Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

SELEBAR DAERAH PERTEMUAN


BARU saja akan berkembang Agama Islam di Indonesia dari Semenanjung, Portugis telah masuk. Kaum muslimin baru dalam tahun 1942 terusir habis dari Spanyol, hingga sampai sekarang bekas rupa-wajah orang Arab masih ada pada bangsa Spanyol dan Portugis. Dalam tahun kejatuhan kerajaan Islam penghabisan, Banil Ahmar di Granada itu, Christopus Columbus mengembara mencari India, tetapi bertemu dengan Amerika. Keberhasilan yang dicapai Columbus mendapat Amerika itu, menimbulkan semangat petualangan pada bangsa Spanyol dan Portugis, sehingga untuk membendung perselisihan, Paus harus intervensi, dunia dibagi dua, separo buat Spanyol dan separo buat Portugis. Di awal abad Keenambelas Portugis dapat merebut Goa, dan di tahun 1511 dapatlah direbutnya Malaka, Kerajaan Islam yang pertama itu. Dan dilanjutkannya pula ke Maluku. Sebelum itu pantai-pantai Teluk Persia pun telah jatuh ke bawah kekuasaannya. Syukurlah, karena di Indonesia muncul dua buah kerajaan baru, yang menggantikan Malaka, dan kelak akan memegang peranan besar di dalam membendung kekuasaan Portugis. Berdiri kembali Pemerintah Aceh, dan rajanya yang pertama adalah Sultan Ali Mogayat Syah (1514), dan di Jawa berdiri Kerajaan Demak. Rajanya yang pertama adalah Raden Patah, (1520). Portugis pun mencoba memasukkan pengaruhnya ke Jawa. Dia membuat perjanjian yang teguh dengan Raja Hindu Pajajaran, ingin mempertahankan Jawa Barat dari kekuasaan Islam. Prasasti tempat melukiskan isi perjanjian persahabatan itu belum puluhan tahun berselang didapat orang di Prinsenstraat (jalan Prinsens di daerah Mangga Besar) Jakarta. Raja Hindu Pajajaran meminta bantuan Portugis mempertahankan daerahnya dari serbuan orang Islam. Tetapi sebelum maksud itu berhasil, pahlawan Falatehan (Fatahillah) telah dapat menduduki Sunda Kelapa dan kemudian ditukarnya nama menjadi Jayakarta. Falatehan mendirikan dua kerajaan kembar, yaitu Bantam dan Cirebon. Di Bantam dirajakannya putranya Hasanuddin (1552). Cucunya Penembahan Ratu, putera Pangeran swarga, dirajakannya di Cirebon. Dan beliaupun duduklah menjadi pemimpin agama yang terbesar dan dimuliakan, yang setelah mangkat terkenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati (1570). Setelah perpecahan dan kekacauan di Demak, mengatakan kemerdekaan dan berdiri sendiri. Selain dari menyiarkan Agama Islam dan membesarkan pengaruhnya di Jawa Barat, jasa beginda yang terbesar adalah menegakkan kekuasaan dan kebesaran, agar dapat membendung kekuatan Portugis, yang dikenal oleh sejarah, lebih banyak terpengaruh oleh kehendak menyiarkan Agama Kristen dan mendapat berkat pengestu dari Paus. Maka kelihatanlah sejarah yang gemilang dari dua buah Kerajaan Islam yang terbesar pada masa itu, satu di Bantam, dan satu lagi di Aceh. Keduanya pemerintah di tepi laut dan berdasar kekuatan perdagangan dan armada (maritim). Dengan usaha kedua pemerintah ini sempatlah Islam bernafas dan akan mengembangkan sayapnya di seluruh tanah air kita. Selat Malaka dan Selat Sunda penuh dengan pelayaran kapal-kapal dagang. Seluruh bangsa, baik Eropa atau bangsa-bangsa Timur, berdagang di Aceh dan di Bantam. Kedua pemerintah itu berkirim-kiriman utusan dan surat. Ulama-ulama dan ahli sastra Islam bertindak bebas mengembangkan ajaran Islam di bawah pimpinan pemerintah. Aceh telah melebarkan sayap kekuasaannya di Pesisir Barat Pulau Perca dan berkali-kali juga berusaha hendak mengusir Portugis dari Malaka. Dan suatu ketika Bantam pun melebarkan kekuasaannya ke Lampung. Karena negeri itu belum memeluk Islam, maka pada usaha Bantam, tersiarlah Islam di sana. Sedang di sebelah Barat, yaitu di Seleber (Bengkulu) telah masuk ke dalam wilayah Kerajaan Aceh. Di Indrapura, terletak di antara Minangkabau dengan Bengkulu duduklah seorang wakil Sultan Aceh, tetapi menjadi sultan berkuasa penuh dalam perlindungan Aceh. Sehingga bilamana datang waktunya, Sultan Indrapura itu bisa pulang ke Aceh buat naik tahta Kerajaan Aceh. Ketika Sultan Aceh mengetahui bahwa Hasanuddin telah melebarkan Agama Islam ke Lampung, dan telah hampir sampai ke dalam tanah wilayahnya, timbullah suatu soal yang musykil, apakah akan diperangi Raja Bantam itu. Anggota-anggota negara dan Alim Ulama memberi advis kepada sultan, bahwasanya berperang sesama Islam, dari dua kerajaan harapan, tidak selayaknya. Maksud buat membendung kekuasaan Bantam itu dapat juga dilaksanakan tanpa perang. Maka putuslah mufakat mengirimkan suatu perutusan ke Lampung, menyambut dan mengelu-elukan kedatangan Raja Bantam yang gagah perkasa itu, dan mempersilahkan beliau berorak-silahkan buat datang ziarah ke Indrapura. Ziarah ke Indrapura sama artinya dengan datang ke Aceh sendiri. Perutusan yang datang dengan sikap perdamaian itu tidaklah dapat dihindari oleh Hasanuddin. Ia pun datang ke Indrapura, disambut dengan serba kebesaran. Setelah menjadi tamu beberapa hari lamanya, Sultan Indrapura menawarkan kepada beliau sudi kiranya menyambut nasib putrinya (jadi menantunya). Karena menurut silsilah sejarah kenasyaan di antara Sultan Aceh dan Sultan Bantam, adalah pertemuan jodoh (kufu), sebab sama-sama mengalir dalam dirinya keturunan ahli-ahli Agama Islam dari Pasai. Permintaan itu tidak dapat ditolak oleh Hasanuddin, perkawinan politik senantiasa terjadi di antara raja-raja. Suatu perayaan perkawinan yang besar terjadilah di Indrapura. Dan seketika Hasanuddin hendak pulang ke Bantam, sambil senyum Sultan Indrapura, yang telah mendapat persetujuan dari Aceh, berkata kepada menantunya. “Jika ananda sudah berniat hendak pulang ke Bantam dan hendak membawa istri ananda, betapalah ayahanda ingin menghalanginya. Ajarlah istrimu agama yang benar, dan layaklah hendaknya dia duduk menjadi istri dari raja yang besar. Dengan susunan kata mertuanya yang demikian rupa, mengertilah Sultan Bantam apa maksud yang terkandung di dalamnya. Dan sebelum ia dapat menjawab, Sultan Indrapura melanjutkan pembicaraannya pula: “Sekarang ananda telah menjadi keluarga kami. Dengan sebab itu berpadulah kekuatan Islam di Sumatera dan di Jawa, sehingga kita dapat melanjutkan kewajiban suci kita, yaitu menegakkan Agama Rasul di seluruh alam negeri kita ini. “Dalam perjalanan pulang kembali, keraplah Hasanuddin tersenyum menertawakan dirinya sendiri, karena bingung memikirkan siapakah di antara mereka yang menang! Tidaklah kecewa pengharapan kedua sultan itu. Sebab sekarang masih dapat kita lihat bekasnya, bahwasanya penduduk Bantam, Minangkabau dan Aceh, adalah ummat Indonesia yang sangat teguh dan cinta kepada Islam … agamanya.

*Dari Perbendaharaan Lama Prof. Dr. HAMKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: