Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Undangan Bupati Pesisir Selatan ke Brunei Darussalam


Sekapur Sirih Pertemuan Bupati Pesisir Selatan Haji Darizal Basir dengan Yang Mulia Duta Besar Negara Brunei Darussalam dalam Rangka mengundang Yang Mulia Seri Paduka Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzudin Waddaulah Sultan yang dipertuan Negara Brunei Darussalam Berkunjung Ke Pesisir Selatan dala event PORDA VIII Sumatera Barat, 21-28 Maret 2002.

Assalamualaikum wr wb

Yang Mulia Duta Besar Nagara Brunei Darussalam dan staf.

Izinkan kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada tuan atas kesediaan menerima kedatangan kami dengan hangat, kiranya pertemuan ini membawa berkah dan diredhai Allah swt, dalam upaya mempererat hubungan silahturahmi bangsa melayu serumpun pada dua negara jiran ini, yakni Indonesia dan Brunei.

Atas nama pribadidan Atas nama Bupati Pesisir Selatan, Sumatera Barat, sengaja datang menemui tuan dalam rangka mengundang Yang Mulia Seri Paduka Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzudin Waddaulah dan keluarga atau yang mewakili keluarga istana Negara Brunei.

Undangan ini kami sampaikan kiranya Yang Mulia Dipertuan Sultan dan keluargaberkenan berkunjung ke kabupaten Pesisir Selatan, Propinsi Sumatera Barat. Kerangka kunjungan bertepatan dengan momentum event Peking Olah Raga Daerah (PORDA) ke-8 Sumatera Barat yang penyelengaraannya dipercayakan kepada daerah kita di Painan, Ibu kota kabupaten Pesisir Selatan, 21-28 Maret 2002.

Alasan kami menngundang bahwa kami merasa bersaudara kandung dengan keluarga istana negara Brunei Darussalam. Diceritakan bahwa didaerah Kabupaten Pesisir Selatan ini terdapat bekas kerajaan besar Indrapura. Salah satu keturunan raja indrapura ini pernah merantau ke Brunei dan menjadi salah seorang moyang yang turut meneroka di Brunei.

Yang Mulia Duta Besar Negara Brunei Darussalam beserta staf

Izinkan pula kami menceritakan singkat tentang hubungan bersaudara kandung yang bertali darah (antara Brunei-Indrapura) ini pernah menjadi wacana publik dan dilansir media massa di Indonesia tahun 1990an. Pertalian darah dua negeri dan bangsa melayu serumpun ini seperti telah menjadi mitos dalam komunitas rakyat di Minangkabau khususnya di Indrapura dan Brunei. Fenomena ini pernah di konstantir Menteri Pendidikan Brunei yang Mulia Pehin Orange Kaya Laila Wijaya Dato Seri Setia Haji Awang Abdul Aziz bin Bengawan Pehin UdanaK hatib Dato Seri Paduka Awang HAji Umar.

Di mana titik sambung pertalian darah Brunei dan Indrapura itu?, Sudah dapat ditangkap dari wacana publik tahun 1990-han itu. Mulai dari nama Harun  salah seorang keturunan raja itu. Dalam silsilah Brunei ada nama Harun (  Bandaro Harun  dari Minangkabau). Dalam silsilah Indrapura terdapat pula nama Harun (  Sultan Harun Syah Sultan Bengawan  ). Beberapa tokoh Pagaruyung menyebut, dua nama Harun itu orangnya itu juga (Syarifuddin Arifin, 1990).

Bandaro Harun  ibunya belum dapat dikenal Brunei, tetapi ayahnya di Tumasik (Singapura) pernah kawin dengan gadis Belanda. Disebut Harun merantau ke Brunei tahun 1625, ia menetap di nagari yang sekarang aman makmur di bawah naungan Yang Mulia Seri Paduka Yang DiPertuan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzadin Waddaulah. Disebut pula nama  Dato Godan (m)  dalam silsilah Brunei. Dato Godan adalah anak dari Bandaro Harun.Diberitakan juga Dato Godan (Datuk Gudam?) Pernah menikah dengan seorang putri keluarga istana kesultanan bernama Putri Kahi dan melahirkan 4 orang putra. Keempatnya pernah disebut menjadi orang terkemuka seperti menjabat Menteri di Negara Brunei, kata Mentri Pendidikan Brunei  Abdul Aziz,  tahun 1990-han. Kalau dibuat diagram keturunannya versi Brunei ini sbb.: 

 

Moyang Mencari Bako

(Puti Lelo Ambun Ratna Gumala  di Indrapura?)

Bandaro Harun (  Minangkabau, Sultan Harun Syah  )

Dato Godan  +  Putri Kahi (keluarga kerajaan)

Putra-1 (?) Putra-2 (?) Putra-3 (?) Putra-4 (?)

Sultan Harun Syah Sultan Bengawan (Sultan Bandaro Harun Syah Sultan Bengawan) dalam silsilah Indrapura tidak disebut lagi keturunannya kebawah.Artinya terputus, karena ia merantau ke Brunei tahun 1625, lewat Singapura dan Sarawak. Dalam silsilah Indrapura itu disebut orang tua dan nenek dari Sultan Harun Syah. Ibunya Putri  Lelo Ambun Ratna Gumala  (  Lenggogeni Dewi Alamsyah)  raja perempuan Kerajaan Indrapura. Lenggogeni Dewi Alamsyah adalah anak ke-4 dari Siah Bintang Purnama juga raja Indrapura (Nurhasan Dt. Marajo, 1990). Ayah dari Sultan Harun Syah ini pernah menjadi Raja Aceh (nama belum diketahui).

Informasi moyang Sultan Harun Syah ini ada dalam silsilah keturunan kesultanan Indrapura seperti tadi disebut sepenjang 5,6 m dengan lebar 60 cm yang sekarang dipegang Sutan Boerhanoeddin Sutan Alamsyah Firmansyah (anak dari putri Gindan Dewi Alam, salah seorang pewaris keturunan terakhir Kesultanan Indrapura) dan pernah (1990) diberdayakan memegang Ranji itu kepada H. Kamaroeddin Dt. Machudum pimilik Hotel Machudum Padang. Kalau dibuat diagram singkat versi Indrapura ini sbb.:

Siah Bintang Purnama

 

(4)   (3)   (2)   (1)

Marah Ali? Puti Rekna                  Lelo Ambun Ratna Gumala

Akbar Sultan Bangun                     +  raja di Aceh

Muhd.syah

Harun Syah Sultan Bengawan

(Merantau dari Indrapura ke Brunei

? lewat Singapura dan Sarawak, 1625,

ingin dicari kelanjutan keturunannya di Barunei)

Indrapura Mencari Anak pisang …

Dato Godan?  )

Gindan Dewi Alam

Sutan Boerhanoeddin Sultan Alamsyah Firman Syah

Jadi Keturunan Harun Syah (Bandaro Harun) terputus di Indrapura dan di samping lagi di Brunei, sejak ia merantau di nagari malayu yang makmur itu.

Terlepas dari valid atau tidaknya apa yang telah menjadi wacana publik tadi tentang Harun yang menjadi titik sambung hubungan tali darah Indrapura dan Brunei itu, yang jelas masalahnya perlu penelitian mendalam. Kami yakin baik Brunei maupun Indrapura, pasti tidak akan mau begitu saja mendengar dendang  teller history  (tukang cerita sejarah). Setidaknya perasaan ini pernah (1990-han) dirasakan pakar sejarah Brunei yakni Pehin Orang Kaya Amar Diraja Dato Seri Utama (DR) Haji Muhammad Djamil Al-Sufri dari Ka.Kantor Pusat Sejarah Brunei. Focus yang harus ditemukan adalah  “silsilah” Indrapura – Brunei dan  diskripsi  tentang tokoh yang menjadi titik sambung tali darah yang bernama Harun itu. Karenanya kami memberi peluang bagi pakar sejarah baik di Sumatera Barat (Minangkabau / Indrapura) dan Brunei, untuk menelitinya lebih lanjut setidaknya sekapur sirih ini kiranya dapat menjadi input bagi penelitian selanjutnya.

Akhirnya, sekali lagi melalui Tuan Yang Mulia Duta Besar Negara Sahabat Brunei kami mengundang Yang Mulia Seri Paduka Yang Dipertua Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzuddin Waddaulah dan keluarga atau yang mewakili, untuk berkunjung ke Pesisir Selatan, Sumatera Barat, tempat bekas kerajaan besar Indrapura itu, dalam event PORDA VIII Sumatera Barat, 21-28 Maret 2002.

Atas Perkenan Yang Mulia Yang Dipertua Sultan dan Keluarga atau yang mewakili hadir kami ucapkan terima kasih.

Painan, 4 Maret 2002

Bupati Pesisir Selatan,

H. Darizal Basir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: