Tanjuang Kaciak

Kaum Pasukuan "Bujang Sambilan" dari Muaro Paneh Kubuang XIII di Bayang Nan VII – Pessel

Bahasa Sanskerta


Bahasa Sanskerta atau Sanskrit adalah bahasa keagamaan Hindu dan juga Buddha.

Di Indonesia atau di Nusantara, bahasa ini banyak mempengaruhi bahasa2 Nusantara seperti bahasa Melayu dan bahasa Jawa. ini sudah berlangsung semenjak abad 3 Masehi.

kalimat-kalimat berbahasa Sanskrit banyak ditemukan pada prasasti2 kerajaan di Nusantara dengan aksara Pallawa.

dalam sejarah Hindu di India, kitab Veda dan Bagavad Gita ditulis dengan aksara Brahmi berbahasa Sanskerta sejak abad 30 Sebelum Masehi.

Kitab Tripitaka milik Buddhisme yang berbahasa Pali (Nepal) juga banyak dipengaruhi oleh Bahasa Sanskerta.

Bahasa Sanskerta tidak dituturkan dalam kehidupan sehari-hari. para ahli mengelompokkannya kedalam Rumpun Bahasa Indo Eropa.

di India, bahasa Sanskrit banyak mempengaruhi Bahasa Hindi sebagaimana Bahasa Urdu di Pakistan

Dewang Sri Deowano Yang Dipertuan Maharaja Sakti II


Dewang Sri Deowano yang bergelar Yang Dipertuan Maharaja Sakti II adalah maharaja ke-6 Malayapura Minangkabau Suwarnabhumi yang berpusat di Ulak Tanjuang Bungo Pagaruyung.

Keluarga

Ia adalah putra dari Dang Tuanku Sutan Remendung Dewang Pandan Salasih Sri Raiwano, anak Puti Puti Panjang Rambut II. Ia diutus oleh orang tuanya dari persembunyian ke ibukota kerajaan Malayapura untuk dinikahkan dengan sepupunya sendiri, Puti Reno Marak Rindang Ranggowani, putri dari Dewang Cando Ramowano.

Dari pernikahannya dengan Puti Ranggowani, ia dikaruniai beberapa orang anak : Dewang Sri Megowano, Dewang Indo Naro, Puti Reno Bulian, Puti Reno Kahyangan, Puti Reno Mahligai Cimpago Dewi.

Kemudian Dewang Sri Deowano menikah lagi dengan putri sultan Aceh yang bernama Putri Ratna Keumala tapi pernikahan tak berlangsung lama dan tak dikaruniai anak karena diwarnai oleh konflik dua kerajaan.

Peristiwa penting di zamannya

Pada masanya terjadi serangan dari Timur, tepatnya Tebo, oleh pasukan yang dipimpin oleh Dewang Parakrama. peristiwa tersebut memaksa keluarga kerajaan mengungsi ke berbagai daerah termasuk ke Koto Anau, kerajaan vazal Malayapura di selatan di kaki Gunung Selasih Talang.

peristiwa lainnya adalah terlepasnya wilayah pesisir barat Suwarnabhumi dari penguasaan Minangkabau kepada kesultanan Aceh karena ketidaksanggupan Pagaruyung dalam membayar hutang Sri Deowano dalam pesta besar-besaran selama di Aceh.

Penerus tahta

selanjutnya tahta direbut oleh penyerang dari Tebo yang bernama Dewang Parakrama. ia berkuasa mencapai sepuluh tahun berikutnya.

Pengertian Dewang


Oleh : Dian Ikhwan Sutan Marajo ( di Grup FB KKDM)

DEVANG (dibaca: Dewang) adalah nama yang diberikan kepada anak laki-laki Bangsawan Kerajaan di Minangkabau pada periode abad ke XII hingga XVI Masehi terutama pada masa kejayaan Kerajaan Malayapura Svarnabhumi di jantung Svarnadwipa/Sumatera.

Kata Devang sendiri merupakan saduran dari Bahasa Sansekerta yang berarti Seperti/Seumpama/Laksana Dewa. Dalam hal ini pemberian kata Devang pada nama anak bangsawan kerajaan tak lain bertujuan penegasan bahwa yang bersangkutan merupakan Wali/Wakil Tuhan dimuka bumi. Dibanyak kerajaan Theocracy didunia, apapun agamanya, Raja dan keturunannya memang diidentikkan dengan perwakilan Tuhan dimuka bumi. Titah mereka dianggap oleh rakyatnya sebagai Titah Tuhan.

Nama Devang ini lazim digunakan di kebudayaan Hindu/Budha pada jaman keemasan kerajaan Hindu/Budha diseluruh dunia. Di Svarnadwipa/Sumatera/Andalas kebudayaan Hindu Budha diperkirakan mulai eksis pada abad ke I Masehi (kerajaan Kandis), dan berturut2 setelahnya Kerajaan Kuntala (abad IV), Kerajaan Srivijaya (Abad VII), Kerajaan Dharmasraya (Abad XII) dan Kerajaan Malayapura (XIV).

Di Minangkabau sendiri penggunaan nama Devang cukup populer di kalangan bangsawan Kerajaan yg walau pada abad ke XI sudah beragama Tauhid dan sudah beragama Islam pada abad ke XII, namun sisa-sisa kebiasaan dijaman Hindu/Budha, seperti kebiasaan pemberian Nama atau Gelar khas bahasa Sansekerta masih lumrah digunakan pada periode tersebut. Menurut analisa beberapa ahli hal ini disebabkan mahzab Islam yg berkembang luas di Minangkabau pada periode tsb adalah Mahzab Sufi yg pada banyak prakteknya msh dekat dengan praktek2 dan simbol2 budaya lokal (Sinkretisme). Ajaran Sufi memang terkenal dekat dgn unsur Metafisik dan Paranormal.

Nama-nama atau Gelar berbahasa Sansekerta yang sering kita dengar di minangkabau diantaranya Maharaja (Maha=Besar, Raj/Raja=Penguasa), Sinaro (Sinar=Surya), Sati (Sakti), Indo (Indera), Suri (Sri=Mulia), dll..

Beberapa nama Devang yang sering kita jumpai dan dengar didalan konteks Sejarah Minangkabau yang merupakan nama kecil/nama lahir dari raja-raja Minangkabau diantaranya:
1. Adityavarman (Maharaja I Malayapura, 1347-1375 masehi) nama kecil beliau adalah Devang Palokamo Rajo Deowano.
2. Ananggavarman (Maharaja II Malayapura, 1376-1417 masehi) nama lahir beliau adalah Devang Baremah Sanggowano.
3. Maharaja Sakti I (Maharaja III Malayapura, periode 1420-14xx masehi) nama kecilnya adalah Devang Pandan Putowano.

Dan masih banyak nama nama Devang lainnya, yang masih misterius dan belum diketahui.

Diawal abad ke XVII pemberian nama Devang mulai ditinggalkan oleh para Bangsawan Kerajaan Minangkabau khususnya Kerajaan Pagaruyung (Sultan Alif Khalifatullah, Raja Pertama Kerajaan Pagaruyung, sekitar 1580-an) dan Vassal2nya, seiring dengan meluasnya pengaruh Kerajaan Aceh di Pesisir Minangkabau. Pada periode in penggunaan nama Devang digantikan dengan penggunaan nama depan “Sutan” yang berakar pada bahasa Arab (Sultan/Sulthan), dimana yang uniknya dari makna pemberian nama Sutan tersebut justru bermaksud sama, yaitu Wali/Wakil Tuhan (Allah) dimuka bumi.

NB:
Special Credit kepada uwan Emral Djamal Dt. Rajo Mudo di Bayang, tuanku Edy A Dt Rangkayo Sati Pariangan di Pariangan, Tuanku Ricky Syahrul Tuanku Rajo Panji Alam Pagaruyung di Lintau serta tak lupa juga Tuanku Adiawarman Darwin Tuanku Rajo Kali Bosa di Pasaman atas materi2 diskusi hangat yang menarik.

CC:
Putri Danggan Rejanges Remandung, Kinanti, Ilyas Soni, Arif, Haqqadirrauf Bkl, Agustian Malayu, Saiful Guci, Anthon Lubuk, Via Dicky, Siti Ndj, Bangkit Risa Rumpoko, Azela Risanti. Röny H. Tanjung Rinaldi Bharindo, Fai Piliang, Mohamed Yazman Mohamed Yusof, Hibatullah Yusof Al-Haj

Dinasti Para Dewang di Malayapura Suwarnabumi Minangkabau Pagaruyung


EDISI PARA DEWANG.
BAG.VII: Mencoba merunut TIMELINE para RAJA ALAM MINANGKABAU abad ke XIV hingga XVI.

Oleh : Dian Ikhwan Sutan Marajo (di grup FB Kerajaan-kerajaan di Minangkabau)

Berikut analisa ambo dalam hal Timeline para Raja Alam Minangkabau, yang cubo ambo kumpulkan dari berbagai sumber. Mohon maaf jika masih ado informasi yg kurang lengkap, karena mengurai periode 200 tahun yang misterius di Minangkabau bukanlah hal yg mudah dan ambo hanya menggunakan ingatan ambo untuk menghapal urutan serta detail para Rajo Alam tsb yg ambo dapatkan kebanyakan dari kabar tutur.
Berikut uraiannyo:

1.Dewang Palokamo Rajo Deowano.
Alias: Adityavarman Maulivarmadewa, Tuan Suravaca, Sultan Pandak
Ibu: Puti Reno Marak Janggo alias Dara Jingga (Dharmasraya)
Ayah: Adwayabrahma (Singosari)
Lahir: Siguntur
Wafat: Suruaso
Istri: Puti Reno Jamilan
Anak:
– Dewang Baremah Sanggowano
– Puti Dewi Reno Rani
Periode Berkuasa: 1347-1375 masehi.
Kedudukan: Bukit Gombak
Istana: Malayapura.

2. Dewang Baremah Sanggowano
Alias: Ananggavarman Maulivarmadewa, Raja Baremah, Sultan Baramah.
Ibu: Puti Reno Jamilan
Ayah: Dewang Palokamo Rajo Deowano
Lahir: Suruaso
Wafat: Suruaso
Istri: Puti Reno Dewi
Anak:
– Puti Salareh Pinang Masak
– Puti Panjang Rambut
– Puti Bungsu alias Puti Silindung Bulan.
Periode Berkuasa: 1376-1417 masehi
Hubungan dgn Raja sebelumnyo: Anak Kandung
Kedudukan: Suruaso
Istana: Pagaruyung

3. Dewang Pandan Putowano
Alias: Vijayavarman Maulivarmadewa alias YDP Maharaja Sakti I
Ibu: Puti Dewi Reno Rani
Ayah: Bangsawan Bungo Setangkai.
Lahir: Suruaso
Wafat: Suruaso
Istri: Puti Bungsu alias Puti Silindung Bulan
Anak:
– Puti Panjang Rambut II
Periode Berkuasa: 1418-1440 (asumsi 20 tahun)
Hubungan dgn Raja sebelumnyo: Kemenakan sekaligus Menantu.
Kedudukan: Suruaso
Istana: Pagaruyung

4. Puti Panjang Rambut II
Alias: Bundo Kandung, YDP Putri Alam Minangkabau, Mande Rubiah (saat di Lunang)
Ayah: Dewang Pandan Putowano
Ibu: Puti Bungsu alias Puti Silindung Bulan
Lahir: Suruaso
Wafat: Lunang
Suami: Bujanggo Selamat.
Anak:
– Dewang Pandan Salasiah Bonang Raiwano alias Dang Tuanku (anak bersama Bujang Selamat)
– Dewang Cando Ramowano alias Cindur Mato (anak Bujanggo Salamat bersama Kambang Bandohari yang diangkat jadi anak oleh Puti Panjang Rambut II)
Periode Berkuasa: 1440-1470 masehi (asumsi berkuasa selama 30 tahun)
Hubungan dgn Raja sebelumnya: Anak Kandung
Kedudukan: Suruaso
Istana: Pagaruyung

5. Dewang Cando Ramowano
Alias: Cindur Mato, YDP Sati.
Ayah: Bujanggo Salamat
Ibu: Kambang Bandohari
Lahir: Suruaso
Wafat: Lunang
Istri:
– Puti Lenggo Geni
– Puti Reno Bulan
– Puti Selendang Cayo/Cahayo
Anak:
Anak bersama Puti Lenggo Geni
– Lenggang Alam
Anak Bersama Puti Reno Bulan:
– Lembang Alam
– Puti Lembak Tuah
Anak Bersama Puti Selendang Cahayo:
– Dewang Ranggowano
Periode Berkuasa: 1470-1500 masehi (asumsi berkuasa selama 30 tahun)
Hubungan dgn Raja sebelumnya: Anak Angkat
Kedudukan: Suruaso
Istana: Pagaruyung

6. Dewang Sari Dewano
Alias: Maharaja Dewana alias YDP Maharaja Sakti II, Sutan Alam Dunia/Dunie
Ayah: Dewang Pandan Salasiah Banang Raiwano alias Dang Tuanku Syah Alam
Ibu: Puti Bungsu II
Istri:
– Puti Dewi Ranggowani
– Putri Ratna Keumala (Cerai)
Anak:
Semua anak dari Istri Puti Dewi Ranggowani:
– Dewang Sari Megowano
– Dewang ………………… alias Indo Naro
– Puti Reno Bulian
– Puti Reno Kahyangan
– Puti Reno Mahligai Cimpago Dewi
Lahir: Suruaso
Wafat: ?
Hubungan dengan Raja sebelumnyo: Kemenakan
Periode Berkuasa: 1500-1514 masehi, dikudeta, dan kembali berkuasa 1524-1539 masehi.
Kedudukan: Suruaso
Istana: Pagaruyung

7. Dewang Palokamo Pamowano
Alias: Raja Parakrama
Ayah: ?
Ibu: ?
Lahir: Ulu Tebo
Wafat: Jambi
Istri: ?
Anak: ?
Periode Berkuasa: 1514-1524 masehi
Hubungan dengan Raja sebelumnyo: Kudeta
Kedudukan: Ulu Tebo Jambi dan Suruaso
Istana: Ulu Tebo dan Pagaruyung

8. Dewang Sari Megowano
Alias: YDP Rajo Maharajo, Tuanku Rajo Tuo
Ayah: Maharaja Dewana
Ibu: Puti Dewi Ranggowani
Lahir: Suruaso
Wafat: Suruaso
Istri:
– Puti Nalo Nali (Meninggal Dunia)
– Poyang Rani Reno Jati
Anak:
Semua anak bersama Poyang Rani Reno Jati:
– Dewang Pandan Sari Deowano
– Dewang Banang Sari Sutowano
– Dewang Pinang Sari Rajowano
Periode Berkuasa: 1540-1570 (asumsi berkuasa 30 tahun)
Hubungan dengan Raja sebelumnyo: Anak Kandung
Kedudukan: Suruaso
Istana: Pagaruyung

9. Dewang ………………..
Alias: Sultan Indo Naro, YDP Tuanku Alam Sati
Ayah: Maharaja Dewana
Ibu: Puti Dewi Ranggowani
Istri: ?
Anak: ?
Periode Berkuasa: 1570-1580 masehi (menggantikan abang kandungnya, Dewang Sari Megowano yg mengundurkan diri karena kematian istri pertamanya, Puti Nalo Nali)
Hubungan dengan Raja sebelumnya: Adik Kandung.
Kedudukan: Indropuro lalu ke Suruaso
Istana: Indropuro lalu Pagaruyung.

Periode 1580-1600 masehi adalah periode bergolak dimana upaya penjajahan pesisir semakin intensif dilakukan oleh Imperialis Eropa seperti Portugis dan Belanda, sebagian kaba dan teks mengatakan bahwa kebanyakan keluarga Raja Pagaruyung membangun basis baru di daerah Pesisir Barat Minangkabau untuk membendung serangan pihak luar, dan salah satu Perang besar yang tercatat dalam sejarah adalah Perang Bayang dimana hampir sebagian besar isi Kerajaan pindah dan menetap di Pesisir dan meninggalkan Suruaso dalam keadaan hampir kosong.
Hingga muncullah Trah baru Raja Minangkabau, seorang yang bergelar Sultan, yang memulai babak baru kerajaan yang menggantikan era Trah Para Dewang, Sultan Alif Khalifatullah alias Nur Alam, yg diperkirakan mulai berkuasa sekitar 1605 Masehi.
Pagaruyung yang sebelumnya merupakan nama Istana saat itu berubah menjadi nama Kerajaan, Kerajaan Pagaruyung.

—————————

Referensi:
Berbagai Sumber, terutama info Ranji Raja Alam dari Uwan Emral Djamal Dt Rajo Mudo.

Dewang Cando Ramowano


Dewang Cando Ramowano yang terkenal di dalam Kaba Cinduamato dengan gelar Cinduamato (ejaan lain “Cindurmato” atau “Tjindoermato”) dan Bujang Kacinduan, sebutan kesayangan oleh Bundo Kanduang, adalah raja ke-5 yang memerintah di Kerajaan Malayapura Suwarnabhumi Kanakamedini Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung.

Keluarga

Dewang Cando Sri Ramowano adalah putra dari Tuanku Bujanggo Salamat atau didalam Kaba Cindurmato dijuluki Bujang Salamaik Panjang Gombak dan istrinya, Kambang Bandahari, seorang dayang utama dalam istana Malayapura di Ulak Tanjung Bungo Pagaruyung. Ia bersaudara seayah dengan Dewang Pandan Salasih Sri Raiwano atau Dang Tuanku Sultan Remendung.

Dewang Cando Sri Raiwano menikah dengan Puti Marak Rindang Ranggowani, putri Tuan Titah (Datuk Bandaro Putih) di Sungai Tarab, dikaruniai putra bernama Dewang Sri Ranggowano yang kelak menjabat sebagai Tuan Titah berikutnya. Selain itu ia juga menikahi adik perempuan dari Puti Kamuning Mego (Puti Bungsu), istri Dang Tuanku Dewang Pandan Salasih Sri Raiwano Sultan Remendung, dikaruniai putra bernama Sutan Lembang Alam (Sultan Amirullah) dan putri yang bernama Puti Lembak Tuah (Putri Sarduni)

Peristiwa penting di zamannya

Sebelum Dewang Cando Sri Ramowano naik tahta, pernah terjadi serangan dari selatan, yakni dari kerajaan Sungai Ngiang, perbatasan Kerinci dengan Rejang, Bengkulu. Raja dan Putra Mahkota Sungai Ngiang tewas dalam serangan tersebut tapi serangan ini juga telah memaksa Bundo Kandung (Puti Panjang Rambut II, ratu Minangkabau Pagaruyung) dan keluarganya menyingkir dan mengungsi ke negeri yang dirahasiakan.

Penerus tahta

Setelah Dewang Ramowano mangkat, ia digantikan oleh menantunya, Dewang Sri Deowano yang bergelar Yang Dipertuan Maharaja Sakti II, putra dari Dang Tuanku Sultan Remendung.

Wijayawarman


Wijayawarman adalah raja Minangkabau atau Pagaruyung yang ke-3 sesudah Ananggawarman. Nama kecilnya adalah Dewang Pandan Salasih Putrawana, yang kemudian diberi gelar Yang Dipertuan Maharaja Sakti I atau Tuanku Maharaja Sakti I. Ia adalah menantu dari Ananggawarman atau suami dari putri Anaggawarman yang bernama Puti Reno Bungsu Silindung Bulan. Ibunya adalah saudara perempuan dari Ananggawarman yang bernama Puti Reno Dewi Sanggowani[1][2][3]

Referensi

Puti Panjang Rambut II


Puti Panjang Rambut II adalah Raja Minangkabau Pagaruyung yang ke-4 sesudah Maharaja Wijayawarman Yang Dipertuan Maharaja Sakti I Dewang Pandan Putrawana. Ia menjadi ratu semenjak 1441 hingga tahun 1470[1][2].

Keluarga

Puti Panjang Rambut II yang sangat terkenal dengan julukan Bundo Kanduang adalah cucu dari Maharaja Ananggawarman. Ibunya bernama Puti Bungsu Silindung Bulan dan ayahnya Maharaja Wijayawarman[3][4].

Dari pernikahannya dengan Tuanku Bujanggo Salamat Panjang Gombak, seorang staf penting di istana, Puti Panjang Rambut II dikaranuai seorang putra yang diberi nama Dewang Pandan Salasih Sri Raiwana yang juga dijuluki Dang Tuanku Sultan Remendung. Kemudian ia juga mengangkat anak suami yang sekaligus putra dari dayang utamanya yang bernama Dewang Sri Ramawarna yang tersohor dengan gelar Cinderamata atau Cinduamato sebagai anak angkatnya sendiri yang kelak akan mewarisi tahta ketika kerajaan dalam keadaan kritis.

Serangan Raja Tiang Bungkuk dari Kerinci

Pada masa pemerintahannya, terjadi serangan dari Kerajaan Sungai Ngiang, di wilayah Kerinci sekarang. Serangan itu dipicu oleh perjodohan antara Kerajaan Renah Sekalawi (sekarang Rejang, Bengkulu) dengan Kerajaan Sungai Ngiang

yang pada hakikatnya merupakan pelanggaran dan pengkhianatan atas perjanjian yang telah dibuat antara Renah Sekalawi dengan Pagaruyung. Demi menyelamatkan rakyat dari pertumpahan darah yang lebih besar, Puti Panjang Rambut II sekeluarga berinisiatif untuk mengasingkan diri ke suatu negeri yang tidak diketahui oleh fihak musuhnya[5].

Referensi

Kitab-kitab Hindu


Ada beberapa kitab yang dianggap suci oleh umat Hindu, sebagai berikut:

1. Veda (baca : Weda), merupakan sastra tertua dalam sejarah peradaban manusia, disusun kembali oleh Byasa (Vyasa – hidup di sekitar abad 18 SM hingga abad 15 SM). Veda dibagi menjadi 4 bagian : Rigweda, Yajurweda, Samaweda dan Atharwaweda. Keempat weda tersebut juga disebut sebagai Sruti (Yang Didengar). Weda juga dibagi menjadi 4 lagi yaitu Samhita, Brahmana, Aranyaka dan Upanishad.

2. Vedanga (baca : Wedangga), merupakan alat bantu untuk memahami Weda. Wedangga terbagi 4 pula yaitu :

  1. Siksha (śikṣā): fonetika dan fonologi (sandhi).
  2. Chanda (chandas): irama.
  3. Vyakarana (vyākaraṇa): tata bahasa.
  4. Nirukta (nirukta): etimologi.
  5. Jyotisha (jyotiṣa): astrologi dan astronomi.
  6. Kalpa (kalpa): ilmu mengenai upacara keagamaan.

3.  Ittihasa (Kisah-kisah, Kejadian Nyata), terdiri dari Ramayana ( disusun oleh Resi Walmiki) dan Mahabarata (disusun oleh Resi Vyasa).

4. Smrti, bukan “wahyu”, melainkan sastra utama. Termasuk kedalamnya adalah:

  1. Dharmasastra, atau sastra hukum dan perundang-undangan.
  2. Itihasa, atau sejarah.
  3. Purana, sastra keagamaan.
  4. Sutra.
  5. Agama
  6. Darshana, filsafat Hindu. Yang termasuk didalamnya adalah apa yang disebut Sad Darshana, enam ajaran filsafat Hindu, yaitu:SamkhyaYogaMimamsaVaisisekaNyaya dan Vedanta.

5. Purana (Cerita Kuno), berisi mitologi dan legenda kuno.

6. Bagavad Gita (Nyanyian Tuhan), bagian dari kisah Mahabarata.

7. Sutra (Benang), berisi pepatah.

Sejarah Pariaman


Kota pelabuhan Pariaman beberapa abad lalu telah disinggahi pedagang-pedagang dari Nusantara maupun mancanegara. Saat itu orang Minangkabau di pedalaman Sumatra Barat memproduksi emas, kertas, madu, kemiri, serta hasil bumi lokal untuk dijual di pelabuhan. Awal abad ke-17, Sultan Aceh datang untuk mengusai tempat dan berikutnya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang menguasainya. Masyarakat Pariaman yang hidup menderita dalam penjajahan kemudian melakukan pemberontakan selama hampir satu abad untuk memaksa penjajah meninggalkan tempat yang indah ini.

Sejarah Pariaman sudah dimulai jauh sebelum kedatangan VOC. Catatan Tome Pires (1446-1524), yaitu pelaut Portugis dari Kerajaan Portugis di Asia mencatat adanya lalu lintas perdagangan antara India dan Pariaman, juga antara Tiku dan Barus. Pires juga mencatat perdagangan kuda di antara orang Batak dengan orang Sunda.

Menurut laporan Tomé Pires dalam Suma Oriental yang ditulis antara tahun 1513 and 1515[2], kota Pariaman ini merupakan bagian dari kawasan rantau Minangkabau. Dan kawasan ini telah menjadi salah satu kota pelabuhan penting di pantai barat Sumatera. Pedagang-pedagang India dan Eropa datang dan berdagang emaslada dan berbagai hasil perkebunan dari pedalaman Minangkabau lainnya.

Tahun 1527, dua kapal dagang Prancis membawa, Jean dan Raoul Parmentier mengunjungi Pariaman dan berlabuh di Tiku serta Indrapura. Akan tetapi kedatangan mereka tidak meninggalkan catatan signifikan di wilayah ini. Tanggal 21 November 1600, untuk pertama kalinya, Belanda datang ke Pariaman dan Tiku di bawah pimpinan Paulus Van Cardeen yang berlayar ke arah selatan dari Aceh dan Pasaman. Cornelisde Houtman, salah satu pelaut Belanda juga pernah mengunjungi Pariaman kemudian pindah keselatan yaitu Sunda Kelapa atau Jakarta sekarang.

Tahun 1662, dibuat perjanjian antara VOC dengan pemimpin Minangkabau di Padang. Perjanjian yang kemudian di sebut Perjanjian Painan itu bertujuan untuk monopoli dagang di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Sayang, rakyat Minang mengamuk pada tahun 1666 dan menewaskan perwakilan VOC di Padang bernama Jacob Gruys. Arung Palakka kemudian dikirim ke Minangkabau dalam ekspedisi yang dinamakan Ekspedisi Verspreet. Bersama pasukan Bone, ia berhasil meredam dan mematikan perlawanan rakyat Minangkabau hingga menaklukan seluruh pantai barat Sumatera, termasuk memutus hubungan Minangkabau dengan Aceh. Kekuasaan VOC diperluas hingga Ulakan di Pariaman. Di tempat inilah,Arung Palakka diangkat sebagai Raja Ulakan.

Arung Palakka sangat populer sebab berhasil menaklukan Sumatra dan membumihanguskan perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC. Arung Palakka menyimpan dua sisi diametral, di satu sisi hendak membebaskan Bone, namun di sisi lain justru menaklukan daerah lain di Nusantara

Tahun 1670, kota Pariaman berhasil direbut oleh VOC (Belanda) dari tangan Aceh. Tapi semenjak dibangunnya pelabuhan Teluk Bayur di kota Padang, maka pamor pelabuhan dan kota Pariaman menjadi mundur.

Tahun 1686, catatan W. Marsden menyebut bahwa orang Pryaman atau orang Pariaman telah melakukan kontak dengan Kerajaan Inggris. Saat itu, dipimpin Raffles, orang-orang India dalam kesatuan tentara Sepoy dari British Raj, dibawa ke kota pelabuhan tersebut. Orang-orang Sepoy dari India inilah yang kemudian memperkenalkan tradisi Muharram kepada penduduk setempat dengan nama Tabuik. Meskipun kontak tersebut tidak terlalu intensif tetapi telah meninggalkan jejak yang kemudian berkembang menjadi salah satu warisan budaya bernama Tabuik.

Tahun 1795, angkatan perang Inggeris mendarat dan segera dapat merebut pos-pos Kompeni (V.O.C) di Padang tanpa perlawanan yang berarti. Dengan jatuhnya pos-pos Belanda di Padang, maka pos-pos mereka di daerah pesisir seperti di Salido, Painan, Pariaman dan Tiku juga menyerah pada Inggeris.

 

Sumber rujukan:
1. http://oldlook.indonesia.travel/id/destination/624/pariaman

2. http://www.tempo.co/read/news/2012/11/11/198441003/Menyusuri-Sudut-Kota-Pariaman

3. http://tikamsamurai.wordpress.com/2013/02/07/giring-giring-perak-episode-parang-pariamanbagian-2/#more-911

4. http://id.wikipedia.org/wiki/Arung_Palakka

5. http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pariaman#Sejarah

Larut di Rantau


telah menjelang Bukit Pulai, tuan… lalu menurun ke Teluk Betung, oi… yang bermula kini dendang dimulai bukan untuk membawakan hati gembira) lepas dari Teluk Betung hari sedang pukul tujuh yang bernyanyi oh tuan…bukannya riang, tapi untuk penghibur hati yang rusuh) Rabu hari pasarnya Sungai Tunu ramai oleh anak Koto Gadang semenjak bulan ini muncul darah tak bisa lagi tenang, oh tuan..

turang diturang jala buruk penjala rambang di muara heranlah pandan dan durian asing ruang berlain isi Pilagan anak Punai Tanah Gila mengeram mangkuk jua Perahu diberi cadik Penyongsong riak dan gelombang Kuda melompat batu belah Turun ke lereng pendakian Dibelah betung dibelah Ambil seruas untuk tusuk gigi

Kalau kuhitung nasib yang buruk

Sebanyak rambut di kepala

Heranlah badan dengan bagian

Asing orang berlain diri

sejak secekam dari tanah

besar diangkat buruk jua

semenjak badan bisa membalik

besar ditimang nasib malang

jangan menduakan gerak Allah

suratan sudah dengan janjian

kita dibawah perintah Allah

apa yang terjadi akan didapati

kalau Painan pasar Salido ramai oleh anak orang Bayang entah pabila nasib begini akan dipisah dari yang malang Kalau Salido di tanah orang Bayang Painan pasarnya ramai Makanya ku turun dari jenjang Karena melarat di negeri kalau jadi pula pergi ke Bayang singgah sebentar di Api-api merantau jangan disangka senang kadang-kadang merusuh hati kalau jadi pula pergi ke Kambang di Surantih singgah sebentar kalau jadi besok ke rantau orang adik di kampung jelas akan ditinggal, oh adik..

kalau sudah tiba di pasar Kambang ada pula orang yang akan menjemput mengajak ke Padang Marapalam kalau tiba besok adik di rantau orang hidup umpama limau hanyut entah dimana tempat bermalam, oh adik… kalau lepas dari Air Haji hendak menjelang ke Negeri Lunang sudah kulihat ke badan diri siang tersiksa malam tak senang, oh tuan..

kalau lepas dari Siguntur hendak menjelang Sungai Lundang orang tercinta ke yang mujur kita terpinta ke yang malang mobil bernama si Erlindo kembali menambang dari Bayang daripada di rantau badan sengsara baik balik kita ke kampung, oh ibu… video disini : http://www.youtube.com/watch?v=jeSuySu0vfE