Tanjuang Kaciak

Dalimo Payobada Guci

BENARKAH GAJAH MADA ORANG SUMATERA???


Fadlyrahman's Weblog

BENARKAH GAJAH MADA ORANG SUMATERA???

Majapahit mengalami kejayaan saat jabatan Mahapatih dipegang oleh Gajah Mada, dan Majapahit mengalami kemunduran setelah ditinggal oleh Gajah Mada Apalagi setelah wafatnya Raja Hayam wuruk. Kehebatan Gajah Mada meninggalkan misteri tentang sejarah dirinya, didalam Nagarakretagama dan Pararaton tidak ada yang mengungkapkan tentang sejarah diri Gajah Mada. Misteri itu mulai ungkapkan dikalangan tertentu. Seperti diungkapkan oleh sebagian masyarakat Melayu yang mengatakan bahwa Gajah Mada merupakan anak dari Dara Petak.[1] Cerita tersebut belum terlalu kuat kebenarannya. Menurut kepercayaan masyarakat Bali yang tertulis dalam kitab Usana Djawa, Gajah Mada dilahirkan di pulau Bali Agung dan pada suatu ketika berpindah ke Majapahit. Gajah Mada tidak mempunyai Ibu dan Ayah, melainkan terpancar dari dalam buah kelapa sebagai penjelmaan Sang Hiang Narajana ke atas dunia[2]. Menurut Mohammad Yamin, menduga bahwa Gajah Mada dilahirkan di aliran sungai Brantas yang mengalir keselatan diantara kaki gunung Kawi-Arjuna.[3] Cerita rakyat Lamongan…

Lihat pos aslinya 1.299 kata lagi

Adsense


Bagaimana cara mendapatkan Adsense pada blog ini dan bagaimana cara mengupgrade tanpa berbayar? hmmm

Rumah Kajati Padati


 

FB_IMG_15625027377215794.jpg

Inilah 2 contoh rumah Kajang Padati yang cukup indah di Pesisir Barat Minangkabau. Inilah rumah bangsawan kota Padang zaman dahulu. Hari ini tidak lagi banyak tersisa rumah adat seperti ini. Sudah banyak yang runtuh atau roboh.

Rumah ini agak mirip dengan Rumah Lontik di Kampar. Hanya berbeda pada bentuk serambi dan ukurannya. Atapnya sama-sama melengkung sedikit saja. Bentuk atap seperti ini banyak pula dijumpai pada perahu-perahu Kajang di sungai-sungai di Sumatera Selatan.

Sebagian berpendapat bahwa inilah bentuk awal atau cikal bakal Rumah Adat Bagonjol Minangkabau. Rumah dengan atau melengkung juga ditemui pada budaya Batak, Toraja dan Sunda.

Novel Maharaja Adityawarman


FB_IMG_15623976570712636.jpg

Sayang sekali novel historis tidak beredar lagi di pasaran. Kisah tentang penguasa Suwarnabhumi pada abad 14. Beliau memindahkan istana Malayapura dari Dharmasraya ke Surawasa, dekat Pariangan, lereng Gunung Marapi. Tujuannya tidak lain adalah mengamankan pusat kekuasaannya dari ancaman Majapahit yang sudah tak terkendali pasca terbunuhnya Raja Jayanegara. Adityawarman tahu betul bagaimana kultur kekuasaan di lingkar istana Trowulan tersebut. Walaupun Adityawarman ikut berjuang membesarkan Majapahit bersama Gajah Mada namun ia merasa perjuangannya tidak dihargai oleh segenap kawula istana pasca terbunuhnya Jayanegara sepupunya sendiri. Aditya mencium gelagat busuk di keraton Majapahit. Secara genetik, kakek dari Aditya merupakan pembesar di Singosari, pendahulu Majapahit. Tapi semua itu sudah tak dianggap.

Bagaimana kisahnya secara keseluruhan, silahkan cari novelnya, karya Rijaluddin Shar

Aisha Dhiya Elhayya


IMG-20190729-WA0003.jpgSalam kenal guys. Namaku Aisha Dhiya Elhayya Fasyagucci. Saat ini aku sekolah di SDIT Menara Kuwait, komplek Pusdiklat Dewan Dakwan Tambun Selatan, Bekasi. Sekarang aku sudah kelas 4, guys.

Aku ingin bercerita tentang keluarga besar ku ya… Sebagai orang Minang aku memilki suku atau istilahnya marga atau fam di etnis-etnis lainnya. Suku bundaku Sikumbang sedangkan suku papaku Guci. Karena itu di belakang namaku ada Fasyaguci yang merupakan perpaduan nama papaku dan bundaku – Syafroni Guci dan Fatmawati. Ayah dari bundaku bersuku Kampai. Leluhur kakek dan nenekku berasal dari Sungai Pagu, kabupaten Solok Selatan.

Demikian pula, papaku. Ibunya bersuku Tanjung Guci dan ayahnya bersuku Caniago. Leluhur papaku berasal dari Muaro Paneh, sebuah nagari di lereng Gunung Talang, kabupaten Solok.

Demikian gaes sedikit asal usul keluargaku. Lain kali aku akan berbagi cerita lagi dengan kalian, gaes.

Aku tidur dulu ya..

Jangan lupa LIKE ya guys..

Terimakasih

Bye…

Bahasa Sanskerta


Bahasa Sanskerta atau Sanskrit adalah bahasa keagamaan Hindu dan juga Buddha.

Di Indonesia atau di Nusantara, bahasa ini banyak mempengaruhi bahasa2 Nusantara seperti bahasa Melayu dan bahasa Jawa. ini sudah berlangsung semenjak abad 3 Masehi.

kalimat-kalimat berbahasa Sanskrit banyak ditemukan pada prasasti2 kerajaan di Nusantara dengan aksara Pallawa.

dalam sejarah Hindu di India, kitab Veda dan Bagavad Gita ditulis dengan aksara Brahmi berbahasa Sanskerta sejak abad 30 Sebelum Masehi.

Kitab Tripitaka milik Buddhisme yang berbahasa Pali (Nepal) juga banyak dipengaruhi oleh Bahasa Sanskerta.

Bahasa Sanskerta tidak dituturkan dalam kehidupan sehari-hari. para ahli mengelompokkannya kedalam Rumpun Bahasa Indo Eropa.

di India, bahasa Sanskrit banyak mempengaruhi Bahasa Hindi sebagaimana Bahasa Urdu di Pakistan

Dewang Sri Deowano Yang Dipertuan Maharaja Sakti II


Dewang Sri Deowano yang bergelar Yang Dipertuan Maharaja Sakti II adalah maharaja ke-6 Malayapura Minangkabau Suwarnabhumi yang berpusat di Ulak Tanjuang Bungo Pagaruyung.

Keluarga

Ia adalah putra dari Dang Tuanku Sutan Remendung Dewang Pandan Salasih Sri Raiwano, anak Puti Puti Panjang Rambut II. Ia diutus oleh orang tuanya dari persembunyian ke ibukota kerajaan Malayapura untuk dinikahkan dengan sepupunya sendiri, Puti Reno Marak Rindang Ranggowani, putri dari Dewang Cando Ramowano.

Dari pernikahannya dengan Puti Ranggowani, ia dikaruniai beberapa orang anak : Dewang Sri Megowano, Dewang Indo Naro, Puti Reno Bulian, Puti Reno Kahyangan, Puti Reno Mahligai Cimpago Dewi.

Kemudian Dewang Sri Deowano menikah lagi dengan putri sultan Aceh yang bernama Putri Ratna Keumala tapi pernikahan tak berlangsung lama dan tak dikaruniai anak karena diwarnai oleh konflik dua kerajaan.

Peristiwa penting di zamannya

Pada masanya terjadi serangan dari Timur, tepatnya Tebo, oleh pasukan yang dipimpin oleh Dewang Parakrama. peristiwa tersebut memaksa keluarga kerajaan mengungsi ke berbagai daerah termasuk ke Koto Anau, kerajaan vazal Malayapura di selatan di kaki Gunung Selasih Talang.

peristiwa lainnya adalah terlepasnya wilayah pesisir barat Suwarnabhumi dari penguasaan Minangkabau kepada kesultanan Aceh karena ketidaksanggupan Pagaruyung dalam membayar hutang Sri Deowano dalam pesta besar-besaran selama di Aceh.

Penerus tahta

selanjutnya tahta direbut oleh penyerang dari Tebo yang bernama Dewang Parakrama. ia berkuasa mencapai sepuluh tahun berikutnya.

Pengertian Dewang


Oleh : Dian Ikhwan Sutan Marajo ( di Grup FB KKDM)

DEVANG (dibaca: Dewang) adalah nama yang diberikan kepada anak laki-laki Bangsawan Kerajaan di Minangkabau pada periode abad ke XII hingga XVI Masehi terutama pada masa kejayaan Kerajaan Malayapura Svarnabhumi di jantung Svarnadwipa/Sumatera.

Kata Devang sendiri merupakan saduran dari Bahasa Sansekerta yang berarti Seperti/Seumpama/Laksana Dewa. Dalam hal ini pemberian kata Devang pada nama anak bangsawan kerajaan tak lain bertujuan penegasan bahwa yang bersangkutan merupakan Wali/Wakil Tuhan dimuka bumi. Dibanyak kerajaan Theocracy didunia, apapun agamanya, Raja dan keturunannya memang diidentikkan dengan perwakilan Tuhan dimuka bumi. Titah mereka dianggap oleh rakyatnya sebagai Titah Tuhan.

Nama Devang ini lazim digunakan di kebudayaan Hindu/Budha pada jaman keemasan kerajaan Hindu/Budha diseluruh dunia. Di Svarnadwipa/Sumatera/Andalas kebudayaan Hindu Budha diperkirakan mulai eksis pada abad ke I Masehi (kerajaan Kandis), dan berturut2 setelahnya Kerajaan Kuntala (abad IV), Kerajaan Srivijaya (Abad VII), Kerajaan Dharmasraya (Abad XII) dan Kerajaan Malayapura (XIV).

Di Minangkabau sendiri penggunaan nama Devang cukup populer di kalangan bangsawan Kerajaan yg walau pada abad ke XI sudah beragama Tauhid dan sudah beragama Islam pada abad ke XII, namun sisa-sisa kebiasaan dijaman Hindu/Budha, seperti kebiasaan pemberian Nama atau Gelar khas bahasa Sansekerta masih lumrah digunakan pada periode tersebut. Menurut analisa beberapa ahli hal ini disebabkan mahzab Islam yg berkembang luas di Minangkabau pada periode tsb adalah Mahzab Sufi yg pada banyak prakteknya msh dekat dengan praktek2 dan simbol2 budaya lokal (Sinkretisme). Ajaran Sufi memang terkenal dekat dgn unsur Metafisik dan Paranormal.

Nama-nama atau Gelar berbahasa Sansekerta yang sering kita dengar di minangkabau diantaranya Maharaja (Maha=Besar, Raj/Raja=Penguasa), Sinaro (Sinar=Surya), Sati (Sakti), Indo (Indera), Suri (Sri=Mulia), dll..

Beberapa nama Devang yang sering kita jumpai dan dengar didalan konteks Sejarah Minangkabau yang merupakan nama kecil/nama lahir dari raja-raja Minangkabau diantaranya:
1. Adityavarman (Maharaja I Malayapura, 1347-1375 masehi) nama kecil beliau adalah Devang Palokamo Rajo Deowano.
2. Ananggavarman (Maharaja II Malayapura, 1376-1417 masehi) nama lahir beliau adalah Devang Baremah Sanggowano.
3. Maharaja Sakti I (Maharaja III Malayapura, periode 1420-14xx masehi) nama kecilnya adalah Devang Pandan Putowano.

Dan masih banyak nama nama Devang lainnya, yang masih misterius dan belum diketahui.

Diawal abad ke XVII pemberian nama Devang mulai ditinggalkan oleh para Bangsawan Kerajaan Minangkabau khususnya Kerajaan Pagaruyung (Sultan Alif Khalifatullah, Raja Pertama Kerajaan Pagaruyung, sekitar 1580-an) dan Vassal2nya, seiring dengan meluasnya pengaruh Kerajaan Aceh di Pesisir Minangkabau. Pada periode in penggunaan nama Devang digantikan dengan penggunaan nama depan “Sutan” yang berakar pada bahasa Arab (Sultan/Sulthan), dimana yang uniknya dari makna pemberian nama Sutan tersebut justru bermaksud sama, yaitu Wali/Wakil Tuhan (Allah) dimuka bumi.

NB:
Special Credit kepada uwan Emral Djamal Dt. Rajo Mudo di Bayang, tuanku Edy A Dt Rangkayo Sati Pariangan di Pariangan, Tuanku Ricky Syahrul Tuanku Rajo Panji Alam Pagaruyung di Lintau serta tak lupa juga Tuanku Adiawarman Darwin Tuanku Rajo Kali Bosa di Pasaman atas materi2 diskusi hangat yang menarik.

CC:
Putri Danggan Rejanges Remandung, Kinanti, Ilyas Soni, Arif, Haqqadirrauf Bkl, Agustian Malayu, Saiful Guci, Anthon Lubuk, Via Dicky, Siti Ndj, Bangkit Risa Rumpoko, Azela Risanti. Röny H. Tanjung Rinaldi Bharindo, Fai Piliang, Mohamed Yazman Mohamed Yusof, Hibatullah Yusof Al-Haj

Dinasti Para Dewang di Malayapura Suwarnabumi Minangkabau Pagaruyung


EDISI PARA DEWANG.
BAG.VII: Mencoba merunut TIMELINE para RAJA ALAM MINANGKABAU abad ke XIV hingga XVI.

Oleh : Dian Ikhwan Sutan Marajo (di grup FB Kerajaan-kerajaan di Minangkabau)

Berikut analisa ambo dalam hal Timeline para Raja Alam Minangkabau, yang cubo ambo kumpulkan dari berbagai sumber. Mohon maaf jika masih ado informasi yg kurang lengkap, karena mengurai periode 200 tahun yang misterius di Minangkabau bukanlah hal yg mudah dan ambo hanya menggunakan ingatan ambo untuk menghapal urutan serta detail para Rajo Alam tsb yg ambo dapatkan kebanyakan dari kabar tutur.
Berikut uraiannyo:

1.Dewang Palokamo Rajo Deowano.
Alias: Adityavarman Maulivarmadewa, Tuan Suravaca, Sultan Pandak
Ibu: Puti Reno Marak Janggo alias Dara Jingga (Dharmasraya)
Ayah: Adwayabrahma (Singosari)
Lahir: Siguntur
Wafat: Suruaso
Istri: Puti Reno Jamilan
Anak:
– Dewang Baremah Sanggowano
– Puti Dewi Reno Rani
Periode Berkuasa: 1347-1375 masehi.
Kedudukan: Bukit Gombak
Istana: Malayapura.

2. Dewang Baremah Sanggowano
Alias: Ananggavarman Maulivarmadewa, Raja Baremah, Sultan Baramah.
Ibu: Puti Reno Jamilan
Ayah: Dewang Palokamo Rajo Deowano
Lahir: Suruaso
Wafat: Suruaso
Istri: Puti Reno Dewi
Anak:
– Puti Salareh Pinang Masak
– Puti Panjang Rambut
– Puti Bungsu alias Puti Silindung Bulan.
Periode Berkuasa: 1376-1417 masehi
Hubungan dgn Raja sebelumnyo: Anak Kandung
Kedudukan: Suruaso
Istana: Pagaruyung

3. Dewang Pandan Putowano
Alias: Vijayavarman Maulivarmadewa alias YDP Maharaja Sakti I
Ibu: Puti Dewi Reno Rani
Ayah: Bangsawan Bungo Setangkai.
Lahir: Suruaso
Wafat: Suruaso
Istri: Puti Bungsu alias Puti Silindung Bulan
Anak:
– Puti Panjang Rambut II
Periode Berkuasa: 1418-1440 (asumsi 20 tahun)
Hubungan dgn Raja sebelumnyo: Kemenakan sekaligus Menantu.
Kedudukan: Suruaso
Istana: Pagaruyung

4. Puti Panjang Rambut II
Alias: Bundo Kandung, YDP Putri Alam Minangkabau, Mande Rubiah (saat di Lunang)
Ayah: Dewang Pandan Putowano
Ibu: Puti Bungsu alias Puti Silindung Bulan
Lahir: Suruaso
Wafat: Lunang
Suami: Bujanggo Selamat.
Anak:
– Dewang Pandan Salasiah Bonang Raiwano alias Dang Tuanku (anak bersama Bujang Selamat)
– Dewang Cando Ramowano alias Cindur Mato (anak Bujanggo Salamat bersama Kambang Bandohari yang diangkat jadi anak oleh Puti Panjang Rambut II)
Periode Berkuasa: 1440-1470 masehi (asumsi berkuasa selama 30 tahun)
Hubungan dgn Raja sebelumnya: Anak Kandung
Kedudukan: Suruaso
Istana: Pagaruyung

5. Dewang Cando Ramowano
Alias: Cindur Mato, YDP Sati.
Ayah: Bujanggo Salamat
Ibu: Kambang Bandohari
Lahir: Suruaso
Wafat: Lunang
Istri:
– Puti Lenggo Geni
– Puti Reno Bulan
– Puti Selendang Cayo/Cahayo
Anak:
Anak bersama Puti Lenggo Geni
– Lenggang Alam
Anak Bersama Puti Reno Bulan:
– Lembang Alam
– Puti Lembak Tuah
Anak Bersama Puti Selendang Cahayo:
– Dewang Ranggowano
Periode Berkuasa: 1470-1500 masehi (asumsi berkuasa selama 30 tahun)
Hubungan dgn Raja sebelumnya: Anak Angkat
Kedudukan: Suruaso
Istana: Pagaruyung

6. Dewang Sari Dewano
Alias: Maharaja Dewana alias YDP Maharaja Sakti II, Sutan Alam Dunia/Dunie
Ayah: Dewang Pandan Salasiah Banang Raiwano alias Dang Tuanku Syah Alam
Ibu: Puti Bungsu II
Istri:
– Puti Dewi Ranggowani
– Putri Ratna Keumala (Cerai)
Anak:
Semua anak dari Istri Puti Dewi Ranggowani:
– Dewang Sari Megowano
– Dewang ………………… alias Indo Naro
– Puti Reno Bulian
– Puti Reno Kahyangan
– Puti Reno Mahligai Cimpago Dewi
Lahir: Suruaso
Wafat: ?
Hubungan dengan Raja sebelumnyo: Kemenakan
Periode Berkuasa: 1500-1514 masehi, dikudeta, dan kembali berkuasa 1524-1539 masehi.
Kedudukan: Suruaso
Istana: Pagaruyung

7. Dewang Palokamo Pamowano
Alias: Raja Parakrama
Ayah: ?
Ibu: ?
Lahir: Ulu Tebo
Wafat: Jambi
Istri: ?
Anak: ?
Periode Berkuasa: 1514-1524 masehi
Hubungan dengan Raja sebelumnyo: Kudeta
Kedudukan: Ulu Tebo Jambi dan Suruaso
Istana: Ulu Tebo dan Pagaruyung

8. Dewang Sari Megowano
Alias: YDP Rajo Maharajo, Tuanku Rajo Tuo
Ayah: Maharaja Dewana
Ibu: Puti Dewi Ranggowani
Lahir: Suruaso
Wafat: Suruaso
Istri:
– Puti Nalo Nali (Meninggal Dunia)
– Poyang Rani Reno Jati
Anak:
Semua anak bersama Poyang Rani Reno Jati:
– Dewang Pandan Sari Deowano
– Dewang Banang Sari Sutowano
– Dewang Pinang Sari Rajowano
Periode Berkuasa: 1540-1570 (asumsi berkuasa 30 tahun)
Hubungan dengan Raja sebelumnyo: Anak Kandung
Kedudukan: Suruaso
Istana: Pagaruyung

9. Dewang ………………..
Alias: Sultan Indo Naro, YDP Tuanku Alam Sati
Ayah: Maharaja Dewana
Ibu: Puti Dewi Ranggowani
Istri: ?
Anak: ?
Periode Berkuasa: 1570-1580 masehi (menggantikan abang kandungnya, Dewang Sari Megowano yg mengundurkan diri karena kematian istri pertamanya, Puti Nalo Nali)
Hubungan dengan Raja sebelumnya: Adik Kandung.
Kedudukan: Indropuro lalu ke Suruaso
Istana: Indropuro lalu Pagaruyung.

Periode 1580-1600 masehi adalah periode bergolak dimana upaya penjajahan pesisir semakin intensif dilakukan oleh Imperialis Eropa seperti Portugis dan Belanda, sebagian kaba dan teks mengatakan bahwa kebanyakan keluarga Raja Pagaruyung membangun basis baru di daerah Pesisir Barat Minangkabau untuk membendung serangan pihak luar, dan salah satu Perang besar yang tercatat dalam sejarah adalah Perang Bayang dimana hampir sebagian besar isi Kerajaan pindah dan menetap di Pesisir dan meninggalkan Suruaso dalam keadaan hampir kosong.
Hingga muncullah Trah baru Raja Minangkabau, seorang yang bergelar Sultan, yang memulai babak baru kerajaan yang menggantikan era Trah Para Dewang, Sultan Alif Khalifatullah alias Nur Alam, yg diperkirakan mulai berkuasa sekitar 1605 Masehi.
Pagaruyung yang sebelumnya merupakan nama Istana saat itu berubah menjadi nama Kerajaan, Kerajaan Pagaruyung.

—————————

Referensi:
Berbagai Sumber, terutama info Ranji Raja Alam dari Uwan Emral Djamal Dt Rajo Mudo.

Dewang Cando Ramowano


Dewang Cando Ramowano yang terkenal di dalam Kaba Cinduamato dengan gelar Cinduamato (ejaan lain “Cindurmato” atau “Tjindoermato”) dan Bujang Kacinduan, sebutan kesayangan oleh Bundo Kanduang, adalah raja ke-5 yang memerintah di Kerajaan Malayapura Suwarnabhumi Kanakamedini Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung.

Keluarga

Dewang Cando Sri Ramowano adalah putra dari Tuanku Bujanggo Salamat atau didalam Kaba Cindurmato dijuluki Bujang Salamaik Panjang Gombak dan istrinya, Kambang Bandahari, seorang dayang utama dalam istana Malayapura di Ulak Tanjung Bungo Pagaruyung. Ia bersaudara seayah dengan Dewang Pandan Salasih Sri Raiwano atau Dang Tuanku Sultan Remendung.

Dewang Cando Sri Raiwano menikah dengan Puti Marak Rindang Ranggowani, putri Tuan Titah (Datuk Bandaro Putih) di Sungai Tarab, dikaruniai putra bernama Dewang Sri Ranggowano yang kelak menjabat sebagai Tuan Titah berikutnya. Selain itu ia juga menikahi adik perempuan dari Puti Kamuning Mego (Puti Bungsu), istri Dang Tuanku Dewang Pandan Salasih Sri Raiwano Sultan Remendung, dikaruniai putra bernama Sutan Lembang Alam (Sultan Amirullah) dan putri yang bernama Puti Lembak Tuah (Putri Sarduni)

Peristiwa penting di zamannya

Sebelum Dewang Cando Sri Ramowano naik tahta, pernah terjadi serangan dari selatan, yakni dari kerajaan Sungai Ngiang, perbatasan Kerinci dengan Rejang, Bengkulu. Raja dan Putra Mahkota Sungai Ngiang tewas dalam serangan tersebut tapi serangan ini juga telah memaksa Bundo Kandung (Puti Panjang Rambut II, ratu Minangkabau Pagaruyung) dan keluarganya menyingkir dan mengungsi ke negeri yang dirahasiakan.

Penerus tahta

Setelah Dewang Ramowano mangkat, ia digantikan oleh menantunya, Dewang Sri Deowano yang bergelar Yang Dipertuan Maharaja Sakti II, putra dari Dang Tuanku Sultan Remendung.