Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Tembo dusun Tanjung Tanah, Kerinci.


223. Tembo bertulisan Melayu pada kertas

Tembo dusun Tanjung Tanah, Kerinci.

Bahwa inilah usul kita tatkala masa dahulu kemudian dari pada Rasulullah, anak Ratu sunan jawa mataram sembilan beradik, seorang bergelar Sultan ratu. Raja Paid. Sorang bernama Sultan Maraja Said, seorang bergelar Sultan Maraja Inang, seorang bergelar Sultan Maraja Salih, seorang bergelar Sultan Maraja Batu, seorang bergelar Sultan Maraja Bata, seorang bergelar Sultan maraja Bansu, seorang bergelar Sultan Karda Basi, seorang bergelar Sikh Abd. rahman.

Tatkala masa dahulu berparang dengan Teku Pariaman berebut gedang. Kata Raja Tiku Pariaman hamba dahulu turun di Pagaruyung. Kata Ratu Maharaja Paid hamba dahulu turun di pagaruyung, maka jadi parang, akan kalah Jawamataram, maka keluarlah ninik sembilan beradik itu maka larilah musuh semuanya, tinggallah rampasan yang banya’, adapun riyal dapatnya sebuah gedung lima hasta bujur sangkar dan meriam satu pupus penuh sebuah, itulah lagi arta itu tinggal di Jawa mataram, kemudian dari itu maka pikirlah nibik yang sembilan beradik itu hendak menjalang Pagarujung, maka berhentilah di bukit Saguntang2 kerna hendak melihat musuh kalau lagi akan datang, kamadian dari pada itu maka berjalan pula maka berhenti pula di Kato Raja, kamadian dari pada itu maka jadi kerjaanlah Sultan Maraji Said di Jambi, maka berjalanlah orang yang tujuh beradik itu, maka tinggal Sultan Maraja Said di Jambi itu, maka dimudikkanlah air Batang Hari maka lepaslah ke Pagaruyung. Kamadian dari pada itu maka berbaliklah di Pagarujung maka lepaslah ke Pariyangan Padang Panjang lamahlah di situ, maka lepaslah ke Tebo Bungo, maka lepaslah pula ke hulu air diki maka dihilirlah pula air diki maka tibolah di muara air diki, bersuwo (bertemu)lah dengan air gedang maka dikembangkanlah tabir maka digelarkanlah batang air itu Batang Songai Tabir, maka pikir orang yang tujuh beradik itu, maka dimudikkanlah air Sungai Tabir itu maka tinggallah Sultan Maraja Batu itu, maka berjalan orang yang enam beradik itu maka sampailah ke Talun tinggi maka berdusunlah di situ maka tinggallah Sultan Maraja Besar di situ, maka berjalanlah orang yang lima beradik itu maka sampai ke hulu air itu tiada bulih lagi tempat mandi, karena air itu sudah kecil, maka pikirlah orang yang lima beradik itu maka disuruh tiong yang-g pandai berkata, maka terbanglah mencari jalan, maka kembali tiong itu maka berkata tiong hai Tuan? jikalau kita mudikkan juga air ini tibo pula kita di Pagaruyung, jikalau kita kirikan air ini, ada renah yang lebar, maka berjalan pulalah orang yang lima bersuwo (bertemu) pula dengan sungai gedang, maka berhenti pula di situ maka turun pula hujan gedang maka gedang air itu maka digelar sungai itu sungai gedang, maka kami berjalan pula dari situ bertemu pula dengan batu gedang maka berhenti pula di situ maka terus pula panas maka dikembangkan pula payung, maka digelarkan pula Batu Bapayung, maka berjalan pula kami dari situ bertemu pula kami dengan sungai bertumbuk tiga baik rupanya maka berdusunlah di situ karena banyak emas rupanya seperti kepinding lapar rupanya emas lekat dinapan rupanya maka digelarkan dusun ulu Kalinding lama pula dari situ maka berjalan Sultan Maraja Inang, maka bertemu hulu air Hiang, maka dihilirkan air itu, adapun anaknya Sultan Maja inang itu Petinggi emas Indar Jati yang membawa Tiong Pandai berkata Adapun Sultan Maraja Salih dua beradik dengan Temenggung Kertapati, berjalan maka bertemu pula air Kinci maka dihilir pula air itu. Kemudian dari itu maka berjalan pula Sultan Marajo Bangsu, Sultan Karda Besi, Siah Abd. Rahman. Adapun anaknya Sultan Marajo Bangsu Kertam Batu, Adapun anaknya Sultan Karadan (Karanda) Besi namanya Naai, anaknya poyang ruwanti. Adapun Sikh Abd. Rahman Tunggah raja nama anaknya, maka berjalanlah pula ketiko itu. Adapun Sultan Marajo Bangsu turunlah ke bukit kudeng, dari bukit Padang maka berdusunlah pula Kayuaro tungkat. Adapun Sultan Keranda Besi dengan Sikh Abd. Rahman maka turunlah ke batu gedang, dari situ maka bertemu dengan air Tanjung maka dihilirkanlah air itu maka berdusunlah pula dusun Tanjung, lamalah pula dari situ maka berjalan pula orang dua beradik itu maka berdusunlah pula sungai napan, lamalah pula dari situ maka berjalan pula Sultan Keranda Besi, maka Sich Abd. Rahman tinggallah di situ. Sultan Keranda Besi bersuwalah (bertemu)lah dengan tanah bertanjung maka melihatlah ilir mudik maka tampaklah danau dengan rendah, maka digelarlah dusun Tanjung Tanah.

Adapun isterinya dayang ruwanti, anak beliyaw seorang begelar Naai, seorang bergelar Raja Masail, seorang bergelar Raja Temenggung, Raja Masail dengan Raja Temenggung tinggallah ke dusun Talang Batu Besar. Adapun Naai mengadakan sejambi, Sajambi mengadakan Dayang emas. Dayang emas mengadakan Kembang genap, Kembang genap mengadakan sediwi. Sediwi mengadakan kembang dua, Kembang dua mengadakan Seman gl. Depati Mangku Bumi mengtar alam

Disalin dari asal mulanya dari tambo kami.

Disalin oleh Haji Saibi gl. Depati Mangku Bumi mengtar alam.

Tambahan Bab. G. (Mendapo Seleman)

Pusaka yang tidak bertulisan, disimpan oleh Depati Talam, dusun Tanjung Tanah:

beberapa helai kain lama.

1 tongkat…………………………………………………………………….Di teliti  oleh Depati ULI KOZOK ……..dkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: