Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Penghulu Mantri Nan Dua Puluh


Lembaga Penghulu Mentri terdiri dari dua puluh orang penghulu-penghulu yang mewakili sanak kemenakannya, karena ia dipilih dan diangkat oleh kaum dalam pesukuannya. Sebagai Penghulu Mantri mereka dipilih oleh sebuah Majelis Kerapatan Tinggi yang bersidang untuk itu,  kemudian diangkat dan ditetapkan oleh Sultan.

Majelis Kerapatan Tinggi tersebut anggotanya terdiri dari utusan-utusan Datuk-Datuk Pamuncak, Utusan Lareh-lareh, maksudnya utusan Lareh Bodi Caniago dan Lareh Koto Piliang, Candokio atau Cati Bilang Pandai, Imam, Khatib, atau Tuanku-Tuanku Sieh (Syeikh), dan lain-lain. Jumlahnya tetap sebanyak 20 orang Penghulu Mentri.

Majelis ini sejak terbentuknya Penghulu Mantri Nan Dua Puluh, jarang dan boleh dikatakan tidak bersidang lagi secara rutin, kecuali ketika dalam kedaan darurat. Itupun sudah dilaksanakan oleh Penghulu Mantri Nan Dua Puluh dengan mengikut sertakan yang lain-lainnya seperti tersebut di atas.

Hal ini disebabkan, karena secara tradisi, apabila seorang Penghulu Mentri meninggal dunia, maka secara adat ia telah digantikan oleh anak kemenakannya yang terpilih dalam kaumnya, kemudian diajukan kepada Sultan sebagai pengganti mamaknya yang terdahulu. Sultan melantik dan mengukuhkannya sebagai Penghulu Mantri yang baru.

Demikian seterusnya secara turun temurun menurut adat. Dalam tugasnya Penghulu Mantri Nan Dua Puluh dibagi atas 3 pihak  yang terdiri dari : Pihak Enam Di Hulu, Pihak Delapan Di Tengah, dan Pihak Enam Di Hilir.

Masing-masing pihak bertanggung jawab dalam pengaturan, pengelolaan, pengawasan  dan pengmanan wilayahnya masing-masing dengan rincian tugas sebagai berikut :

Pihak Pertama,

Penghulu Mantri,  Nan Enam Di Hulu,

Menjaga dan  mengawasi hutan rendah dan hutan tinggi, tempatnya berdinding batu, berkampung kijang, berayam kawah, mempunyai buah masam dan buah manis serta tiap barang yang didapati dari dalam tanah adalah Hak Sultan (Hak Kerajaan Kesultanan).

 Di dalam masa perang, jika tarahan datang dari daratan, Penghulu Mantri Nan Enam Di Hulu yang bertanggung jawab menghadapinya  bersama seluruh rakyatnya.

 Walau berenang di laut darah, berjejak di gunung bangkai tidak dibenarkan  meninggalkan  medan perjuangannya.

Pihak Kedua,

Penghulu Mantri,  Nan  Delapan  Di Tengah.

 

Jambo Kiri, Jambo Kanan, menjaga keselamatan Sulthan dan menyampaikan perintah-perintah Sulthan kepada Penghulu Mantri Nan Dua Puluh, sampai kepada rakyatnya.

Dan jika negeri dalam mengahadapi bahaya atau peperangan maka yang menjadi hak dan kewajiban seluruh isi negeri adalah:  Duduk Meraut Ranjau, Tegak Meninjau Jarak.

Kalau perang bergiling peluru, kalau ucok lawan berdamai. Berenang di laut darah berjejak di gunung bangkai, kesudahan berdamai juga.

 

Pihak Ketiga,

Penghulu Mantri,  Nan Enam Di Hilir,

 

Menjaga dan mengawasi Pasisir Nan Panjang, pesisir pantai, menjalankan undang-undang Hak Dacing Pengeluaran, Ubur-Ubur Gantung Kemudi, Ke Laut Berbunga Karang, Karang Penuh Penangkap Ikan, barang yang ganjil berupa mestika, batu permata diserahkan kepada Sultan menjadi Hak Kesultanan.

Jika tarahan datang dari lautan, maka Mantri nan Enam Di Hilir menghadapi bersama rakyatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: