Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Menelusuri Jejak Keemasan Islam di Pesisir Selatan Minangkabau


oleh: Yang Dha’if Apria Putra

Berdasarkan perjalanan ke Pesisir Selatan (Barungbarung Balantai, Bayang, Batang Kapeh dan Koto Kandih), 23-24 Februari 2012. Disertai keterangan tokoh-tokoh di daerah tersebut, arsip-arsip lama dan manuskrip keagamaan Saya merasa sangat beruntung dapat menziarahi sentra-sentra kejayaan Islam di zaman silam di Minangkabau, yang bukan hanya berguna ketika merangkai kepingan sejarah, merangkai jalannya agama di pulau perca ini, tapi juga untuk menemui ulama-ulama yang masih mendiami negeri, yang mewarisi kearifan para intelektual Islam di masa lewat. Paling tidak aktifitas seperti ini telah saya lakukan beberapa tahun belakangan, cukup banyak yang membuat hati besar, sekaligus membuat pilu, yaitu ketika membanding-bandingkan masa silam dengan dengan keadaan kini. Tidakkah ada fikiran orang-orang dimasa modern ini hendak bercermin pada kejayaan agama dimasa lampau? Kenyataannya, orang-orang sekarang berbangga dengan cara agama masa kini, yang modern dengan gaya perbaharuan, dilihat cocok dengan kehendak masa, tidaklah mereka mampu membedakan mana yang batu dan mana yang intan. Disangkanyalah dengan membelakangi kaji ulama-ulama silam adalah kebenaran. Na’uzuillahi min dzalik.

Perjalanan kali ini begitu berkesan. Apalagi ketika kita mampu menelisik sejarah dan khazanah Islam yang lama terpendam, yang amat jarang disinggung-singgung oleh para akademisi dan penulis sejarah. Adapun tujuan kali ini ialah Pesisir Selatan, sebuah daerah Rantau yang menyimpan perbendaharaan agama, sebagai negeri-negeri lain di Minangkabau, juga merupakan gudang ulama jauh sebelum abad modern ini. perjalanan kali ini dilakoni oleh dua peneliti senior, Drs. Yulizal Yunus M.Si., Dt. Rajo Bagindo dan Drs. Firdaus, M. Ag., Dt. Mamad, dari Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang, berikut saya dan seorang rekan dari Tim Filologia. Ada 4 sentra yang dikunjungi dalam ekspedisi kali ini, yaitu Baruangbaruang Belantai, Bayang, Batang Kapeh dan Kambang. Disini banyak hal yang ditemui, banyak kekayaan yang terungkap. Berikut kita tuliskan sekedar mencatat apa yang bisa diurai lewat tulisan.

Barungbarung belantai

Sejak abad silam, di Barungbarung Belantai, sebuah nagari di ujung kabupaten Pesisir Selatan, berdiri sebuah surau yang kemudian memainkan peran penting dalam persebaran keilmuan Islam menurut dasar Tasawuf Tarikat Naqsyabandiyah, hingga jauh kebeberapa negeri-negeri yang jauh-jauh, seumpama Mukomuko (Bengkulu). Ulama yang terkemuka di sini ialah Syekh Munaf Bakrin atau yang lebih dimasyhurkan dengan Tuanku Lubuak, berdiam di surau yang namanya sesuai dengan gelar beliau, Surau Lubuak.

Syekh Munaf Bakrin, dimasa mudanya telah menjadi seorang Siak (santri) yang melanglang buana dari surau ke surau untuk menuntut ilmu, hingga pedalaman Minangkabau. Salah seorang gurunya, ulama terkemuka di Luak Limopuluah, Syekh Ibrahim Harun Tiakar, sedangkan gurunya dalam bidang Tasawuf, tepatnya dalam Tarikat Naqsyabandiyah ialah Syekh Muhammad Thayyib Pauah Padang. Pengaruh surau Lubuak, seperti halnya sang Syekh, amat besar, terutama membentengi faham ulama-ulama silam, yaitunya Mazhab Ahlussunnah dalam I’tikad, mazhab Syafi’i dalam Furu’ Syari’at, dan Tarikat Naqsyabandiyah dalam pengamalan Tasawuf. Sampai saat ini, dimasa kepemimpinan anak beliau, Abuya Haji Ibnu Abbas yang bermukim di Banda Buek, Padang, aktifitas di Surau ini masih eksis, salah satunya dapat kita lihat ketika Maulid, Barzanji masih dilantunkan dengan syahdu, dan ketika sampai “Marhaban”, yang hadir serempak berdiri memuliakan Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Surau ini kemudian, disamping namanya Surau Lubuak, juga diberi papan nama dengan “Ma’had Tarbiyah wa Khalwat Thariqat Naqsyabandiyah Nurul Yaqin Ahlussunnah wal Jama’ah”.

Foto: saya (kiri) dan kitab-kitab tua peninggalan Syekh Munaf Bakrin

Dari beberapa literatur lama yang kita temui disini, yang tak lain ialah peninggalan Angku Lubuak sendiri, kita dapati bahwa di Surau ini memang telah terjadi aktifitas pegajaran Islam yang mendalam, terbukti dengan ditemuinya sumber-sumber kajian Islam, apakah itu Fiqih, Tauhid dan Tasawuf, yang berat-besar, menyiratkan betapa tingginya tingkat intelektual pemangku Surau diwaktu silam.

Bayang

Bayang, negeri Serambi Mekkah menjadi tujuan kedua. Sebagai adagium yang melekat pada negeri ini, terbukti dengan ditemuinya bekas-bekas kejayaan Islam masa lampau, menyangkut aktifitas keilmuan di abad-abad mulanya sinar Islam memancar terang disini. Memang keadaan, berikut dinamika kehidupan telah membuat suasana berubah dari apa yang ada sebelumnya, namun “setiap yang jatuh mesti ada yang memungutnya”, ada diantara masyarakat-nya yang masih mewarisi hal tersebut.

Adalah Kapujan, satu kampung diantara kampung-kampung di Bayang yang pernah menjadi basis menyebaran Islam di masa awal. Asal nama Kapujan sendiri ialah Kapujian, terpuji karena banyak dihuni oleh orang-orang alim belaka, disamping itu banyak sentra-sentra pendidikan Islam di masa lampau. Adapun tokoh utama penyebaran Islam di daerah ini ialah Syekh Buyuang Mudo Puluikpuluik (dalam sejarah Bayang disebut nama beliau dengan Buyuang Laman), yaitu salah seorang teman seperjalanan dengan Syekh Burhanuddin ketika menuntut ilmu kepada Syekh Abdurra’uf singkel di Aceh, yang dikemudian menyempurnakan ilmu kepada Syekh Burhanuddin sendiri di Ulakan. Setelah sempurna perjalanan ilmunya beliau kembali ke kampung halamannya, Bayang, buat melancarkan dakwah, mengajar Islam kepada masyarakat banyak. Konon beliau mendirikan beberapa surau di Bayang sebagai basis dakwahnya, diantaranya surau di tempat kelahirannya Puluikpuluik, satu surau lainnya di Kapujan. Pendirian surau di Kapujan besar kemungkinan karena beliau bersemenda ke daerah ini, pun kemudian ketika beliau wafat beliau dimakamkan di Kapujan ini. Adalah satu yang menarik, yang membuat besar hati, kami dapat menemukan makam beliau, setelah sekian lama tidak terawat, telah ditumbuhi semak belukar. Membersihkan, berikut memberi pengertian kepada masyarakat banyak perihal makam itu merupakan satu kepuasan betin yang begitu dalam. Wal hamdulillah ‘ala dzalik.

Foto: Saya di Makam Syekh Buyuang Mudo Puluikpuluik Bayang sesaat setelah dibersihkan

Adapun penerus Tuanku Puluikpuluik ini, yang memegang estafet setelah beliau ialah muridnya Syekh Muhammad Yatim. Syekh Yatim ini selain murid dari Buyuang Puluikpuluik, juga pernah menimba ilmu kepada Syekh Burhanuddin Ulakan dan belajar berapa lama di tanah suci Mekkah. Setelah menyelesaikan pengembaraannya menuntut ilmu, Syekh Yatim pulang ke kampung halamannya, Kapujan, untuk mengabdikan diri, mengembangkan ilmu yang didapat. Beliau kemudian mendirikan sebuah Mesjid (surau dimasa itu) yang cukup besar, bertingkat 2, memakai kayu-kayuan yang penuh ukiran, dimana pengerjaannya diperbantukan kepada tukang-tukang dari Surian dan Alahan Panjang. Kemudian masyhurlah Syekh Yatim, sehingga berdatanganlah penuntut-penuntut agama, mulai dari negeri yang dekat, hingga yang jauh-jauh, seperti dari Surian, Alahan Panjang, Kerinci, Balai Selasa, Sasak dan lain-lainnya. Salah seorang murid Syekh Yatim, yang juga orang bayang, ialah ulama masyhur Syekh Muhammad Dalil bin Syekh Muhammad Fatawi Bayang (1864-1923), atau yang dikenal dengan Syekh Bayang, yang mengajar di Mejid Raya Ganting (Padang), dan berpusara pula disana di mesjid tertua di kota Padang itu. Adapun ulama lain dari Bayang ini, misalnya yang cukup masyhur ialah Angku Tantuo, seorang ulama kenamaan yang masyhur keramat, selain itu beliau juga salah seorang pejuang ketika menghadapi penjajahan Belanda, beliau pula yang mengajarkan masyarakat Bayang untuk mengahadapi penjajah tersebut. Ulama Bayang lainnya, yang disamping mengajar agama juga membantu perjuangan rakyat melawan Belanda ialah Syekh Muhammad Yatim, seorang alim yang menyelesaikan pelajarannya kepada Ayah Thaha (Syekh Muhammad Thaha) di Limbukan, Payakumbuh.
Para ulama diatas ialah mereka yang tetap teguh berpegang dengan Tasawuf ber-tarikat, lazimnya ulama-ulama besar dimasa itu. Perubahan terjadi dibawa oleh generasi setelah itu, yang mendapat angin pembaharuan. Diantara mereka ialah Haji Abdul Jalil (Angku Lumpo), Haji Colok, Pakik Jamik, Haji Koto Baru dan Haji Ma’ali, mereka umumnya telah bertahun-tahun belajar agama di Limbukan, kepada Ayah Thaha. Dari keterangan buku “Bayang Serambi Mekah” ini, heran pulalah kita, sebab diketahui bahwa Syekh Muhammad Thaha Limbukan (w. 1916) ialah seorang ulama berpegang kepada Tharikat Naqsyabandiyah yang diambilnya dari Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandih (w. 1912). Ada kemungkinan beberapa tokoh terakhir ini belajar kepada anak-anak Syekh Thaha yang mulai agak modern di Limbukan (salah satunya lembaga pendidikannya ialah Ma’had Dini di Limbukan), yang salah seorang anaknya Nasharuddin Thaha, murid Syekh Abbas Abdullah Padang Japang yang pernah mengenyam Darul Ulum (Mesir), pendiri Islamic Collage Payakumbuh itu.

Di zaman tokoh-tokoh terakhir ini mulailah berlainan cara agama, dari peribadatan misalnya melaksanakan shalat Tarawih 8 rakaat yang disangka lebih sesuai dengan sunnah, dimana sebelumnya dilakukan 20 rakaat seperti yang ditegaskan oleh ulama-ulama Syafi’i se alam Minangkabau. Dalam tradisi, ditolak melakukan meniga hari, hingga menseratus hati kematian, sebagai tradisi di daerah-daerah lain. Berikut ditolak pula Tarikat-tarikat Tasawuf sebagai yang dikembangkan oleh pembawa Islam dan ulama-ulama sebelum generasi mereka. Maka seketika itu terjadi pulalah pergolakan kaum muda dan kaum tua, timbul bantah membantah antara ulama muda dengan ulama-ulama yang tetap memakai faham lama.

Tokoh-tokoh terakhir ini yang memainkan peran dakwah sesuai dengan faham baru, berikut perjuangan melawan penjajah Belanda. Tokoh paling bungsu yang gaung perjuangannya menasional ialah H. Iljas ja’qub (Ilyas Yakub), pejuang besar yang sejati. Beliau ini pun pernah pula belajar agama Haji Abdul Jalil (angku Lumpo) yang tersebut. Sekian satu kepingan sejarah keemasan Islam di Bayang.

Ada pula yang membuat haru, keterangan dari Buya Haji Bulkaini yang pernah belajar kepada Syekh Abbas Abdullah Padang Japang, pada masa bergolak di era 50-an, hampir semua kitab-kitab khazanah Islam lama di Kapujan terbakar dengan terbakarnya 75% rumah-rumah penduduk di daerah ini oleh tentara-tentara yang tidak bertanggung jawab. Maka habislah karya-karya tertulis bukti keemasan Islam masa lampu di daerah ini, sedangkan sisanya, entah dimana lagi wujudnya. Yang dapat menjadi bukti, selain makam yang hampir tak terawat itu, hanya beberapa surau, seperti Surau Gadang, yang tak lagi menyiratkan kejayaan masa lalu karena telah berulang kali direnovasi total dari bentuk aslinya.

Batang Kapeh

Batang Kapeh menjadi pusat agama yang terkemuka pula di abad-abad silam. Beberapa ulama terbilang diam di daerah ini, beberapa surau mencapai pucak kejayaan dengan didatangi pelajar-pelajar dari berbagai daerah di Minangkabau. Kita kenal Surau Lubuk Nyiur dengan ulamanya yang cukup masyhur, Surau Patai, dan lainnya, namun yang kita hadapi saat ini salah satu surau yang memiki reputasi penting disepanjang sejarah Islam di daerah ini, Surau Tanjuang.

Foto: di makam Ulama yang bergelar “Syekh di Gobah”, tepat di Mihrab Surau Tanjuang.

Surau Tanjuang merupakan satu sentra transmisi keilmuan Islam yang telah lama menancapkan eksistensinya di Batang Kapeh. Beberapa penelusuran yang dilakukan buat mengetahui bagaimana awal dan siapa tokoh utama di surau ini, belum jua menemukan hasil yang memuaskan. Jawaban yang diberikan oleh para pewaris surau ini menunjukkan bahwa seorang ulama yang bermakam di Mihrab surau ini merupakan tokoh sentral ketika lembaga ini mencapai puncak kejayaannya. Mengenai siapa beliau berikut namanya, tiada pula bisa diungkap, masyarakat banyak hanya menyebut gelar, dimana gelar ini lebih diingat jelas ketimbang nama dan riwayat perjalanan intelektualnya. Gelar beliau itu ialah “Tuanku Syekh di Gobah”, maksudnya Syekh yang bermakam di Kubah (Gobah merupakan istilah yang biasa dilekatkan pada makam ulama-ulama Sufi Minangkabau). Pelacakan melalui sumber-sumber tertulis, yaitu beberapa manuskrip yang tersisa yang sekarang disimpan oleh salah seorang keturunan Syekh, menemukan beberapa nama ulama yang dapat dikaitkan secara kuat dengan aktifitas keilmuan di Surau Tanjuang ini. 2 nama yang dapat diidentifikasi ialah (1) seorang ulama yang bernama Syekh Abdurrahman bin Abdullah as-Syazili, beliau ini, dalam catatan ijazah disebutkan telah mengambil bai’at Tarikat Syaziliyah dari ulama terkemuka Syekh Isma’il bin Abdullah Simabur [al-Minangkabawi] as-Syazili [al-Khalidi Naqsyabandi]. Namun informasi mengenai tarikh beliau belajar kepada Syekh Ismail ini tidak disebutkan. (2) seorang “Siak” yang bernama Haji Muhammad Aqib bin Haji Abdullathif Batang Kapas, yang telah menyalin sebuah literatur langka mengenai Tarikat Naqsyabandiyah yang berjudul “Tuhfatul Ahbab fis Suluk ila Thariqil Ashab Syarah Risalah Suluk wal Adab al-Musamma bi Silsilatiz Dzahab” (Karya Syekh Darwisy Ahmad at-Thabazuni), yang disalin pada 20 jumadil awal 1286 H atau bertepatan dengan tahun 1865 M. Disebutkan dalam kolofon naskah ini, bahwa penyalinan dilakukan ketika menuntut ilmu di Batu Hampar. Tak sulit bagi kita untuk memastikan bahwa beliau menuntut di Batu Hampar Payakumbuh, yang di abad XIX tersebut merupakan satu perguruan agama terkemuka atas garis Tarikat Naqsyabandiyah, tepatnya kehadapan Syekh Abdurrahman al-Khalidi Naqsyabandiyah (w.1899).

Mengenai aktifitas dua tokoh ini berikut dedikasinya di Batang Kapas, masih ditutupi kabut sejarah. Yang pasti, Surau Tanjuang, diabad-abad sebelumnya merupakan satu sentra Tarikat, berikut pengamal Suluk, sebelum datang angin pembaharuan. Hal ini tentu koheren dengan sosok 2 tokoh yang kita sebutkan diatas.

Foto: saya (kanan) bersama Drs. Firdaus, M. Ag. menyelisik sisa-sisa kitab kuning di Rumah Gadang suku Malim Mansiang, Batang Kapeh.

Kambang 

Kambang adalah negeri raja beraja. Begitulah percakapan kami, Bapak Yulizal dan Bapak Firdaus, ditengah jalan menuju Kambang. Menurut Bapak Firdaus, yang juga salah seorang pemangku adat di Muara Labuah, sebelum Kambang ramai dihuni manusia, salah seorang yang berposisi sebagai raja di Sungai Pagu (mungkin tepatnya di kerajaan Balun) meninggalkan kampungnya dan pergi bermukim di Kambang, tanpa kita ketahui sebab yang pasti. Di Kambang kemudian beliau mengembangkan adat sebagai di Sungai Pagu.

Secara geografis kita lihat posisi Kambang sangat dekat dengan Sungai Pagu (Muaro Labuah), Solok Selatan, hanya dibatang oleh gunung-gunung yang berjejer berbaris-baris saja. Bahkan, daerah-daerah lain di Pesisir Selatan, selain Kambang, juga mengaitkan nenek moyang mereka dengan orang-orang Sungai Pagu.

Tujuan pertama di Kambang ialah Mesjid al-Imam Koto Baru. Mesjid ini menjadi lambang kesatuan agama dan adat di negeri ini. sebagai namanya “al-Imam”, pemimpin, maka posisinya memang sentral sebab dalam mamang adat di negeri Kambang disebutkan “Masajik limo, koto sambilan, imamnya di Koto Baru”. Arsitekturnya terbilang unik, tergolong kuno, mungkin karena ini Dinas Kepurbakalaan lekas-lekas membandrol mesjid ini dengan “Cagar Budaya”. Tonggak berikut tiang mesjid ini membuat makna adat tersendiri. Diantara curai paparannya, tiang yang empat belas simbol 14 Datuak di Kambang, berikut tiang-tiang luar yang berjumlah 50 bermakna niniak mamak nan limopuluah. Namun bila ditinjau dari sejarahnya maka kita dapati mesjid ini tergolong masih muda, didirikan tahun 1926, oleh Datuak Radjo Kampai. Dan kita mempunyai riwayat mesjid dan surau yang lebih tua dari Mesjid ini.

Disini bermakam Mufti Kambang, bukti bahwa negeri ini raja beraja. Satu lemari yang berisi kitab-kitab kuning lama yang disebut “Kutubkhannah” (perpustakaan), yang menyimpan kitab-kitab yang isinya terbilang berat, seperti al-Umm, al-Majmu’ Syarah Muhazzab, Irsyadus Sari Syarah Shahih Bukhari, Syarah Ihya (Ittihaf Sadatil Muttaqin), Tuhfatul Muhtaj, dan lain-lainnya, mengisyaratkan penguasaan agama yang mendalam ulama-ulama yang pernah memapankan karirnya disini. Tepatnya kuat menganut Mazhab Syafi’i. Namun saat ini, mungkin sejak beberapa dasawarsa belakangan, kabut yang menghinggapi kitab-kitab ini semakin tebal, sebab tak ada yang membaca, pun yang pandai membaca berikut yang bisa mempahamkan secara jitu tak pula ada. Memang masih ada yang tua-tua, namun mereka hanya mau membuka ketika masalah pelik melanda. Apakah orang-orang tiada berkiblat lagi kepada kitab??? Tiada kita ungkap disini.

Tempat kedua yang kami sambangi ialah Koto Kandih, sebuah daerah ulama-ulama belaka dimasa silam, pusat agama yang sudah tua, kuat dengan faham ulama-ulama yang dahulu-dahulu. Kita mengenal nama ulama yang lama menuntut di Kelang, yang digelari Inyiak Kolang, yang berdasarkan penuturan kita perkirakan memapankan karir keulamaannya di abad XIX. Beliau mendirikan Mesjid Koto Kandih ini. meski telah memiliki bentuk renovasi, namun bentuk atap dikabarkan masih sesuai dengan gaya aslinya, bergonjong empat buah. Dalam silsilah ulama-ulama Kambang, tepatnya Koto Kandih, Syekh Kolang ini menepati urutan pertama. Generasi setelahnya, Syekh Muhammad Ali (Mufti Kambang tersebut). Generasi ke III yang mewarisi dari sang Mufti ialah Pakiah Nantan, setelah Pakiah Nantan, ialah muridnya yang menyambung estafet, Abuya Sidrah, yang lebih masyhur dengan Buya Abu Sidar, telah berusia tua pula.

Foto: Saya bersama Buya Abu Sidrah (kiri)

Maka yang kuat pertahanannya terhadap Ahlussunnah wal Jama’ah, dengan memakai furu’ ibadah berdasarkan Mazhab Imam Syafi’i, sebagaimanahalnya agama di alam Minangkabau semasa dulu. Disini didirikan sebuah Madrasah, dikenal dengan nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Kemudian dicari ulama-ulama buat mengajar disini, salah seorangnya yang begitu ‘alim ialah Syekh Juneid al-Mashri Situjuah Banda Dalam, Payakumbuh (murid dari Syekh Ruslan Limbukan). Salah satu hal yang tragis, dimasa susah, ketika fitnah agama yang dibeberkan kaum muda, terjadilah selang sengketa yang cukup hangat. Namun rupa-rupanya, pihak ketiga menunggang pula. Sehingga keadaan semakin alot, hingga disebut sebuah daftar “orang-orang yang akan dipancung bila bersikap keras”, disebutkan bila ada orang-orang yang melaksanakan shalat Tarwih 20 rakaat (sebagai dikenal dalam Mazhab kita Syafi’i, dipegang kuat-kuat oleh ulama Tua), maka masuk daftar, tunggu hari dimana bercerai kepala dari badan, rumahnya akan dipasang tanda tengkorak. Maka banyak orang-orang berfaham lama beralih ke faham baru itu. Hingga orang-orang yang dulu memakai shalat 20, mulai beransur shalat 8 rakaat. Dan beransur-ansur pula merobah amal yang lain. Abuya Abu Sidar sendiri masuk daftar, karena beliau kuat dengan faham lama, seperti warisan ulama-ulama silam. Namun beliau tetap memperjuangkan diri, tiada mau goyah. Hingga beliau lepas dari cobaan tersebut. Walhamdulillah. Ini kejadian di era 60-an, sebagai penuturan Abuya tersebut.

Begitulah perjalanan berkesan, menelusuri intan berlian, khazanah berikut jalannya agama di Pesisir Selatan. Apa yang dapat disurat kita tulisnya, yang tersisa dalam dada kita simpan untuk penguat batin memperjuangkan agama di pulau perca ini.
Harapan kita, supaya agama di Pesisir ini tetap berjalan dengan kuatnya. Jangan sampai pupus, tiada lagi regenerasi ulama-ulama yang telah mendahului ke hadirat Allah. Jangan biarkan tergerus arus, sebagai tergerusnya Pasir Putih Kambang oleh lautan yang mengganas…. Wallahu muwafiq ila aqwamit Thariq

Sumber:
http://surautuo.blogspot.com/2012/03/menelusuri-jejak-keemasan-islam-di.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: