyisetianya itu: “barang siapa anak Minang kabau yang dalam tawanan Raja Johor harus sesuai perentahan Johor, barang siapa tidak sesuai dimakan sumpah besi kawi, tidak selamat sampai anak cucu dan tiap-tiap satu perkerjaan yang dicitanya dikutoki Allah ta’alla. Demikianlah sumpah setia itu. Adapun surat sumpah setia terbuat tiga puchok: yang satu diberikan kepada baginda Sultan Sulaiman Badrul Alam shah dan yang kedua kepada Yang dipertuan Muda Sultan Alaudin Ri’ayat Shah dan yang ketiga ke Matwa yaitu Raja Tua Daeng Manampok. “

 

Dari catatan ini dapat diketahui keberadaan Sultan Muhammadsyah sebagai Khalifah Allah yang sangat dihormati dan dimintakan petunjuk dan hukum2 oleh raja2 lain. ditahun Hijrah Sunnah 1138 (sekitar tahun 1717M).

[1] Emral Djamal. 1989. Ibid. Transkripsi Ranji

[2] Pada masa itu belum ada nama Minangkabau, tetapi disebut ranah tigo jurai. Dalam tradisi kaba waktu itu disebut: “Masa sebelum bertoboh pakandangan, belkum bersintuk lubuk along, belum bertiku pariaman, belum berpadang Kota sepuluh, belum berdaulat Pagarrujung, belum berdaulat alam minangkabau. Hanya yang berdaulat masa itu bernama Mahkota Sultan Tajul Alamsyah di Pariangan Padang Panjang dilereng gunung merapi, Lagundi nan baselo, sawah Gadang satampang banieh, dibukit saguntang-guntang. Tempat ini diihuni oleh Dang Malini dan dang Ambun, Kemudian diketahui oleh Sultan Daulatullah bahwa ketiga anak raja tersebut adalah anak adiknya sendiri. Daulatullah Sri Sultan Maharaja Diraja inilah yang berangkat ke gunung merapi Pariangan Padang Panjang dan jadi raja disana bersama rombongannya seta candikio kemudian bergelar Datuk Suri Dirajo (jauh sebelum Dt. Suri Dirajo zaman Perpatih) bekar raja negeri Hindu sebagai sahabat karib dan penasehat.

[3] Emral Djamal, 1989. Transkripsi Ranji.

[4] Pagarrujung yang dikenal sekarang pada awalnya adalah tempat kedudukan Adityawarman, seorang pewaris tahta kerajaan dharmasraya di siguntur, pulau Punjung yang kawin dengan Puti Reno Jalito, menjadi Urang samando yang dirajokan oleh mamak rumahnya Datuk Perpatih nan Sabatang dan Datuk Katamanggungan di Pariangan. Adityawarman mencoba membawa konsep kerajaan Hindu Budhanya ke Pariangan yang nyata-nyata ditolak oleh kedua kakek tsb, dan secara halus menempatkannya di sebuah wilayah di Surawasa, yang kemudian pindah mendirikan Balai janggo diujung kapalo Koto, Melayu Kampung dalam, kemudian baru bernama Pagarrujung. Sebelumnya nama Pagarruyung juga ada di Inderapura dan di nagari Kumanis, Tanah datar dengan Riwayat tersendiri.

[5] Raja Ali Haji, 1965:69. Tuhfat Al Nafis

*Makalah ini disiapkan untuk Simposium Internasional Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa), 26-28 Juli 2004, bertempat di wisma syahidah, Universitas Islam Negeri Ciputat, Jakarta

Oleh :

EMRAL Djamal DT RAJO MUDO

Praktisi dan Pengamat Budaya Tradisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: